Di ruangannya, Nina duduk di depan laptop dengan kedua tangan yang menopang dagunya. Sampai sekarang ia masih kepikiran apa yang Papa ucapkan.
Tok tok tok
Terdengar ketukan pintu dari luar kemudian Yuda muncul dari balik pintu.
"Lagi sibuk, Nin?" Yuda datang mendekat.
"Gak kok, Mas. Ini lagi ngecek laporan yang Papa kasih," sahut Nina asal. Padahal sedari tadi Nina hanya bengong gak ngapa-ngapain.
"Bentar lagi makan siang, kita mau makan kemana?" tanya Yuda berdiri sedikit di belakang kursi Nina. Ia memperhatikan Nina dari atas sampai bawah. Ia lalu tersenyum saat matanya menatap bagian atas tubuh Nina yang sedikit terlihat dari leher baju.
"Terserah kamu," sahut Nina berdiri dan langsung berbalik, membuat Yuda terkejut.
"Oke," sahut Yuda sedikit kikuk.
"Aku ajak Rena gak papa ya? Biar kita makin rame," usul Nina yang disambut hangat oleh Yuda.
"Tentu boleh. Kita makan yang deket kantor aja. Kamu jalan kaki gak papa?" kata Yuda lagi.
"Ya gak papa lah, Yud," sahut Nina.
Mereka berdua berjalan keluar dari ruangan Nina. Sebelum menghubungi Rena, ia memberitahu Papa terlebih dulu kalau ia akan makan keluar di sekitar kantor.
"Ren, kita makan siang bareng yuk? Kamu gak lagi sibuk kan?" tanya Nina melalui panggilan suara di ponselnya.
"Yang bener? Aku ke ruangan kamu ya?" Rena tampak gembira.
"Gak usah, Ren. Ini aku sama Yuda lagi turun ke lobby. Ketemuan di lobby ya," kata Nina.
"Oh. Oke-oke." Rena memutus sambungan telepon dari Nina duluan. Dari nada jawaban Rena barusan ada rasa kesalnya di sana.
'Sombong amat mau liat ruangan dia aja gak boleh. Padahal ruangan dia di atas, kenapa gak mampir ke sini langsung' gerutu Rena dengan wajah cemberut. Ia segera meninggalkan ruangan yang telah kosong karena karyawan lain sudah lebih dulu pergi makan siang. Memasuki lift, Rena menyusul Yuda dan Nina yang telah duluan berada di lobby.
"Ren." Nina langsung melambaikan tangan pada Rena begitu teman dekatnya itu keluar dari lift dan berjalan ke arahnya. Senyum menghiasi wajahnya.
"Ya ampun. Aku seneng banget bisa kerja di sini, Nin," ungkap Rena begitu antusias. Matanya melirik ke arah Yuda yang berdiri di samping Nina. Di mata Rena, Yuda terlihat sangat tampan dan menggoda.
"Aku juga senang kita bisa kerja di perusahaan yang sama," sahut Nina tak kalah antusias.
"Kita makan siang sekarang?" Suara Yuda membuat Nina dan Rena kompak berpaling menatapnya.
"Yuk, Mas," sahut Nina.
"Kita makan di dekat kantor, Ren. Santai jalan kaki," ucap Nina memberitahu.
"Yuk," kata Rena dalam hati melengos. Ia mengira Nina akan mengajaknya makan siang di restoran dengan diantar mobil kantor.
Nina dan Rena berjalan lebih dulu di depan Yuda, hingga ia bisa melihat tubuh Rena dari belakang. Matanya memindai dari atas kepala hingga ujung kakinya. Senyum yang tak biasa tersungging dari bibirnya.
"Ini kan rumah makannya, Yud?" Nina memastikan ia tak salah tempat.
"Betul, Nin," sahut Yuda tersenyum.
"Mau pada pesan apa?" tanya Yuda menyodorkan kertas berisi menu makanan.
Nina dan Rena lalu menconteng makanan dan minuman yang mau ia pesan.
"Bentar ya," ucap Yuda lagi kertas dari tangan Nina dan Rena. Ia lalu membawa kertas itu ke kasir untuk memesan sekalian membayarnya.
Selama makan siang di luar ini, Yuda hanya memperhatikan Nina dan Rena yang tampak asik bercerita.
"Ngapain Ren?" tanya Nina saat Rena membuka dompetnya.
"Ini mau bayar makan," kata Rena.
"Gak usah, sudah aku dibayar. Sudah pada selesai ceritanya? Seru banget," kata Yuda.
"Makasih ya, Mas Yuda," ucap Rena menatap Yuda.
"Cuma makan siang aja," sahut Yuda, "sudah selesai, Nin?" Yuda berpaling menatap Nina.
"Sudah, Mas. Kita balik ke kantor aja, di luar langitnya mendung," ucap Nina sembari beranjak dari kursinya diikuti Rena dan juga Yuda.
***
Nina baru saja selesai mengupas buah apel dan membawanya ke ruang tengah tempat Mama dan Papa sedang asyik menikmati siaran TV setelah selesai makan malam.
"Makasih ya, Sayang," kata Mama mengambil sepotong apel dari piring dengan garpu.
Nina tersenyum.
"Papa kayaknya mau cuti, Nin," kata Papa membuat Nina yang tadinya duduk di samping Mama, berpindah jadi ke samping Papa
"Cuti kemana? Sama Mama juga?" Nina memandang Papa dan Mama bergantian.
"Terus Nina gimana?" tanya Nina dengan wajah gusar.
"Mama pasti ikut dong. Masa iya Papa cuti mau liburan sendiri. Kan Papa mau bulan madu sama Mama," kata Papa menatap genit Mama.
"Iya gapapa. Tapi kantor gimana, Pa? Nina gak tau apa-apa," kata Nina lagi.
"Kan sudah Papa ajarin, Sayang. Lagian ada Yuda juga yang pasti bantu kamu. Jangan takut gitu dong," ucap Papa menenangkan.
"Tetep aja, Pa. Nina kan takut bikin salah. Nanti kalau ada apa-apa gimana?" Nada suara Nina melemah.
"Kamu bisa kok, Sayang. Papa tau kamu punya kemampuan. Kamu cuma malu aja menunjukkan kemampuan yang kamu punya." Papa merangkul pundak putri kesayangannya itu.
"Iya lo, Nin. Kamu kan bisa minta bantu Yuda kalau belum ngerti. Bisa tambah dekat juga jadi," kata Mama menggoda.
"Mama apaan sih," ucap Nina malu.
Mama tertawa melihat ekspresi Nina.
"Memang mau liburan kemana sih? Jangan bilang mau keluar negeri ya." Nina menebak.
"Nah itu kamu tau," celetuk Papa.
"Yang bener, Pa?" Mama seolah tak percaya.
"Beneran keluar negeri?" Nina juga tak percaya.
"Rencananya. Kan Mama pernah bilang mau ke Paris," ucap Papa membuat Mama langsung mendekat dan memeluk tubuh Papa yang sedikit gemuk itu.
"Nina ditinggal," tukas Nina murung.
"Kan beberapa waktu lalu kita juga sudah liburan bareng, Sayang. Boleh dong Papa sama Mama pacaran lagi?"
"Ya ampun, Papa kenapa jadi genit sama Mama sih?"
"Genit apanya?" Papa tertawa terbahak-bahak.
"Tapi Nina punya satu syarat," kata Nina dengan wajah seriusnya.
"Syarat apa?" Papa dan Mama kompak bertanya.
"Nina sendiri yang antar dan jemput Papa sama Mama nanti ke bandara." Dengan tegas Nina bersuara.
"Gak bisa dong, Sayang. Papa gak bakal bolehin, kan kita ada supir. Keselamatan kamu nomor satu," kata Papa langsung membantah.
"Berarti Papa gak boleh cuti," sahut Nina melipat tangannya di depan d**a, "kan Nina sudah punya SIM dan bisa nyetir, Pa. Nina pengen mandiri," lanjut Nina lagi.
"Ya sudah kita gak usah kemana-mana aja, Pa." Mama terdengar pasrah.
"Gak gitu juga, Ma. Papa sudah prepare semuanya. Sudah perlu refreshing. Gak ada salahnya juga. Kalau Nina gak kita kasih izin, kapan dia bisa mandiri. Kita kan nanti gak selalu ada buat Nina," ucap Papa begitu lancar.
Mama hanya tersenyum sementara Nina langsung melotot.
"Ngomong apa sih, Papa? Nina gak suka dengarnya." Masih dengan mata melotot, Nina menunjukkan wajah cemberutnya.
Papa kemudian merangkul Nina sambil mengusap rambutnya.