Narin dan Reyna sampai di depan gerbang rumah Karan, "Na, aku masuk dulu ya. Terima kasih karena sudah mengantarkan aku pulang. Tapi maaf aku tidak bisa mengajakmu masuk ke dalam, ada hal yang harus aku selesaikan. Nanti akan aku ceritakan ya?"
Reyna mengangguk, "Tidak apa-apa Rin."
Narin turun dari mobil, berlarian masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah, Narin melihat seorang pria yang kini tengah duduk di ruang tamu, "David?"
David menoleh lalu tersenyum saat melihat Narin. Narin lalu berjalan mendekati David, matanya berpencar mencari keberadaan Karan. Tak lama orang yang Narin cari kini tengah turun dari tangga, "Kamu sudah pulang?"
Saat sudah berada di dekat Narin, Karan lantas bertanya, "Kenapa kamu tidak memberitahuku jika temanmu datang ke sini?"
Saat Karan sampai di rumah, Karan terkejut melihat seorang pria yang tengah duduk di depan rumahnya. Dan saat bertanya, pria itu mengatakan jika dia adalah teman Narin. Dan ternyata Karan ingat jika pria itu adalah pria yang saat itu bersama Narin di Cafe. Karan lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"David, aku minta maaf karena tidak tau kamu datang kesini, apa kamu menungguku lama?"
"Tidak apa-apa, lagipula ini juga salahku karena tidak memberitahumu lebih dulu, tiba-tiba aku ada disini. Maaf karena sudah mengganggu waktumu, Rin."
Narin tersenyum tipis, menatap Karan sekilas lalu duduk bersama David. Karan hanya melihatnya, setelah itu dia pergi entah kemana. Narin lega karena Karan pergi dari rumah, jadi dia bebas mengobrol bebas dengan David.
"Rin, bagaimana dengan pertanyaanku kemarin? Apa kamu mau kembali bersamaku? Aku masih mencintaimu, dan aku belum bisa melupakanmu."
Nah, Narin sudah menduganya, David pasti akan kembali mempertanyaan masalah itu. Narin terlihat canggung dan gelisah, bagaimana dia mengatakan pada David kalau dia sudah menikah. Tidak tau kenapa Narin tidak ingin David kecewa. Lagipula Narin tidak mengerti kenapa secepat itu David ingin kembali bersama padahal mereka sudah berpisah setelah bertahun-tahun. Narin pikir David sudah melupakannya, karena Narin juga sudah melupakan David. Walaupun David adalah cinta pertama sekaligus pacar pertama Narin, tapi sekarang cinta Narin sudah habis untuk Karan.
"David, maaf tapi bisakah kita berteman saja?"
"Tapi kenapa Rin?" Tanya David.
"Aku lebih nyaman jika kita hanya berteman. Bisakan?"
Narin memang tidak membenci David karena sudah meninggalkannya, dan dia juga sudah memaafkannya, tapi untuk kembali bersama Narin tidak bisa.
David terlihat begitu kecewa, selama ini dia berharap akan kembali bersama Narin. Walaupun mereka berpisah selama bertahun-tahun, tapi David belum pernah mencintai wanita lain selain Narin. Selama ini David menunggu Narin, dan setelah David kembali, Narin justru tidak ingin bersamanya lagi.
David mengangguk penuh kekecewaan, "Tidak apa-apa, bukankah dulu kita juga berteman sebelum akhirnya kita berpacaran?"
Karan belum pergi, dia mendengar apa yang mereka obrolkan. Karan hanya heran, kenapa Narin tidak mengatakan saja jika dia sudah menikah. Tapi Karan juga tidak peduli, itu bukan urusannya. Karan lalu benar-benar pergi dari sana.
***
Narin menyiapkan makan malam, malam ini dia sudah memasak makanan kesukaan Karan. Narin tersenyum saat semua masakannya tertata rapi di meja makan, harum masakannya pun semerbak. Salah satu hal yang menjadi kebanggaan Narin adalah, dia pandai memasak. Masakannya selalu enak, bahkan keluarganya selalu memuji masakannya. Salah satu impian Narin juga, bisa memasak makanan kesukaan suaminya, Karan.
Tak lama Karan pulang, melihat beberapa masakan Narin yang terhidang di atas meja, Karan lantas duduk di ruang makan. Karan memang membenci Narin, tapi tidak untuk masakannya. Karan akui masakan Narin sangat enak, bahkan lebih enak dari masakan mamanya.
Walaupun Karan selalu makan masakan Narin, bukan berarti Karan sudah menerima Narin. Karan hanya tidak ingin menyia-nyiakan makanan enak, itu saja.
Narin mengambilkan nasi dan juga lauk pauk untuk Karan. Karan memakannya dengan lahap. Narin tersenyum senang, walaupun Karan membencinya, namun Karan tidak pernah menolak masakannya, bahkan membuangnya. Karan selalu menghargai masakannya, dan Narin menjadikan ini sebagai salah satu rencana Narin yang berhasil. Setelah ini Narin pasti akan membuat Karan menyukainya seperti Karan menyukai masakannya.
"Kamu lapar apa doyan?" Tanya Narin saat melihat Karan terlihat menikmati masakannya.
Narin meletakkan tangannya di atas meja, satu tangannya diletakkan di dagunya, menjadikannya sebagai tumpuan, tersenyum melihat Karan dan berkata, "Masakan aku enak kan, hm?"
"Walaupun aku menyukai masakanmu, tapi kamu jangan berharap lebih. Perasaanku akan tetap sama."
Narin mengangguk-anggukkan kepalanya, masih banyak waktu untuk membuat Karan berubah, tunggu saja. Narin mengubah posisinya, ikut makan bersama Karan. Narin ini juga sebenarnya bingung dengan sikap Karan, Karan ingin membuat Narin menyesal menikah dengannya, tapi apa yang Karan lakukan justru tidak seperti itu. Narin justru bahagia, walaupun ada hal yang membuat Narin kesal, tapi Narin masih bisa mengatasinya.
Narin terus menatap Karan seraya tersenyum. Pernikahan mereka berjalan hampir satu bulan, masih ada 11 bulan lagi untuk membuat Karan jatuh cinta dengannya.
"Siapa pria itu?" Tanya Karan, Narin menjawabnya, "David."
"Aku tidak menanyakan namanya, aku hanya ingin tau siapa pria itu, kekasihmu?"
Narin berdecak sebal, "Untuk apa aku memiliki kekasih, jika aku sudah memiliki suami, kamu." Ucap Narin dengan nada menggoda, menaik-turunkan alisnya, "Apa kamu cemburu?"
Karan menggelengkan kepalanya pelan seraya menarik satu sudut bibirnya, menatap Narin dan berkata, "Dengar ucapanku baik-baik, aku membencimu, jadi untuk apa aku cemburu?"
Narin mengerucutkan bibirnya, "Dia David, mantan aku saat masih SMP. Dan kita sudah tidak ada hubungan lagi. Lagipula, aku juga baru bertemu dengannya lagi."
"Aku itu seorang istri, jika aku punya hubungan dengan pria lain itu berarti aku selingkuh. Aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu, tidak seperti seseorang." Ucap Narin.
Karan tau, Narin tengah menyindirnya, "Jika kamu berpacaran dengan pria itu, aku juga tidak peduli. Aku menikah denganmu karena terpaksa, jadi apapun yang kamu lakukan jelas bukan urusanku."
"Karan, walaupun kamu belum mencintaiku, tapi dalam hidup aku, aku sudah berjanji tidak akan pernah mengkhianati orang yang aku cintai. Jadi, sekalipun kamu membenciku, kamu tetap suamiku. Aku tidak akan pernah mengkhianati suamiku." Tegasnya.
Sekalipun banyak pria di depannya, Narin akan tetap memilih Karan.
Karan, karan, karan.
"Terserah." Jawab Karan singkat.
Hening. Narin lalu teringat dengan wanita yang dia temui di Mall, Narin lantas berkata, "Tadi aku bertemu dengan Tamara di Mall."
"Kamu mengenalnya kan?" Tanyanya.
"Siapa? Aku tidak mengenalnya."
Narin menghela nafas, "Wanita yang kamu bawa ke rumah saat malam pernikahan kita."
Seketika Karan berhenti mengunyah, Narin tersenyum miring, "Kenapa? Terkejut?"
"Aku sudah tau cerita yang sebenarnya. Lain kali kamu tidak perlu melakukan itu, karena rencanamu untuk membuatku menderita tidak akan berhasil."
Karan menatap Narin datar, "Wanita sepertimu tidak pantas untuk mendapatkan cinta seseorang, jadi apa yang aku lakukan memang pantas untuk kamu dapatkan. Menderita adalah kata yang pantas untuk wanita sepertimu, Narin."
Karan meletakkan sendoknya dengan sedikit kasar hingga membuat suara dentingan yang cukup keras, setelah itu Karan pergi ke kamarnya. Narin terperanjat kaget, tidak menyangka Karan akan marah. Narin tersenyum sedih, Karan mungkin akan sangat bahagia jika Narin menderita.
Narin menghembuskan nafasnya kasar, dia kembali memakan makananya dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Setelah selesai, Narin membereskan meja makan, mencucinya setelah itu masuk ke dalam kamarnya.
Ponselnya berdering, Narin lalu mengangkatnya.
"Halo?"
"Narin, bagaimana keadaanmu sayang?"
"Narin baik, mama dan papa baik-baik saja kan? Narin kangen ma." Narin kembali meneteskan air matanya, mendengar suara mamanya membuat Narin rindu hidup bahagia bersama keluarganya, bukan seperti sekarang ini, Narin harus bergelut dengan perasaannya.
"Mama juga kangen. Kamu dan Karan baik-baik saja kan? Suara kamu terdengar serak, apa kamu habis menangis?"
"Narin dan Karan baik-baik saja. Aku hanya merindukan mama dan papa."
"Baiklah."
"Ma, ada yang ingin Narin tanyakan."
"Apa sayang?"
"Mama pernah mengatakan, dulu mama menikah dengan papa karena perjodohan orang tua mama kan? Papa tidak pernah mencintai mama karena sudah mempunyai kekasih, lalu bagaimana sekarang mama dan papa bisa saling mencintai? Apa yang mama lakukan untuk bisa mendapatkan hati papa?"
Disana, Lira tersenyum mendengar pertanyaan putrinya, "Kenapa sayang? Apa kamu sedang berusaha untuk mendapatkan hati Karan?"
Narin mengangguk, "Iya, mama tau sendiri Karan tidak mencintai Narin. Narin ingin membuat Karan jatuh cinta dengan Narin."
"Anak."
Dahi Narin mengernyit, "Anak?"
"Narin, jika kamu ingin Karan mencintaimu, berilah Karan seorang anak. Mama yakin, anak akan membuat hubungan kalian semakin dekat."
Narin tercenung, bagaimana dia bisa mendapatkan anak dari Karan? Jangankan berhubungan, menyentuh saja Karan tidak sudi.