Bab 8. Wanita Penggatal

1462 Kata
"Karan, apa maksudmu mengatakan kalau pernikahan kita hanya satu tahun?" Jujur, Narin terkejut saat Karan mengatakan hal itu karena mereka memang tidak pernah melakukan perjanjian apapun. "Itu yang ingin aku bicarakan denganmu." Narin melangkah mendekati Karan, masih berdiri di depannya. "Kamu tau sendiri aku menikah denganmu karena terpaksa. Jadi untuk apa aku mempertahankan pernikahan ini? Satu tahun sudah cukup membuatku muak karena harus melihatmu setiap hari." Ucap Karan dengan nada jijik. Satu tahun, Karan rasa itu cukup untuk membuat Narin menderita hidup dengannya. Karan juga ingin hidupnya bebas, dia ingin menjalani hidupnya secara normal. Menikah dengan orang yang benar-benar di cintai, punya anak dan hidup bahagia. Tanpa Karan ketahui, Narin juga ingin hidup bahagia, menikah dengan pria yang dia cintai dan pria yang mencintainya, bukan cinta sepihak seperti ini. Namun, Narin memilih bertahan karena cintanya pada Karan sudah terlalu besar, berat bagi Narin untuk melepaskan Karan setelah Narin berhasil mendapatkannya. Narin menggeleng pelan, pernikahannya hanya akan berjalan selama satu tahun dan dia tidak tau apakah rencananya akan berhasil atau tidak. Narin tidak ingin pernikahannya berakhir begitu saja. "Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah kita bercerai?" Tanya Narin pelan. "Yang jelas aku ingin menikah dengan wanita yang aku cintai, punya anak dan kita akan hidup bahagia." "Kenapa kamu tidak mau mencobanya denganku? Cobalah untuk menerimaku, aku pasti akan membuatmu mencintaiku, aku juga akan memberimu anak Ran." Ucap Narin tersenyum, membayangkan bagaimana jika hal itu benar-benar terjadi. Karan tertawa remeh, membuat senyum Narin seketika terhempas, "Apa kamu sedang bermimpi? Mana mungkin aku mau mempunyai anak denganmu? Membayangkannya saja aku sudah jijik." Narin mengerucutkan bibirnya, menggertakkan giginya, dia pasti akan membuat Karan menarik kata-katanya. Sekarang mungkin Karan akan menghinanya, tapi suatu saat Narin akan membuat Karan memohon-mohon padanya bahkan berlutut padanya untuk mendapatkan cinta Narin. "Suatu saat aku pasti akan membuatmu jatuh cinta denganku, dan saat hari itu tiba, kamu pasti akan menyesal karena sudah mengatakan itu, kamu tunggu dan lihat saja." Ucap Narin yang ditanggapi dengan senyuman miring Karan, "Sayangnya, hari itu tidak akan pernah terjadi." Dengan perasaan kesal, Narin membalikkan tubuhnya, berjalan menuju kamarnya, sebelum dia masuk ke kamar, Narin memutar tubuhnya menatap Karan seraya berkata lirih, "Aku pasti akan membuat hari itu benar-benar terjadi, Karan." Setelah mengatakan itu, Narin masuk ke dalam kamarnya. Narin sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa selama satu tahun ini, Narin harus bisa membuat rencananya berhasil. Narin tidak ingin perjuangannya selama ini berakhir sia-sia. *** Narin berada di pusat perbelanjaan bersama Reyna, sahabatnya yang baru saja pulang dari luar negeri. Walaupun mereka tidak pernah bertemu, namun mereka sering berkomunikasi, video call setiap hari. "Narin, aku tidak menyangka kamu dan Karan sudah menikah, dan sekarang kamu mau pergi honeymoon. Kamu pasti bahagia kan?" Narin tersenyum kecil, Reyna tidak tahu saja kalau Karan mempunyai rencana yang tidak baik untuk menikahnya. Narin belum memberitahunya karena dia tidak mau Reyna mengkhawatirkannya. Reyna pun memiliki masalah yang cukup rumit, Narin tidak ingin menambah beban pikirannya. "Tapi kamu tau sendiri, Karan membenciku. Aku harus berjuang sendiri agar Karan berhenti membenciku dan mulai membuka hatinya untukku." "Aku harus berpura-pura seolah-olah tahan dengan sikap Karan padaku, apapun yang Karan lakukan, aku terus mengatakan pada diriku sendiri bahwa, aku pasti bisa melewatinya." Tidak peduli seberapa menyakitkan, Narin mencoba bertahan, dengan sikapnya, cara Karan berbicara padanya, dan matanya yang selalu memandang rendah Narin. Narin menghembuskan nafasnya kasar, "Tapi tidak apa-apa, aku sudah tahan dengan sikap dingin Karan selama beberapa tahun, jadi untuk masalah ini, sangat mudah." Mencoba untuk tersenyum, Narin yakin usahanya tidak akan mengecewakannya. Reyna menyentuh tangan Narin lalu berkata, "Aku yakin kamu pasti bisa Rin." "Hm." Mereka kembali berkeliling disana, di antara keramaian, Narin menyipitkan matanya, memastikan jika orang yang dia lihat adalah suaminya. "Narin, itu Karan kan?" Ucap Reyna. Narin mengepalkan tangannya, Jane rupanya sudah mulai berani bermain-main dengannya. Wanita itu terus menggatal pada suaminya. Narin bahkan melihat Jane terus menempel pada suaminya, benar-benar wanita tidak tahu diri. Sepertinya Narin memang harus melakukan sesuatu agar Jane tau siapa Narin sebenarnya. Walaupun sebenarnya Narin tidak yakin dengan hubungan mereka berdua, Karan hanya ingin menjalankan rencananya, yaitu menyakiti Narin dengan cara klise seperti ini. Karan pikir rencananya akan berhasil? Narin tidak peduli berapa wanita yang dekat dengan Karan, karena Narin percaya Karan tidak mudah jatuh cinta begitu saja. Bertahun-tahun Karin mengenal Karan, Narin sangat mengenal seperti apa pria seperti Karan itu. "Narin, siapa wanita yang bersama Karan?" "Jane." "Jane, wanita yang terus mengejar Karan? Bukankah kamu bilang Karan tidak menyukainya?" "Aku juga tidak tau kenapa tiba-tiba Karan dekat dengannya, mendadak Karan mengakui Jane sebagai kekasihnya." Reyna cukup kaget mendengarnya, "Benarkah?" Karan dan Jane berjalan ke arahnya, Narin bahkan melihat Jane berjalan seraya tersenyum mengejek padanya dengan mengeratkan tangannya pada lengan Karan. Secara terang-terangan Jane menunjukkan kegatalannya pada suaminya. "Narin, kamu disini juga?" Jane bertanya, namun Narin tidak menjawabnya, Narin masih memperhatikan Jane yang semakin menempel pada Karan. Narin menaikkan satu sudut bibirnya, dia yakin Karan tengah risih sekarang, Karan pikir Narin tidak melihatnya. "Apa yang kamu lakukan disini dengan suamiku?" Narin balik bertanya. Narin menyilangkan kedua tangannya di depan d**a, "Aku tidak mengerti Jane, kenapa tiba-tiba kamu dekat dengan Karan. Kamu tau seberapa tidak suka Karan padamu, apa kamu tidak curiga dengan sikap Karan yang tiba-tiba berubah?" "Apa maksudmu?" Tanya Jane dengan nada ketus. Narin menghela nafas, melepaskan tangan Jane, menggeser posisi Jane hingga dia berada di samping Karan. Narin menggandeng lengan Karan, "Aku dan Karan akan pergi honeymoon ke luar negeri, sepertinya aku dan Karan harus belanja untuk keperluan disana. Maaf ya, aku harus pinjam suamiku sebentar, ada hal yang ingin aku bicarakan dengannya." Narin tersenyum puas, lalu pergi menggandeng Karan untuk menjauh dari Jane. Jane membelalakan matanya kesal dengan apa yang Narin lakukan. Saat sudah cukup jauh, Karan melepaskan tangan Narin dengan kasar, "Jauhkan tanganmu dariku." "Kenapa? Aku sudah cukup baik menjauhkan kamu dari Jane. Aku tau kamu risih karena Jane terus menempel padamu, harusnya kamu berterima kasih padaku, Karan." Karan terdiam, apa yang Narin katakan memang benar. Sejak awal Karan tidak pernah menyukai Jane, seberapa usaha Karan mencoba menyukai Jane, Karan tetap tidak bisa. Karan juga merasa risih setiap kali Jane menempel padanya. Jika bukan karena rencananya untuk membuat Narin sakit hati, Karan juga tidak mau melakukan hal ini. Karan lalu bertanya, "Kenapa kamu berkata seperti itu pada Jane?" Narin menarik kedua alisnya ke atas, mengingat apa yang dia katakan, "Ooh, memangnya kenapa? Aku hanya ingin Jane sadar kalau dia cuma dijadikan kambing hitam." Narin menghela nafas, "Jangan kamu pikir aku tidak tau, bukan setahun dua tahun aku mengenalmu Karan. Jadi, walaupun kamu secara terang-terangan bermesraan dengan Jane, hal itu tidak akan berpengaruh sama sekali padaku." "Kamu ingin aku sakit hati melihat kedekatan kalian? Aku rasa kamu harus mencari cara lain, karena apa?" Narin mendekatkan wajahnya pada Karan, lalu berkata, "Karena aku tidak merasakan sakit hati sama sekali." Narin lalu tersenyum, sedangkan Karan tidak bisa berkata apa-apa. Karan menatapnya datar, dia lupa jika Narin bukan tipe wanita yang mudah disakiti dan kepalanya sekeras batu. Bertahun-tahun Karan membuatnya sakit hati dengan perbuatanya dan perkataannya, Narin tetap saja tidak berhenti mengganggunya. Atau sebenarnya Narin hanya berpura-pura? Pikir Karan. Narin pergi meninggalkan Karan dan pergi bersama Reyna. Narin puas mengatakan hal itu pada Karan, biar saja Karan tau jika tidak semudah itu membuat Narin kalah. "Aku tidak menyangka kamu berani melakukan itu Rin. Sekarang aku percaya, kamu akan berhasil menangani masalah ini dengan mudah." Ucap Reyna. Percaya atau tidak, sebenarnya Narin tidak seberani itu, tapi Narin berusaha untuk membuat dirinya lebih kuat agar Karan tidak menganggapnya lemah. Di jalan Narin tidak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita. Narin mengerutkan dahinya, dia seperti mengenal siapa wanita itu. "Kamu Narin kan?" "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Narin. Wanita itu mengangguk, "Aku yang mengantarkan Karan pulang ke rumahnya malam itu." Narin mengingatnya, saat malam pernikahan mereka, Karan pergi lalu pulang dengan wanita di depannya ini. "Kamu adiknya Karan?" Narin tersenyum tipis, "Aku istrinya." Wanita itu terkejut, "Ah maaf, aku tidak tau kalau kamu istrinya. Karan tidak mengatakan apapun padaku." "Apa yang kamu lakukan dengan Karan malam itu?" "Aku tidak melakukan apapun. Aku dan Karan tidak ada hubungan apapun, pertama kali kita bertemu di Club malam itu. Karan memintaku untuk mengantarnya pulang, karena saat itu Karan mabuk, jadi aku mengantarkannya, aku takut Karan kenapa-kenapa karena menyetir dalam keadaan mabuk." "Dan Karan memintaku untuk mampir di rumahnya, karena sudah larut malam, aku mengiyakan ajakannya. Tapi kamu jangan khawatir, aku dan Karan tidak melakukan apapun disana karena tidak lama kekasihku menjemputku. Aku bahkan tidak tidur bersamanya sama sekali." Wanita itu menjelaskan panjang lebar, membuat Narin berpikir kenapa sebegitu niatnya Karan ingin membuat Narin menderita dengan cara menjadikan wanita lain sebagai tamengnya. Mungkin Karan terinspirasi dari novel, sayangnya Narin bukan wanita seperti yang ada di dalam Novel, yang harus menangis-nangis sampai memohon-mohon, tapi dia Narin Maheswara, yang akan melakukan rencananya dengan caranya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN