Komplen Fasilitas Kantor

1123 Kata
Sejak pagi dengan ditemani sekretaris Papa, Nina dan Papa sudah pergi bertemu dengan investor yang akan ikut menggarap proyek pembangunan tempat perbelanjaan. "Tumben Papa gak ngajak Mas Yuda?" tanya Nina saat mereka dalam perjalanan menuju kantor Pak Wiratama-teman bisnis Papa yang akan menjadi salah satu investor. "Dia lagi ngurusin yang lain. Papa pengen kamu juga mengerti bagaimana cara berhadapan dengan rekanan bisnis kita. Cara kita bersikap, pembawaan diri kita, cara kita memandang lawan bicara. Bagaimana kita harus terlihat meyakinkan di mata mereka," kata begitu serius menjelaskan. "Iya, Pa," sahut Nina yang langsung memperbaiki cara duduknya. Rahma-sekretaris Papa yang duduk di kursi depan, mengangguk-anggukan kepala mendengar ucapan atasannya itu. Ia bisa menilai kalau atasannya itu sedang mempersiapkan Nina untuk menggantikan posisinya dalam memimpin perusahaan kelak. Sesampainya di depan gedung bertingkat itu, Pak sopir segera membukakan pintu untuk Papa dan Nina. "Mari, Pak," kata Rahma mempersilahkan Papa lebih dulu berjalan. Ia lalu menatap Nina dan tersenyum. "Semangat, Mbak," ucap Rahma pelan pada Nina. "Makasih, Mbak Rahma," balas Nina. Berjalan dengan pandangan lurus ke depan, Nina mengimbangi langkah kaki Papa. Melakukan pertemuan di ruang rapat kantor Pak Wiratama, Nina memberanikan diri untuk ikut terlibat dalam pembicaraan yang cukup berat itu. Meski kadang ia sedikit terbata-bata menjawab. "Hahahaha. Kamu sangat beruntung, Marcel. Anak perempuan kamu ini mau terjun ke perusahaan yang kamu pimpin. Tiga anak perempuan aku semua gak ada yang mau sibuk di kantor. Mereka masih sibuk dengan dunianya masing-masing. Masih mau have fun, hedon dengan Mamanya," ucap Pak Wiratama bercerita. Papa tertawa kecil. "Ya kamu kan masih muda, masih kuat mimpin perusahaan. Lah aku, sudah berumur gini. Mau gak mau Nina harus siap menggantikan posisi aku," kata Papa kembali membuat tanya di hati Nina. Dari kemarin omongan Papa selalu saja membuat Nina takut. "Dengar kata Papa kamu, Nin. Sudah berumur katanya, padahal Om sama Papa kamu ini usia gak beda jauh." "Iya, Om. Dimana-mana kan orang maunya muda terus, Papa malah kebalik," celetuk Nina mengundang tawa Papa dan Pak Wiratama. "Gak liat uban aku, Wir," kata Papa menunjukkan tumpukan uban yang ada di kepalanya. "Di semir dong," sahut Pak Wiratama cepat. Papa hanya tersenyum. "Semoga proyek kita ini lancar ya, Marcel," harap Pak Wiratama. "Pasti. Pasti lancar," sahut Papa seraya berjabat tangan diikuti dengan Nina dan juga Rahma. Selesai membahas segala macam urusan, Papa, Nina, dan juga Rahma pamit meninggalkan tempat itu. Menyempatkan makan siang di rumah sebelum akhirnya kembali lagi ke rumah. *** Di ruangannya, Rena terlihat kurang cocok dengan rekan kerjanya. Beberapa pekerjaan yang diberikan padanya, selalu saja tidak pernah beres. "Kan sudah diajarin tadi. Coba lagi," kata rekan kerja berusaha sabar. Padahal dalam hatinya begitu kesal. 'Kalau aja bukan teman anaknya bos, sudah aku maki-maki dari tadi kali' gumamnya dalam hati. Berita seperti ini memang selalu cepat beredar ke seantero kantor. Tiap lantai sudah tau kalau Rena anak baru ini adalah teman kuliah Nina. "Oke, ini sudah benar. Sekarang kamu antar ke lantai enam tempatnya Pak Chandra ya," perintahnya lagi pada Rena. "Iya, Mbak." Rena berdiri dan mengambil tiga lembar kertas hasil cetakannya dari printer. "Ren, pakai map. Masa kamu bawa laporannya kayak gitu ke ruangan Pak Chandra?" sergahnya. Untung saja ia melihat sebelum Rena pergi. "Maaf, Mbak," kata Rena menerima map dan segera memasukkan laporannya itu ke dalam. Begitu Rena keluar dari ruangan dan sudah pasti masuk lift. Mereka yang ada di ruangan itu segera berkumpul. "Ya ampun gedek banget sama dia." "Banget. Banget. Banget. Masa iya apa-apa harus diajarin terus? Gak masuk apa di otaknya?" "Iya gak ngerti deh aku." Yang lain ikut menimpali. "Susah deh kalau masuk kerja nyogok." "Nyogok? Emang bisa? Emang bisa nyogok kerja di sini?" "Bukan itu maksudnya. Nyogok itu maksudnya titipan. Dia kan diterima di sini karena dia teman kuliahnya Nina-anak bos." "Dari lantai dasar sampai semut-semut di rooftop juga tau." "Sudah ah, gak ada faedah ngomong dia. Balik kerja aja yuk." Mereka semua menyudahi obrolan sebelum orang yang mereka omongin datang. Bukannya langsung kembali ke ruangan, Rena malah menjelajahi tiap lantai. Kagum dengan setiap sudut kantor yang begitu teratur dengan hiasan dan pernak perniknya. Hingga ia sampai di lantai delapan. Di lantai delapan ini furniture dan yang lainnya tampak lebih mahal dari lantai-lantai lain. "Ini pasti ruangan Papanya Nina," gumam Rena melangkah perlahan. "Ada yang bisa dibantu, Mbak?" tanya Rahma saat melihat Rena tampak mengendap-endap. "Eh," kata Rena sengaja membenarkan posisi kartu pengenalnya. "Ada yang bisa dibantu?" tanya Rahma lagi dengan tatapan menyelidik. Belum sempat Rena menjawab, Nina yang baru keluar dari ruangan Papa langsung menyapanya. "Ren, ngapain ke sini?" tanya Nina santai tanpa maksud apa-apa. 'Ngapain ke sini katanya? Sombong amat' batin Rena kesal. "Itu tadi lupa lantai berapa. Eh malah ke sini," ucap Rena berdusta. "Mbak Rahma ini Rena," kata Nina memperkenalkan Rena, "teman kuliah Nina. Dia baru aja kerja di sini," lanjut Nina setelah Rena dan Rahma saling berjabat tangan. Rahma kemudian pamit untuk melanjutkan pekerjaannya. "Ngapain tadi ke sini? Ke ruangan aku yuk," ajak Nina yang langsung disetujui Rena. Ruangan Nina kini berada satu lantai dengan ruangan Papa di lantai delapan. Begitu masuk ke dalam ruangan Nina, rasa panas di hati Rena mulai berkibar. Ia merasa apa yang Nina miliki seharusnya adalah miliknya. "Bagus banget ruangan kamu, Nin. Warna catnya beda sama ruangan aku. AC nya juga dingin banget, di ruangan aku AC nya gak kerasa. Panas." Rena malah berkeluh kesah dan membandingkan ruangannya dengan ruangan milik Nina yang sudah pasti beda. "Masa sih, Ren? Setiap bulan petugas kantor selalu ngecek kayak deh," kata Nina sedikit tak percaya. "Ya gitu deh yang aku rasa." Dengan cueknya Rena menyahut. "Coba nanti aku tanya ke petugas kantor. Eh sudah mau jam pulang," kata Nina mengalihkan pembicaraan. "Oh iya. Aku balik ke ruangan ya." Meski berat meninggalkan ruangan Nina yang begitu nyaman, mau tak mau ia harus keluar dari ruangan ini. Nina menghela nafas begitu Rena keluar dari ruangan. Omongannya tadi membuat Nina terganggu. Perasaan selama ini karyawan perusahaan tidak ada yang pernah komplain dengan fasilitas kantor. Sambil menunggu Papa yang memang harus menyelesaikan kerjaan, Nina meminta petugas kantor untuk mengecek AC di ruangan Rena. "AC di ruangan ini dingin kok, Mbak." Petugas itu memberitahu Nina melalui telepon kantor. "Ruangan sudah kosong, Pak?" "Sudah, Mbak. Sudah pada pulang semua," sahut petugas itu. Nina bergegas keluar dan memasuki lift menuju ruangan Rena. Begitu ia masuk ke dalam ruangan Rena, ia langsung bisa merasakan sejuknya udara yang keluar dari dua AC yang ada di ruangan itu. Ucapan Rena berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada. "Jadi dibersihkan, Mbak?" "Jadi aja, Pak. Bapak sudah capek-capek bawa alat itu semua." Nina jadi tak enak. "Baik, Mbak. Ini kan memang kerjaan saya." Dengan sigap petugas kebersihan kantor segera menjalankan perintah Nina untuk membersihkan AC yang ada di sana. Nina sedikit bingung dan bertanya-tanya dengan sikap yang Rena tunjukkan padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN