Warisan Yang Dirampas

1373 Kata
Pagi itu, langit Jakarta tampak cerah, seolah tak tahu bahwa dunia Evelyn Celeste sedang runtuh perlahan. Di ruang kerja rumahnya, Evelyn duduk di depan meja kayu mahoni milik mendiang ayahnya. Aroma kopi yang tak tersentuh menguap pelan, dan berkas-berkas yang ditinggalkan Andrew berserakan di hadapannya. Dia mengenakan blus putih dan celana panjang hitam, rambutnya digulung rapi, tapi wajahnya tak menyimpan ketenangan. Matanya menelusuri dokumen-dokumen legal yang baru saja dikirim oleh tim hukum perusahaan. Surat wasiat. Struktur saham. Surat kuasa. Semua tertata rapi, tapi isinya... mengoyak jiwanya. Evelyn membaca ulang satu kalimat yang membuat napasnya tercekat: ‘Pemegang saham mayoritas: Daniel Lewis – 51%.’ Tangannya gemetar. Evelyn membuka dokumen lain, mencari namanya. Tapi yang ia temukan adalah kejutan yang lebih menyakitkan. ‘Saham atas nama Evelyn Celeste telah dialihkan kepada Daniel Lewis, sesuai dokumen pengalihan yang ditandatangani pada tanggal 12 Februari, tahun lalu.’ Evelyn menatap tanggal itu. Dia masih berada di Inggris saat itu. Dia tidak pernah menandatangani apa pun. Tidak pernah menyetujui pengalihan saham. Tidak pernah tahu bahwa warisan yang seharusnya menjadi miliknya telah berpindah tangan—kepada pria yang kini bahkan tak bisa menatap matanya dengan jujur. “Ini... tidak mungkin,” ucap Evelyn, pelan. Ia menghubungi Edwin Fernandez, sekretaris pribadi ayahnya. “Pak Ed, saya baru saja membaca dokumen saham. Kenapa nama saya tidak tercantum sebagai pemegang saham? Kenapa semuanya atas nama Daniel?” Suara Edwin terdengar berat di ujung telepon. “Saya... saya tidak tahu, Nona. Tapi saya ingat, Tuan Andrew sempat menyuruh bagian legal untuk meninjau ulang struktur saham tahun lalu. Katanya untuk perlindungan aset keluarga.” “Perlindungan?” Evelyn tertawa pahit. “Kalau ini perlindungan, kenapa saya justru kehilangan semuanya?” Edwin terdiam. “Sebenarnya... sebelum Tuan Andrew meninggal, beliau baru saja meminta saya untuk menyelidiki masalah ini. Saya belum sempat mencari tahu karena tidak lama Tuan Andrew meninggal, tapi karena ini masalah serius saya akan cari tahu lebih lanjut, Nona. Informasi terakhir yang saya dapat... saya rasa Tuan Andrew tidak tahu bahwa Daniel menyelipkan dokumen pengalihan di antara berkas-berkas legal yang ditandatangani atas nama Evelyn.” Evelyn membeku. “Maksud Anda... tanda tangan saya dipalsukan?” Edwin menghela napas. “Saya tidak berani menyimpulkan. Tapi saya tahu satu hal, Pak Daniel punya akses ke semua dokumen saat Anda di luar negeri.” Evelyn menutup telepon. Dunia di sekelilingnya terasa sempit. Ia bangkit dari duduknya, melangkah mendekati jendela, menatap taman belakang yang dulu menjadi tempat ia bermain bersama ibunya. Tempat ayahnya pernah mengajarinya membaca laporan keuangan untuk pertama kali. Tempat itu penuh dengan kenangan yang sulit untuk Evelyn lupakan. Kini, semua itu terasa seperti mimpi yang dicuri. Dia kehilangan ibunya, dan kini dia juga kehilangan ayahnya. Evelyn benar-benar merasa sendirian. *** Sore itu, Evelyn datang ke kantor pusat Celeste Corporation. Para eksekutif menyambutnya dengan wajah canggung. Beberapa mengucapkan belasungkawa, beberapa lainnya hanya menunduk, seolah tahu bahwa badai sedang mendekat. Di ruang rapat utama, Daniel duduk di kursi yang dulu ditempati Andrew. Dia mengenakan jas abu-abu, wajahnya tenang, senyumnya tipis. “Selamat datang, Evelyn,” ucapnya. “Kita akan mulai rapat pemilihan CEO baru.” Evelyn menatapnya tajam. “Kamu tidak pantas duduk di kursi itu.” Daniel tersenyum. “Tapi aku pemegang saham mayoritas sekarang. Dan sesuai aturan perusahaan, aku berhak mencalonkan diri.” Evelyn berdiri. “Kamu mencuri sahamku. Kamu memalsukan tanda tanganku. Itu ilegal, Daniel. Kamu licik, kursi itu tidak pantas untukmu.” Daniel menatap Evelyn dengan senyum remeh, lalu berkata pelan, “Buktikan.” Ruangan hening. Para eksekutif saling pandang. Tak ada yang berani bicara. Evelyn menatap mereka satu per satu. “Kalian tahu siapa yang membangun perusahaan ini. Kalian tahu siapa yang berdiri di balik kesuksesan Celeste Corporation. Kakek saya. Ayah saya. Dan saya. Bukan dia. Prestasi apa yang sudah dia sumbangkan untuk perusahaan? Tidak ada.” Daniel berdiri. “Tapi sekarang, saya pemegang saham tertinggi, artinya saya yang punya kendali. Dan saya akan membawa perusahaan ini ke arah yang lebih modern. Lebih... realistis.” Evelyn melangkah mendekat, suaranya bergetar. “Kamu tidak mencintai perusahaan ini. Kamu hanya mencintai kekuasaan dan uang. Dan itu hanya akan membawa perusahaan pada kehancuran.” Daniel menatap Evelyn, lalu berbicara dingin, “Kamu terlalu emosional. Itu sebabnya kamu tidak cocok memimpin.” Evelyn menatapnya lama. Dan berkata pelan, tapi tegas, “Kalau kamu pikir aku akan diam, kamu salah besar.” Tak lama kemudian, pemilihan CEO baru berlangsung. Ruang rapat utama Celeste Corporation dipenuhi ketegangan yang tak terlihat. Para eksekutif duduk berjajar, sebagian menatap Evelyn dengan harapan, sebagian lagi melirik Daniel dengan ambisi. Suara ketukan pena, bisikan pelan, dan desahan napas memenuhi udara. Setelah semua suara dikumpulkan, ketua dewan berdiri, suaranya tegas namun diplomatis. “Karena dukungan terhadap dua kandidat utama—Evelyn Celeste dan Daniel Lewis—berada dalam posisi seimbang, maka pemilihan CEO akan ditunda selama satu minggu. Kami harap masing-masing kandidat dapat menggunakan waktu ini untuk menyampaikan visi dan klarifikasi yang diperlukan.” Evelyn menatap Daniel. Pria itu tersenyum tipis, seolah kemenangan sudah di tangannya. Tapi Evelyn tidak gentar. Dia akan berusaha keras, satu minggu bukan hanya waktu untuk kampanye. Ini adalah waktu untuk membongkar kebusukan Daniel. *** Malam itu, Evelyn duduk di ruang kerja mendiang ayahnya. Lampu meja menyala redup, berkas-berkas berserakan, dan di hadapannya, Edwin Fernandez berdiri dengan ekspresi tegang. “Saya sudah cek ulang dokumen pengalihan saham,” kata Edwin. “Ada satu hal yang janggal, persis seperti dugaan saya.” Evelyn menatapnya. “Apa itu?” “Surat pengalihan atas nama Anda... menggunakan tanda tangan digital yang tidak terdaftar di sistem legal perusahaan. Saya yakin itu bukan milik Anda.” Evelyn tercekat. “Berarti benar Daniel memalsukan tanda tangan saya,” ucapnya lirih, tidak menyangka Daniel akan bertindak seperti itu. Pria yang dia percaya benar-benar mengkhianatinya dengan sangat kejam. Bukan hanya selingkuh, Daniel juga berniat merebut miliknya. Jika Evelyn tidak memperjuangkan perusahaan, dia akan merasa bersalah pada ayahnya. Dulu ayahnya menolak pria itu, tapi Evelyn keras kepala ingin menikahinya, dan sekarang dia menelan penyesalan yang sangat pahit. Edwin menghela napas. “Tapi kita butuh bukti yang lebih kuat. Saya sudah menghubungi bagian IT untuk menelusuri log aktivitas dokumen itu. Kalau kita bisa buktikan bahwa Daniel mengaksesnya dari akun internal, kita bisa menjatuhkan mereka.” Evelyn berdiri, dia berjalan mendekati jendela. Hujan di luar sana turun perlahan, membasahi kaca jendela di depannya. Evelyn menatap bayangannya. Sosok wanita yang hancur lebur tapi harus tetap berdiri tegak. “Ayah selalu bilang, jangan pernah percaya pada orang lain. Dan sekarang, itu terbukti.” *** Selama seminggu itu, Evelyn bekerja tanpa henti. Ia menyelidiki setiap transaksi mencurigakan, setiap email yang pernah dikirim Daniel, setiap jejak digital yang bisa mengarah pada manipulasi. Sampai akhirnya dia menemukan satu email yang dikirim Daniel ke bagian legal, berisi permintaan revisi dokumen pengalihan saham. Tapi yang lebih mencurigakan, email itu dikirim dari akun Emma—menggunakan perangkat Daniel. “Ini bisa jadi bukti,” ujar Edwin. Evelyn menatap layar laptop. “Emma? Tidak mungkin dia....” “Ingat perkataan ayah Anda, Nona,” sela Edwin. “Jangan percaya pada siapa pun.” Evelyn terdiam. Butuh beberapa detik baginya untuk mencerna semua kejutan ini. Sampai akhirnya dia kembali bicara. “Kita butuh saksi. Seseorang dari bagian legal yang bisa bersaksi bahwa mereka ditekan atau dimanipulasi.” Edwin mengangguk. “Saya akan cari tahu.” * Di hari keempat, Evelyn tiba-tiba menerima pesan anonim dari seseorang. ‘Kalau kamu ingin tahu siapa yang menyuruh bagian legal memalsukan dokumen, cari di ruang arsip lantai 17. Laci ketiga. Ada rekaman suara.’ Evelyn tidak tahu siapa pengirimnya. Tapi ia mengikuti petunjuk itu. Di ruang arsip yang gelap dan berdebu, ia benar-benar menemukan sebuah flashdisk kecil, tersembunyi di antara berkas lama. Evelyn segera membawanya pulang. Sesampainya di rumah, dia memasukkan flashdisk itu ke laptop, dan memutar isinya. Saat suara rekaman itu terdengar, Evelyn langsung mengenalinya, itu suara Emma, terdengar jelas. “Kamu hanya perlu mengganti nama di dokumen itu. Evelyn tidak akan tahu. Daniel sudah setuju. Lagi pula, dia suaminya. Hak milik itu bisa dialihkan. Kita hanya butuh tanda tangan digital. Aku akan urus sisanya.” Evelyn menutup laptop. Tangannya gemetar. Tidak menyangka kalau wanita itu ikut terlibat juga. Padahal dia sudah menganggap Emma seperti adiknya sendiri. Tapi ternyata kebaikannya justru dibalas dengan pengkhianatan keji. “Untuk apa kamu melakukan ini, Em?" gumam Evelyn, perasaannya hancur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN