Darah Kotor Celeste

961 Kata
Langit sore hampir ditelan malam saat Evelyn melangkah masuk ke rumah keluarga Celeste. Hujan baru saja reda, dan aroma tanah basah masih melekat di udara. Sepatu haknya menyentuh lantai marmer dengan bunyi pelan, tapi hatinya berdetak keras. Ia baru pulang dari makam orang tuanya, membawa janji yang ia bisikkan di antara dua nisan, bahwa ia akan melindungi warisan mereka, meski harus berdiri sendirian. Saat Evelyn melewati ruang tamu, langkahnya mendadak terhenti. Di sana, di sofa panjang, Emma dan Daniel duduk berduaan. Tawa kecil Emma terdengar, tangan Daniel merangkulnya dengan santai. Di meja, dua cangkir teh masih mengepulkan aroma hangat, seolah mereka sedang menikmati sore yang damai. Evelyn berdiri mematung. Matanya menatap mereka tanpa berkedip. Tubuhnya membeku, tapi darahnya mendidih. Emma menoleh, lalu tersenyum. Senyum yang tidak lagi menyembunyikan apa pun. “Oh, kamu sudah pulang,” katanya dengan santai, seolah Evelyn hanya tamu yang tak penting. Daniel menatap Evelyn, lalu bersandar santai. “Kami hanya ngobrol. Kamu tidak keberatan, kan?” Evelyn tidak menjawab. Ia melangkah pelan ke tengah ruangan, berdiri di hadapan mereka. Matanya menatap Daniel, lalu Emma. Lalu kembali ke Daniel. “Kalian benar-benar tidak tahu malu,” ucapnya pelan. Emma menyilangkan kaki, senyumnya melebar. “Terserah apa katamu. Kami hanya... tidak ingin bersembunyi lagi.” “Kamu sudah tahu semuanya. Jadi untuk apa kami sembunyikan?” timpal Daniel, menatap Evelyn tanpa dosa. “Kamu keterlaluan, Dan.” Evelyn mengepalkan kedua tangannya. Amarahnya membara. Dia ingin berteriak. Dia ingin melempar sesuatu dan menghancurkan wajah-wajah yang kini duduk di hadapannya dengan tenang. Tapi... Evelyn menahan emosinya. Dia memilih tidak melakukan apa pun yang diperintah oleh otaknya. Evelyn berdiri tegak. Diam. Matanya menyala, tapi bibirnya terkunci. Emma bangkit dari duduknya, dia melangkah mendekat, menatap remeh pada Evelyn. “Kamu bisa marah. Kamu bisa menangis kalau kamu mau. Tapi... kamu tidak bisa mengubah kenyataan. Daniel sekarang memilihku. Dan kamu... hanya sisa dari masa lalunya.” Evelyn menatap Emma tajam, lalu berkata pelan, “Kamu salah, Emma. Aku bukan sisa. Aku adalah fondasi. Dan fondasi tidak akan pernah runtuh hanya karena dua orang memutuskan bermain kotor di atasnya.” “Oh, itu kata-kata yang bagus untuk menghibur dirimu sendiri,” ejek Emma. Daniel ikut berdiri, menatap Evelyn seperti seseorang yang tidak pernah dia cintai. Hati pria ini sudah digelapkan oleh harta dan kekuasaan. “Menyerahlah, Evelyn. Kamu tidak bisa melawan kami. Kamu sendirian,” ujar Daniel, seolah peduli. Evelyn tersenyum miris. “Sendirian bukan berarti lemah, Daniel. Kadang, yang berdiri sendiri... justru yang paling sulit dijatuhkan,” tukasnya. Dia lantas berbalik, melangkah pergi dari ruang tamu. Tapi sebelum ia naik ke lantai atas, ia menoleh sekali lagi ke arah Emma dan Daniel. “Terima kasih,” katanya pelan. “Karena kalian telah menunjukkan wajah kalian yang sebenarnya. Sekarang aku tahu... siapa yang harus aku hancurkan lebih dulu.” Ruang tamu rumah keluarga Celeste dipenuhi ketegangan yang tak terlihat. Udara terasa berat, seolah dinding-dinding menyerap amarah yang tak terucap. Evelyn menatap tajam Emma dan Daniel yang berdiri seperti dua bayangan yang tumbuh dari luka yang ia pelihara selama bertahun-tahun. “Tunggu saja kejutan apa yang akan aku berikan pada kalian,” tegas Evelyn, kemudian berbalik, kembali melangkahkan kakinya menuju tangga. Tapi langkahnya terhenti saat suara Emma menyusul dari belakang. “Kamu ingin tahu kenapa Ayah tiba-tiba terkena serangan jantung dan meninggal?” Evelyn membeku. Kakinya seketika berhenti bergerak. Kalimat itu menusuk seperti belati. Ia perlahan berbalik, menatap Emma dengan mata yang dipenuhi amarah. “Apa maksudmu?” tanya Evelyn. Emma tersenyum miring, dia melangkah pelan mendekati Evelyn yang membeku di dekat tangga. “Sebelum Ayahmu meninggal, aku menemuinya di ruang kerja. Kamu mau tahu apa yang aku katakan padanya?” “Emma, cukup.” Daniel sepertinya tidak setuju dengan konfrontasi Emma kali ini. Tapi Emma tidak berhenti, dia kembali berbicara. “Aku bilang padanya bahwa aku sebagai anak kandungnya harus memiliki hak waris yang sama denganmu. Aku juga bilang bahwa aku dan Daniel berselingkuh, lalu kami bersekutu dan akan mengambil alih perusahaan. Terakhir, aku bilang kalau Evelyn, anak kesayangannya... sudah tidak punya tempat lagi.” Evelyn melangkah maju, suaranya gemetar. “Kamu berkata seperti itu pada ayah?!” Emma tertawa, hatinya sepertinya sudah terlalu gelap untuk memiliki empati. “Ya. Kenapa? Aku hanya bicara jujur padanya. Dan saat itu dia hanya... terdiam. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar. Lalu dia... jatuh. Begitu saja. Seperti tubuh yang kehilangan jiwa.” Evelyn mengatupkan mulutnya, tidak percaya kalau Emma ternyata memiliki hati seburuk iblis. “Jadi kamu... kamu yang membuatnya....” Emma menatap Evelyn sinis, dia kembali berbicara, dengan nada yang terkesan dingin. “Aku hanya berkata jujur. Kalau itu membuatnya mati... mungkin karena dia tidak cukup kuat untuk menghadapi kenyataan.” Evelyn tidak bisa lagi menahan diri. Dia melangkah cepat, mendekati Emma, dan dengan tangan yang gemetar oleh amarah, ia menampar wajah wanita itu keras. PLAK! Suara tamparan menggema di ruangan. Emma terhuyung, wajahnya memerah, tapi matanya tetap menatap Evelyn dengan api yang tak padam. Daniel mendekat. “Evelyn, hentikan!” Evelyn menatap Daniel, air matanya jatuh. “Kalian berdua... kalian bukan hanya menghancurkan aku. Kalian membunuh Ayahku. Kalian membunuh satu-satunya orang yang peduli padaku.” Emma menyeka darah di sudut bibirnya. “Dia terlalu lemah. Dan salahnya sendiri tidak pernah mengakui aku. Dia pantas tahu siapa aku sebelum dia mati.” Evelyn melangkah mundur, tubuhnya gemetar. “Kamu bukan darah Celeste, Emma. Pantas saja Ayah menyembunyikanmu. Karena kamu adalah penjahat. Dan sekarang... aku pastikan kamu akan membayar apa yang sudah kamu perbuat, Emma.” "Kamu juga, Daniel. Aku akan membuat kalian berdua mendekam di balik jeruji besi. Dan kekuasaan yang kalian impikan, tidak akan pernah kalian dapatkan," tegas Evelyn. Dengan langkah tegak, Evelyn berjalan menuju pintu keluar rumah. Di belakangnya, Emma dan Daniel terdiam. Mereka tidak tahu bahwa wanita yang baru saja mereka remehkan... sedang menyiapkan badai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN