Berada di kamar Papa dan Mama, Nina sedang membantu Mama dan Papa packing. Kali ini Papa dan Mama akan liburan seminggu di Paris. Meski berat untuk ditinggal Papa dan Mama, tapi Nina juga tak berhak melarang kedua orang tuanya untuk pergi liburan.
“Sudah semuanya, Ma? Biar Nina kunci kopernya,” kata Nina.
“Sudah tutup aja kopernya, Sayang,” sahut Mama yang kini sibuk dengan tas jinjingnya yang akan diisi dengan paspor serta yang lainnya.
“Koper, Papa masih kosong. Papa gak bawa apa-apa?” Nina melihat satu koper ukuran sedang terbuka lebar tak ada isinya.
“Sebagian pakaian Papa sudah ada di koper Mama. Ini koper untuk oleh-oleh. Papa bakal beliin semua yang kamu mau,” kata Papa dengan senyum.
“Nina cuma mau Mama sama Papa cepet balik dari sana,” ucap Nina.
“Pergi aja belum, Sayang. Sudah minta pulang,” celetuk Papa.
Nina merengut. Matanya berkaca-kaca. Rasanya ia gak siap harus menggantikan posisi Papa selama Papa cuti.
“Kenapa malah nangis?” tanya Papa dan Mama kompak.
“Nina takut,” kata Nina menyeka airmatanya yang sudah turun tanpa dikomando.
“Takut apa?”
“Takut nanti bikin kesalahan waktu gantiin posisi Papa selama cuti.” Baru kali ini Nina dikasih tanggung jawab yang berat.
Papa tertawa mendengar keluhan yang Nina ucapkan. Ia lalu mendekati putrinya itu yang sedang duduk di tak jauh darinya.
“Ada Rahma yang sama siap bantuin kamu, Nin. Hitung-hitung kamu belajar sebelum gak terlibat lagi mengurus perusahaan,” ucap Papa lembut namun belum berhasil membuat Nina tenang.
***
Sengaja memilih jam penerbangan agak sore, Papa berniat untuk mengajak Nina makan siang di luar sebelum nantinya ia akan mengantarkan ke bandara.
“Benar kamu yang nyetir, Sayang?” tanya Papa memastikan ulang.
“Bener, Pa. Papa gak yakin gitu,” ucap Nina.
“Barangkali kamu berubah pikiran, biar Papa hubungi Mang Kasep sekarang,” kata Papa.
“Gak usah, Pa,” sahut Nina tetap yakin dengan keputusannya.
Papa hanya bisa pasrah dengan permintaan, Nina. Meski sebenarnya ia sedikit ragu dengan kemampuan menyetir Nina. Memang Nina sudah memiliki SIM, namun pada kenyataannya Nina sangat jarang mengemudi sendiri.
Setelah semua barang masuk ke dalam mobil, Nina langsung duduk di balik setir siap untuk mengantarkan orang tuanya ke bandara.
“Pelan-pelan aja ya, Sayang. Gak usah ngebut, jamnya juga masih lama kok,” pesan Papa saat mereka baru saja meninggalkan komplek rumah.
“Tenang aja, Pa,” sahut Nina.
Keadaan jalan ibukota saat itu memang tak perlu padat, hingga Nina bisa dengan santai mengendarai mobil. Perjalanan mereka berjalan mulus hingga tiba di salah satu rumah makan. Ia tersenyum menatap Papa karena telah berhasil membawa mobil sejauh ini.
“Ayo masuk, kita makan siang dulu,” ajak Papa pada anak yang istrinya.
Tempat makan dengan konsep pedesaan ini membuat Nina ingat dengan panti asuhannya dulu. Suasananya sangat pas membuat Nina sedikit flashback ke masa lalu. Ia melempar pandangan ke luar jendela yang dihiasi hijaunya pepohonan.
“Jadi ingat tempat Nina dulu,” gumamnya membuat Mama menoleh.
“Sekarang kamu sudah punya Mama sama Papa, Sayang. Jangan sedih kaya gitu ya,” kata Mama mengusap punggung Nina.
“Nina gak sedih, Ma. Nina selalu bersyukur sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Nina hanya teringat suasana di sana,” sahut Nina.
Selang beberapa menit, pesanan makanan dan minuman yang Papa pesan untuk mereka semua datang. Mungkin ada tiga kali pelayan di sana bolak-balik mengantarkan pesanan mereka yang lumayan banyak itu, hingga membuat meja mereka penuh.
“Ya ampun, Pa ini mau makan siang satu kampung? Banyak banget," cetus Nina.
"Ini semua kan makanan kesukaan kamu. Ada ayam goreng, itu sayurnya ada capcay, ikan kakap juga, bila bakar juga ada, nah itu timun juga ada," kata Papa menyebutkan satu per satu makanan yang ada di meja.
"Sudah gak usah ribut, ayo kita makan dulu," ucap Mama menengahi perdebatan anak dan suaminya itu.
Dengan makanan sebanyak itu, alhasil Nina sangat kenyang dibuatnya. Untuk minum air putih saja rasanya ia tidak sanggup karena perutnya sudah terlalu penuh.
"Nina rasanya jadi ngantuk," gumamnya.
"Terlalu kenyang pasti," tebak Mama.
Nina mengangguk. "Gimana gak kenyang, makanan segini banyak. Kalau gak dihabisin kan mubazir."
Lima belas menit kemudian, mereka melanjutkan perjalanan menuju bandara. Bandara tak begitu ramai karena belum musim liburan, jadi Nina dengan mudah menemukan tempat untuk memarkirkan mobilnya.
"Nanti pulangnya hati-hati ya, Sayang. Kalau ada apa-apa langsung hubungin Yuda," pesan Papa.
"Iya, Pa. Nina berusaha handle sendiri dulu, kalau perlu bantuan baru call a friend," sahut Nina memeluk Papa erat.
"Hati-hati ya, Sayang. Mama jadi sedih kamu gak ikut liburan," kata Mama gantian memeluk Nina.
"Gapapa, Ma. Kan kata Papa mau bulan madu," sahut Nina.
Cukup lama proses pamitan yang mereka lakukan, hingga mendekati batas waktu yang check in.
"Hati-hati ya, Sayang," pesan Papa dan Mama kompak sambil memeluk Nina.
Nina melambaikan tangan hingga kedua orang tuanya itu tak terlihat lagi di matanya. Hatinya langsung terasa hampa saat ini. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju parkiran mobil. Baru beberapa langkah, ia ditabrak dari belakang oleh seorang anak laki-laki.
"Aduh maaf, Tante," kata anak kecil itu.
"Gapapa, Anak manis," sahut Nina tersenyum. Namun saat hendak kembali melangkah, Nina menoleh melihat anak tadi yang terlihat kebingungan. Ia terus berputar seperti sedang mencari seseorang.
"Nyari siapa?" tanya Nina berjongkok di depan anak kecil itu.
"Cari Papa, Tante."
"Loh memang Papanya di mana? Kamu terpisah?"
"Gak tau Papanya di mana. Tadi liat balon tau-tau Papa sudah gak ada," kata anak laki itu dengan wajah bingung namun masih terlihat menggemaskan.
"Mau diantar buat nyari Papa?" Nina menawarkan diri.
"Tapi Tante orang baik kan? Bukan penculik anak?" tanya anak laki-laki itu begitu polos membuat Nina menahan tawa.
"Bukan dong," sahut Nina.
Ia menggandeng tangan anak laki-laki sambil menanyakan ciri-ciri orang tuanya.
"Tadi itu Papa pakai baju merah bentuk kotak- kotak, Tante. Pakai kaca mata hitam terus rambutnya warna hitam. Gayanya sama aku, Tante," ucap anak laki-laki gemas. Nina langsung suka dengannya.
"Terus ke sini ngapain? Mau jemput Mama ya?" tanya Nina basa basi.
"Nggak," sahut anak laki-laki itu menggeleng, "Ansel sama Papa Rafan baru aja nganterin Oma balik," lanjut anak laki-laki yang menyebut dirinya Ansel. Nina sedikit aneh mendengar Ansel menyebutkan nama Papanya barusan. Baru kali ini ia mendengar hal seperti itu.
"Oh," sahut Nina singkat.
"Mana sih Papa Rafan ini," ucap Ansel celingak celinguk.
Nina juga mengedarkan pandangannya mencari orang dengan ciri-ciri yang Ansel sebutkan tadi.
"Tante, itu kayaknya Papa Rafan!" seru Ansel bersemangat menunjuk ke arah depan. Ansel langsung melepas pegangan tangan Nina dan berlari menuju orang yang ia maksud. Dari kejauhan Nina melihat Ansel yang langsung digendong dan dipeluk oleh pria itu. Yakin itu adalah orang tua dari Ansel, Nina berbalik dan pergi dari situ menuju parkiran.
"Kamu kemana aja, Sel? Papa sampai bingung nyariin kamu," kata pria itu cemas.
"Ansel juga nyariin Papa dari tadi. Untung ada Tante cantik yang bantuin Ansel."
"Hah? Tante cantik? Mana," kata Rafan langsung menurunkan Ansel dan mencari wanita yang dimaksud Ansel.
"Kayaknya sudah pergi," ucap Ansel santai.
"Kamu ngerjain ya?"
"Nggak. Ansel serius," ucap Ansel lagi.
"Sudah ah, kita pulang aja. Nanti kamu malah hilang lagi. Tambah runyam." Rafan langsung menggendong Ansel untuk antisipasi.
Sesampainya di parkiran, Ansel kembali bersuara sambil menunjukkan mobil yang baru keluar.
"Ansel jangn bercanda? Mana Tante cantiknya?"
"Itu," kata Ansel menunjuk ke depan arah mobil hitam.
"Mobil hitam banyak, Sel. Mobil kita juga hitam," tukas Rafan.
"Ah, Tante cantiknya udah pergi," kata Ansel minta diturunkan dari gendongan Rafan.
Yang ada Rafan makin dibikin penasaran oleh Ansel.