Langit malam menggantung kelabu di atas rumah keluarga Celeste, seolah ikut menyimpan rahasia yang tak terucap. Hujan telah reda, tapi aroma tanah basah masih melekat di udara. Di dalam rumah, keheningan terasa seperti dinding tak kasat mata yang memisahkan masa lalu dan masa depan.
Daniel kembali malam itu, setelah beberapa hari tidak pulang ke rumah. Tapi sepertinya dia datang bukan untuk berdamai, bukan pula untuk menjelaskan apa pun. Dia datang hanya untuk satu hal, yaitu mengambil barang-barangnya.
Evelyn mendengar suara mobil memasuki pekarangan rumah, dia mengintip dari jendela kamarnya. Mobil Daniel. Evelyn langsung turun dari lantai atas, mengenakan sweater abu-abu dan celana panjang hitam, wajahnya tanpa riasan, tapi sorot matanya tajam.
“Aku pikir kamu tidak akan menginjakkan kakimu di rumah ini lagi.”
Daniel sudah masuk ke ruang tamu. “Aku hanya mau ambil barang-barangku,” katanya tanpa menoleh.
“Kau bisa ambil semuanya,” jawab Evelyn, suaranya dingin. “Karena setelah ini, aku akan menggugatmu cerai.”
Daniel menoleh, menatapnya dengan senyum tipis yang lebih mirip ejekan. “Gugatan cerai? Silakan. Aku tidak peduli.”
Evelyn mengatupkan rahangnya. “Kamu tidak akan berhasil, Daniel. Aku pastikan kamu tidak akan mendapatkan apa pun.”
Daniel hanya mengangkat bahu. “Kita lihat nanti.”
Dia kembali melangkah, menaiki tangga dengan langkah malas. Evelyn mengikutinya dari kejauhan, bukan karena ingin melihatnya mengambil barang, tapi karena hatinya belum selesai bicara.
Langkah Daniel terhenti di tengah tangga. Dari atas, Emma turun perlahan, mengenakan blouse lembayung yang familiar. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya tenang, seolah tak terjadi apa-apa.
Mereka berpapasan. Daniel menatap Emma. Emma menatap Daniel. Dan di antara mereka, ada senyum kecil yang hanya berlangsung sepersekian detik—tapi cukup untuk menusuk Evelyn seperti belati.
Evelyn berdiri di bawah tangga, menyaksikan semuanya. Dadanya sesak. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, sesuatu yang tak bisa ia jangkau... sampai akhirnya, potongan gambar itu muncul di benaknya.
Blouse lembayung.
Ia pernah melihatnya. Di foto yang diberikan Marcus. Foto yang memperlihatkan Daniel bersama seorang wanita di hotel. Wajah wanita itu memang tidak terlihat jelas, tapi Evelyn ingat warna bajunya. Lembayung. Sama persis... seperti yang dipakai Emma. Sekarang Evelyn mengingatnya dengan sangat jelas.
Dunia Evelyn berputar. Dia merasa mual. Nafasnya tercekat. Suara-suara di sekelilingnya terasa memudar. Ia menatap Emma yang kini menuruni tangga dengan langkah ringan, seolah tak membawa beban apa pun.
Jadi, wanita yang dibawa Daniel ke kamar hotel malam gala itu... adalah Emma.
Evelyn mundur satu langkah, lalu satu langkah lagi. Sampai akhirnya dia berbalik, melangkah cepat ke kamar ayahnya, menutup pintu dan menguncinya. Tangannya gemetar saat memutar kunci. Dia bersandar di balik pintu, lututnya terasa lemas, saat itu juga tubuhnya melorot ke lantai.
Tangisnya pecah.
Hatinya hancur bukan hanya karena dikhianati. Tapi juga karena semuanya terasa seperti jebakan yang ia biarkan tumbuh di dalam rumahnya sendiri.
Dulu... dia yang membuka pintu untuk Emma. Dia juga yang memilih Daniel. Dia selalu percaya bahwa cinta dan kebaikan bisa membawa kebahagiaan. Tapi ternyata itu semua hanya sebuah kebodohan.
Andai saja dulu dia tidak menolak perjodohan itu. Andai saja ia tidak jatuh cinta pada pria yang hanya melihatnya sebagai batu loncatan. Andai saja dia tidak menyambut Emma dengan tangan terbuka.
Tangisan Evelyn berubah menjadi isakan kecil. Dengan tubuh gemetar, dia memeluk lututnya sendiri. Seperti anak kecil yang jatuh dari pohon.
Di luar, dunia tetap berjalan. Tapi di dalam kamar itu, Evelyn merasa seperti gadis lima belas tahun yang baru saja kehilangan ibunya—sendirian, bingung, dan patah.
***
Pagi itu, mendung menyelimuti kawasan Westbridge, angin berembus pelan, membawa aroma hujan yang belum turun. Evelyn berdiri di ambang pintu kamar Emma, tangannya mengepal, napasnya berat. Di dalam, Emma sedang menyisir rambutnya di depan cermin, seolah dunia tak berubah.
Evelyn mengetuk pintu sekali. Lalu membuka pintu itu tanpa menunggu izin dari si pemilik kamar.
Emma menoleh saat melihat Evelyn masuk ke dalam kamarnya, dia menatap Evelyn dengan ekspresi tenang.
“Ada apa?”
Evelyn melangkah mendekat, menatap Emma tanpa basa-basi. “Kita perlu bicara.”
Emma meletakkan sisirnya, lalu duduk di tepi ranjang. “Tentang apa?”
Evelyn memutar rekaman suara Emma yang sudah dia simpan di ponselnya. “Tentang ini.”
Emma mendengarkan dengan wajah yang masih terlihat tenang.
“Ini jelas suaramu. Kamu menyuruh bagian legal memalsukan dokumen. Kamu mencuri sahamku. Kamu... menghancurkan kepercayaan yang selama ini aku berikan.”
Emma berdiri, dia tertawa kecil, lalu melangkah pelan ke jendela. “Kamu ingin tahu kenapa?”
Evelyn menatap punggung Emma. “Aku ingin tahu semuanya.”
Emma terdiam sejenak. Pandangannya lurus ke depan, menatap langit yang semakin gelap. Kemudian dia berkata pelan, “Aku bukan anak angkat.”
Evelyn mengernyit. “Apa maksudmu?”
Emma berbalik, matanya tajam menatap Evelyn. “Aku anak kandung Andrew Celeste. Aku lahir dari seorang wanita yang dulu bekerja sebagai pembantu di rumah ini. Ibuku meninggal saat melahirkanku. Dan ayahmu... menyembunyikan aku dari dunia. Terutama dari ibumu dan kamu. Juga dari semua orang.”
Evelyn membeku. “Tidak... tidak mungkin. Ayah tidak pernah bilang kalau....”
“Tentu saja dia tidak pernah cerita padamu tentang masalah ini. Tahu kenapa? Tentu saja karena dia malu,” potong Emma. “Karena aku bukan anak dari wanita terhormat seperti ibumu. Aku seperti aib baginya, lahir dari kesalahan. Tapi aku tetap darahnya. Dan aku punya hak yang sama.”
Evelyn melangkah mundur. “Jadi... selama ini kamu tahu kalau kamu anak kandung ayahku?”
Emma mengangguk. “Sejak aku dibawa ke rumah ini. Aku tahu siapa aku. Tapi aku juga tahu siapa kamu. Satu-satunya putri Celeste yang diakui dinia. Yang dicintai. Yang selalu jadi pusat perhatian. Sementara aku... hanya bayangan.”
Evelyn menatap Emma, matanya tampak berkaca-kaca. “Tapi aku menyambutmu, Emma. Aku menyayangimu. Aku ingin kamu jadi bagian dari keluarga Celeste. Kalau pun saat itu ayah berkata jujur, aku akan tetap menerimamu sebagai adikku.”
Emma tersenyum pahit. “Itu yang membuatku semakin benci padamu, Evelyn. Kamu terlalu baik. Kamu naif. Terlalu sempurna. Karena itu aku ingin hidupmu hancur.”
Evelyn terdiam. Kata-kata Emma menusuk lebih dalam dari yang ia bayangkan. Seketika dia kembali merasa mual. Kepalanya berdenyut pening.
“Jadi karena itu kamu tidur dengan suamiku?” tanya Evelyn pelan.
Emma menatapnya. “Sebenarnya aku tidak begitu mencintainya. Tapi aku tahu dia rapuh. Dan aku tahu... kamu akan hancur kalau dia berpaling darimu.”
Evelyn menutup mata. Air matanya jatuh. “Kamu berhasil, Emma. Kamus benar-benar menghancurkan semuanya. Bukan hanya aku. Tapi juga warisan Ayah. Kepercayaanku. Dan terutama keluarga kita.”
Emma mendekat, dia berbicara dengan nada dingin. “Keluarga kita? Aku tidak merasa pernah punya keluarga. Aku hanya punya luka. Dan sekarang... aku ingin mengambil semua yang kamu miliki.”
Evelyn menatap Emma dengan sorot tegasnya. “Kamu pikir dengan mencuri, kamu bisa menggantikan aku?”
Emma tersenyum miring. “Aku tidak perlu menggantikanmu. Aku hanya perlu menghapusmu dari hati semua orang.”
Evelyn melangkah mundur, lalu berkata pelan, “Kamu salah. Aku tidak akan diam saja. Aku tidak akan membiarkan kalian berhasil mendapatkan apa yang kalian mau.”
Emma menatap Evelyn remeh. “Silakan saja, aku ingin lihat seberapa kuat dan tangguhnya dirimu melawanku dan Daniel, sen-di-rian.”