Ruang rapat utama Celeste Corporation dipenuhi aroma formalitas yang dingin. Dinding kaca memantulkan langit mendung Jakarta, seolah tahu bahwa hari ini bukan sekadar pemilihan CEO—ini adalah medan perang. Para eksekutif duduk berjajar, mengenakan jas terbaik mereka, tapi sorot mata mereka penuh waspada.
Di ujung meja, Daniel duduk dengan percaya diri. Jas abu-abu, dasi gelap, senyum tipis yang tak pernah benar-benar hangat. Di seberangnya, Evelyn duduk tegak, mengenakan setelan hitam elegan, rambut disanggul rapi, wajahnya tenang tapi matanya menyimpan badai yang terpendam.
Ketua dewan berdiri. “Hari ini kita akan melanjutkan pemilihan CEO Celeste Corporation. Dua kandidat telah mengajukan visi mereka. Evelyn Celeste, putri mendiang Andrew Celeste. Dan Daniel Lewis, pemegang saham mayoritas saat ini.”
Evelyn menatap Daniel. Daniel menatap balik, pria itu tersenyum miring, senyumnya seperti bayangan yang menari di atas luka.
Saat suara pemungutan akan dimulai, pintu ruang rapat terbuka. Seorang wanita masuk dengan wajah angkuh. Langkah sepatu hak tingginya menggema. Semua kepala langsung menoleh ke arahnya.
Emma.
Dia mengenakan gaun hitam satin, rambutnya digelung sempurna, wajahnya tenang seperti malam sebelum badai besar. Dia berdiri di tengah ruangan, lalu menatap seluruh dewan.
“Aku minta waktu lima menit,” katanya.
Ketua dewan mengernyit. “Maaf, rapat ini tertutup untuk umum, kecuali kandidat, direksi, dan pemegang saham dilarang masuk.”
Emma tersenyum. “Saya adalah salah satu pemegang saham di sini. Tapi saya datang bukan untuk mencalonkan diri. Saya datang untuk memberitahu sesuatu.”
Evelyn diam memperhatikan. Daniel yang merupakan sekutu Emma justru kaget dengan kehadiran wanita itu.
Emma melangkah ke depan, lalu menatap semua orang. “Nama saya Emma Thompson. Tapi itu bukan nama yang seharusnya saya bawa. Saya adalah anak kandung Andrew Celeste. Lahir dari seorang wanita yang dulu bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga ini. Saya disembunyikan selama bertahun-tahun. Walaupun latar belakang saya terdengar meragukan. Tapi saya tetap keturunan Andrew Celeste.”
Ruangan seketika hening. Beberapa eksekutif saling pandang, mencerna perkataan Emma yang terdengar seperti omong kosong. Beberapa lainnya menatap Evelyn, seolah menunggu reaksi dari wanita itu.
Evelyn menghela napas pelan, dia berdiri dari duduknya, menatap Emma dengan raut tenang. “Kamu pikir dengan mengaku sebagai anak Andrew Celeste, kamu bisa merebut semuanya?”
“Aku tidak berniat merebut apa pun, Evelyn. Lebih dari itu aku ingin diakui. Aku ingin mendapatkan hak yang sama seperti yang selama ini kau nikmati sendirian,” tukas Emma.
Daniel berdiri. “Emma, ini bukan waktunya—”
“Diam, Daniel. Kamu hanya pion. Aku yang mengatur langkahmu. Kamu pikir kamu bisa berdiri di sini tanpa aku?” Emma menyela dengan angkuh.
Daniel terdiam.
Evelyn melangkah ke tengah ruangan, berdiri di antara Emma dan Daniel. “Kalian berdua telah menghancurkan kepercayaan, mencuri warisan, dan menginjak nama keluarga ini. Tapi kalian lupa satu hal—aku tidak akan diam saja.”
Pertengkaran itu membuat atmosfer terasa panas. Ketua dewan berdiri saat dia merasa suasana sudah tidak lagi kondusif.
“Nona Celeste.”
Evelyn menoleh, begitu juga dengan Emma yang merasa bahwa dia juga merupakan bagian dari keluarga Celeste.
“Jujur saja pertengkaran keluarga kalian sangat memalukan. Rapat ditunda sampai masalah selesai. Kami para direksi akan meninjau ulang struktur kepemilikan dan legalitas pengalihan saham.”
Emma tersenyum. “Silakan, Tuan Kennedi Johnson. Saya tidak keberatan.”
Pria tua itu tidak menanggapi, dia melangkah pergi dari ruang rapat, diikuti pengawal pribadi serta asisten pribadinya.
Setelah ketua dewan keluar, para direksi dan pemegang saham inti juga turut meninggalkan ruangan.
“Sampai ketemu nanti, Ka-kak,” ucap Emma, kemudian berlalu pergi.
Daniel menatap Evelyn sejenak, sebenarnya perasaan itu masih ada, tapi dia sudah terlanjur masuk ke dalam jurang yang dibuat oleh Emma.
“Besok surat gugatan ceraiku mungkin akan kamu terima,” ujar Evelyn, tahu kalau Daniel menatapnya.
Daniel menghela napas, kemudian dia berlalu pergi menyusul Emma.
Saat semua orang keluar dari ruang rapat, Evelyn berdiri sendiri di tengah ruangan. Ia menatap kursi ayahnya yang kini kosong. Di belakangnya, bayangan Emma dan Daniel menjauh.
***
Langit Westbridge sore itu diselimuti mendung pekat. Musim hujan kali ini terasa lebih dingin dari biasanya. Udara lembap menyentuh kulit seperti kenangan yang enggan pergi. Di pemakaman keluarga Celeste, dua nisan berdiri berdampingan, dikelilingi bunga lili putih yang mulai layu. Di atas tanah yang masih basah, daun-daun gugur diam-diam, seolah ikut berkabung atas duka yang sedang meradang.
Evelyn berdiri di sana, mengenakan gaun abu-abu panjang dan syal abu-abu yang melilit lehernya. Rambutnya tergerai ditiup angin, dan di tangannya, ia menggenggam dua tangkai bunga krisan putih.
Dia melangkah pelan, lututnya terasa berat, seolah setiap langkah adalah perjalanan menembus waktu. Di hadapannya, dua nama terukir di batu.
Shopia Wilson Celeste
Andrew Celeste
Evelyn berlutut perlahan, meletakkan bunga di antara dua makam itu. Tangannya menyentuh tanah yang dingin, dan matanya menatap dua nisan itu lama, seolah berharap mereka bisa menjawab semua pertanyaannya.
“Ayah... Mommy...” suaranya nyaris tak terdengar, pecah oleh angin. “Aku lelah.”
Ia menunduk, air matanya jatuh perlahan. “Aku sudah berusaha untuk tetap kuat. Aku juga sudah mencoba menjadi seperti yang kalian harapkan. Tapi... semuanya terasa seperti perang yang tidak pernah selesai. Ini... terlalu berat untukku melawan mereka sendirian.”
Evelyn menarik napas, lalu menatap nisan ibunya dengan derai air mata yang mengalir deras. “Mom... andai Mommy masih di sini. Mungkin aku tidak akan merasa sendirian seperti ini. Mungkin saat itu aku tidak akan membuat pilihan yang salah. Aku memilih laki-laki bodoh itu. Aku pikir dia tulus padaku. Tapi ternyata... dia menjadi salah satu orang yang ingin menghancurkanku.”
“Dan Ayah....” Evelyn berpindah menatap nisan ayahnya. “Aku tahu Ayah menyimpan banyak hal dariku. Terutama rahasia tentang Emma. Aku tahu... Ayah menyembunyikannya dari dunia karena ingin melindungiku. Aku tidak marah. Aku hanya... sedikit kecewa.”
Angin berembus lebih kencang. Evelyn memeluk tubuhnya sendiri, seolah mencoba menahan dunia yang terlalu dingin, sendirian.
“Ayah, Mommy... aku janji. Aku tidak akan menyerah. Aku akan melindungi apa yang kalian bangun. Aku akan melawan mereka. Bukan karena aku ingin membalas dendam, bukan juga demi harta dan kekuasaan. Tapi karena aku ingin mempertahankan apa yang sudah kalian tinggalkan padaku.”
Evelyn berdiri perlahan, mengusap air matanya yang membekas di pipi. “Doakan aku dari sana. Karena aku akan berdiri sendirian melawan mereka.” Dia menatap dua nisan itu sekali lagi, lalu berbalik, melangkah pergi. Tapi kali ini, langkahnya lebih tegak, dan lebih pasti.
Dari dua nama yang terukir di batu, Evelyn seolah menemukan kembali siapa dirinya.
Putri Celeste, yang lahir dari cinta dan kehormatan.
Dan kini, dia adalah harapan terakhir untuk menjaga nama baik Celeste.