Kembalinya Nona Celeste: Pengkhianatan

1271 Kata
Langkah Evelyn bergema. Sepatu haknya menghantam lantai marmer dengan irama kemarahan yang tak bisa lagi disembunyikan. Matanya menyala, napasnya berat, dan tubuhnya gemetar, bukan karena takut—tapi karena amarah yang sudah tidak bisa ditahan. Dia melangkah menuju pintu depan, tangannya sudah menyentuh gagang. Tapi sebelum ia sempat membukanya, suara Daniel terdengar dari belakang. “Evelyn, tunggu!” Evelyn menoleh dengan tatapan tajam. “Apa lagi?” Daniel melangkah cepat, berdiri di antara Evelyn dan pintu. “Kamu tidak bisa pergi sekarang.” Evelyn mengangkat alis. “Kenapa? Takut aku melapor ke polisi?” “Kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan.” Evelyn mendekat, matanya menatap Daniel seperti api yang siap membakar. “Aku tahu persis apa yang aku lakukan. Aku akan melaporkan pemalsuan tanda tangan, penggelapan saham, dan... mungkin juga pembunuhan tidak langsung yang kalian lakukan.” Daniel menghela napas, mencoba tenang. “Kamu tidak punya bukti yang cukup. Kamu tidak bisa melaporkan kami.” Evelyn tersenyum dingin. “Aku punya rekaman suara Emma. Aku punya log aktivitas digital. Aku punya saksi dari bagian legal. Dan aku bisa cari bukti kalau penyebab kematian ayahku adalah bagian dari rencana kalian. Kamu pikir aku bodoh?” tukasnya. “Kalau kamu melapor... kamu akan menghancurkan nama keluarga ini.” Evelyn tertawa pahit. “Nama keluarga ini sudah kalian hancurkan sejak kalian selingkuh di belakangku dan mencuri warisan Ayahku.” “Kamu terlalu dramatis, Evelyn,” sahut Emma. Evelyn menoleh, matanya menyipit. “Dan kamu terlalu bangga atas kehancuran yang kamu ciptakan, Emma Thompson,” cakap Evelyn, sengaja mengucapkan nama belakang Emma dengan tegas, untuk memberitahu bahwa wanita itu bukanlah bagian dari keluarga Celeste. Daniel melangkah lebih dekat, suaranya mulai meninggi. “Kamu tidak akan menang. Kamu sendirian, Evelyn. Kamu tidak punya siapa-siapa.” “Aku tidak peduli. Walaupun aku sendirian, aku tetap akan melawan kalian. Tunggu dan lihat saja apa yang akan aku lakukan pada kalian.” Daniel menahan pintu, tangannya menahan pintu, mencegah Evelyn yang ingin keluar. “Kalau kamu keluar sekarang, kamu akan menyesal,” ancam Daniel. Evelyn menatap tajam Daniel, tubuhnya tegang, tangannya menggenggam gagang pintu dengan kekuatan yang nyaris putus asa. Daniel berdiri di hadapannya, wajahnya mulai berubah dari arogan menjadi cemas, khawatir kalau Evelyn berhasil keluar. Emma berdiri tak jauh, dia hanya diam saja, seolah menikmati pertunjukan yang ia ciptakan—sepasang suami istri yang dulunya saling mencintai, kini justru saling membenci. “Lepaskan pintu ini, Daniel!” teriak Evelyn, suaranya bergetar namun tajam. “Kamu sudah cukup menghancurkan hidupku. Sekarang aku akan melindungi nama baik Celeste.” Daniel menggeleng, suaranya mulai meninggi. “Kamu tidak akan keluar dari rumah ini dengan membawa ancaman. Kamu pikir kamu bisa melawan kami?! Kamu pikir dunia akan selalu berpihak padamu?!” “Aku tidak butuh siapa pun untuk berpihak padaku. Aku bisa menjatuhkan kalian sendirian.” Evelyn berusaha membuka pintu, tapi Daniel, dalam ledakan panik, mendorong tubuh Evelyn dengan keras. Tubuh Evelyn terhempas ke belakang, menabrak pot besar porselen yang selama ini berdiri anggun di sudut pintu. Suara pecahan menggema, tajam dan mengerikan. Evelyn jatuh ke lantai, tubuhnya lemah, napasnya tercekat. Salah satu pecahan pot menancap di sisi perutnya. Darah mulai merembes pelan di gaun abu-abu yang ia kenakan. “Evelyn!” Emma berseru, tapi bukan karena empati—melainkan karena panik. Daniel membeku. Wajahnya pucat. “Aku... aku tidak bermaksud....” Evelyn mencoba bangkit, tangannya bergetar, matanya masih menatap Daniel dengan amarah yang belum padam. Tapi tubuhnya tak mampu melawan. Ia terjatuh kembali, napasnya pendek, dunia mulai berputar dalam pandangannya. “Daniel, kita harus lakukan sesuatu!” Emma mendekat, suaranya gemetar. “Apa yang harus kita lakukan? Apa kita bawa dia ke rumah sakit?” “Bodoh. Kalau kita bawa dia ke rumah sakit, sama saja kita melaporkan diri kita ke polisi.” Daniel mengacak rambutnya, frustrasi. “Kalau dia mati... kita akan dicurigai. Tapi kalau dia hidup... dia akan melaporkan kita.” Dia menatap Evelyn yang mulai kehilangan kesadaran. “Kita tidak bisa biarkan siapa pun tahu kejadian ini.” Emma menggigit bibirnya. “Kita harus... kita harus sembunyikan ini. Kita harus bersihkan semuanya.” Daniel menatap darah di lantai. “Kita tidak punya waktu. Kita harus bertindak sekarang.” Tapi saat mereka mulai bergerak, Evelyn mengerang pelan. Matanya terbuka sedikit. Ia masih hidup. Masih sadar. Masih berjuang. Daniel dan Emma saling pandang. Ketakutan mulai menguasai mereka. “Aku tahu apa yang harus kita lakukan,” ucap Daniel. Dia lantas membopong tubuh Evelyn yang sekarat, membawanya ke tempat yang ia yakini tidak akan ada orang yang bisa menemukan wanita itu. * Gelap menyelimuti langit di atas lautan. Kapal pesiar milik keluarga Celeste melaju pelan di tengah gelombang yang tenang, tapi di dalamnya, badai telah terjadi. Tubuh Evelyn terbaring di dek belakang, lemah, darahnya masih mengalir. Daniel dan Emma berdiri di sisi kapal, wajah mereka pucat, mata mereka kosong. Tak ada kata. Tak ada rencana. Hanya keputusan dingin yang mereka buat—bahwa tubuh Evelyn harus hilang. Bahwa kebenaran harus tenggelam bersama wanita yang pernah menjadi pusat perhatian keluarga Celeste. Dengan satu dorongan... tubuh Evelyn jatuh ke laut. Air menyambutnya dengan dingin yang tak berperasaan. Gaun abu-abu yang ia kenakan mengembang, rambutnya terurai, dan matanya perlahan tertutup. Dia tenggelam. Tapi saat tubuhnya menyentuh dasar laut, sesuatu terjadi. Waktu... seolah retak. Air di sekelilingnya bergetar, bukan karena arus, tapi karena sesuatu yang lebih besar. Cahaya biru menyala dari dasar laut, membungkus tubuh Evelyn seperti pelukan terakhir dari dunia yang tak ingin kehilangannya. Dan tiba-tiba... semuanya bergerak mundur. Gelombang berbalik arah. Darah menghilang. Pot yang pecah kembali utuh. Suara-suara yang pernah diucapkan kembali masuk ke mulut. Langkah-langkah yang pernah diambil kembali ke titik awal. Evelyn membuka matanya perlahan, napasnya tersengal, seolah baru saja muncul dari dalam air. Cahaya pagi menyusup lembut melalui tirai kamar. Burung-burung berkicau di kejauhan, dan aroma teh melati dari taman belakang menguar pelan, seperti pelukan dari masa lalu. Ia terduduk di ranjang, matanya menyapu sekeliling. Kamar ini... bukan kamar yang ia tinggali saat semuanya runtuh. Ini kamar lamanya, sebelum pernikahan, sebelum pengkhianatan, sebelum luka itu menancap terlalu dalam. Evelyn bangkit dari ranjang, dia berdiri di depan jendela kamarnya, mengenakan gaun putih sederhana, rambutnya terikat rapi. Di luar, langit cerah. Burung-burung berkicau. Pandangannya kemudian tertuju pada meja di dekat jendela, ada surat penerimaan dari universitas di Inggris. Dia mendekati meja itu dan membaca surat tersebut. 2022? Evelyn lantas melihat kalender. 2022. “Tidak. Tidak mungkin.” Evelyn berjalan menuju ranjangnya dengan langkah terburu-buru, dia mengambil ponselnya yang tergeletak di sana. 14 November 2022 “Mustahil.” Ini adalah tiga tahun sebelum semuanya hancur. Evelyn terdiam. Napasnya tercekat. Ia menyentuh wajahnya, tubuhnya, lalu berlari ke cermin. Dia masih sama. Tapi jiwanya... telah kembali dari kematian. Ini seperti mimpi. Evelyn menampar wajahnya. Dan rasa sakit yang menjalar membuatnya sadar bahwa semua ini adalah kenyataan, bukan ilusi. Evelyn menutup mata. Air matanya jatuh tanpa suara. Ia menyentuh perutnya, lalu dadanya—tidak ada luka. Tidak ada darah. Tapi rasa sakit itu masih ada. Bukan di tubuhnya, tapi di jiwanya. Dia ingat semuanya. Setiap kebohongan. Setiap senyum palsu. Setiap malam yang ia habiskan sendirian, menunggu cinta yang tak pernah pulang. Apa maksud semua ini? Kenapa dia kembali ke masa lalu? Apa ini kesempatan untuk memperbaiki segalanya? Untuk tidak memilih Daniel. Untuk tidak terlalu naif pada Emma. Untuk menjaga warisan Ayah dan Ibunya. Dan untuk... menulis ulang takdirnya. Evelyn kembali terduduk di tepi ranjang. Wajahnya bengong menatap kalender yang tak berubah. Rasanya sulit untuk percaya, tapi ini terlalu nyata jika hanya sekedar mimpi belaka. “Aku kembali...,” ucapnya, lirih. Dan saat itu juga dia teringat sesuatu. “Ayah.” Jika dia kembali ke masa lalu, maka saat ini ayahnya pasti masih hidup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN