Penilaian Papa

1350 Kata
Setelah menyeleksi beratus-ratus surat lamaran yang masuk, kini yang tersisa hanya lima orang calon karyawan termasuk Rena. Perusahaan Papa memang hanya mencari lima orang karyawan untuk menempati posisi yang kosong. Dan tahapan akhir dari kelima calon karyawan itu adalah wawancara akhir dengan pemilik perusahaan yaitu Pak Marcel alias Papanya Nina. "Pa," ucap Nina masuk ke ruangan Papa. "Ada apa, Nin?" "Nanti jangan tanya yang macam-macam ya sama Rena, Pa. Kan Papa sudah janji dia bakal langsung diterima," ucap Nina berdiri di samping meja kerja Papa. "Pertanyaan macam-macam gimana? Kamu kan sudah tau apa daftar pertanyaan yang bakal Papa tanyain. Atau kamu aja yang mewawancarai teman kamu itu?' Papa menatap anak gadisnya yang hari ini memakai dress berwarna maroon membuatnya semakin cantik. "Nggak enak ah. Masa Nina, Papa aja," tolak Nina dengan cepat. "Ya kan kamu biar tau dan ada pengalaman. Jadi nanti kalau kamu sudah di posisi Papa sekarang, kamu gak bakal kaget lagi." "Papa ngomong apa sih? Posisi Papa ya tetap punya Papa. Nina ini apa sih, masih belum ngerti apa-apa," sahut Nina. "Ya sudah kamu ikut Papa wawancara ke ruang rapat," ajak Papa. Berjalan beriringan Papa dan Nina menuju ruang rapat yang ada di lantai sepuluh. Di sisi lain, Rena baru saja sampai di lobby dan melapor pada resepsionis perihal kedatangannya. "Oh baik. Ibu Rena bisa naik ke lantai sepuluh nanti di sana sudah ada petugasnya," ucap petugas resepsionis itu dengan ramah. Rena mengangguk lalu berjalan menuju lift yang tak berada jauh dari tempat itu. Baru saja akan menekan tombol lift, tiba-tiba tangan seseorang dari belakang dengan cepat menekan tombol itu lebih dulu. Rena menoleh dan sedikit mendongakan kepala lalu melemparkan senyum. "Eh Mas Yuda," ucap Rena dengan wajah mesem-mesem. "Hari ini wawancara ya," kata Yuda mempersilahkan Rena masuk ke dalam lift yang telah terbuka. "Iya, Mas. Wawancara sama Pak Marcel," kata Rena memberitahu. "Harus percaya diri ya. Kamu pasti diterima di sini kok," ucap Yuda mengelus lengan Rena pelan. Melihat sikap Yuda yang seperti itu membuat suasana hati Rena menjadi berbunga-bunga. Begitu pintu lift terbuka, Yuda mempersilahkan Rena keluar lebih dulu karena ia harus naik satu lantai lagi menuju ruangan akunting. Senyum terus mengambang di bibir Rena mengingat sikap Yuda itu. "Atas nama Mbak Rena ya?" tanya petugas penerimaan karyawan yang berada di depan ruang rapat. "Betul," sahut Rena dengan netra yang sedikit menjelajah melihat ruangan sekitar yang terlihat mewah dengan beberapa lukisan di dindingnya. "Silahkan langsung masuk. Sudah ditunggu dari tadi," kata petugas itu membukakan pintu untuk Rena. Rena berjalan perlahan dan sangat hati-hati menuju meja tempat Papa yang tengah duduk. 'Harusnya aku gak perlu seperti ini. Harusnya aku bisa dengan mudah bekerja di perusahaan ini' gumam Rena memasang senyum menatap Papa. "Silahkan duduk," kata Papa dengan wajah tegasnya. Hampir lima menit ia menunggu Rena sejak calon karyawan keempat selesai ia wawancara. Dan menunggu adalah hal yang paling Papa tidak suka, tapi itu tak termasuk bila menyangkut keluarga. "Maaf saya sedikit terlambat, Om. Eh, maksud saya, Pak," kata Rena sengaja ini menarik perhatian Papa. "Perusahaan ini mencari seseorang yang sudah memiliki pengalaman, tapi tidak menutup kemungkinan untuk fresh graduate seperti kamu. Mulai besok kamu sudah bisa bekerja di sini," kata Papa tanpa memberikan pertanyaan yang biasanya ditanyakan saat wawancara akhir. "Sudah selesai, Pak?" "Ya sudah. Kamu bisa kembali besok pagi jam delapan untuk mulai bekerja," kata Papa sambil menekan tombol di bawah meja untuk memanggil petugas yang ada di luar. Petugas itu datang menghampiri dan mengajak Rena untuk keluar dari ruangan rapat. "Terima kasih, Pak." Rena mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan Papa. Papa tak langsung menyambut uluran tangan Rena. Sekitar lima detik ia menatap Rena kemudian menyambut uluran tangan Rena itu. Papa mengamati Rena hingga ia keluar dari ruang rapat. Kesan pertama saat bertemu Rena tadi kurang bagus. Namun demi anaknya, Papa tetap menerima Rena untuk bekerja di perusahaannya. "Sudah kelar, Pa?" tanya Nina keluar dari toilet ruang rapat. "Sudah? Teman Nina sudah? Rena?" tanya Nina memastikan. "Sudah Nina sayang," sahut Papa. "Cepet amat, Pa? Perasaan Nina gak sampai lima menit ke toilet. Daftar pertanyaannya juga banyak," kata Nina sedikit heran. Dari awal Nina menemani Papa melakukan wawancara, satu orang calon karyawan rata-rata bisa hampir lima belas menit Papa wawancara. Tapi kena pas giliran Rena wawancaranya berlangsung sangat cepat sampai-sampai ia tak melihat. "Teman kamu kan? Jadi Papa langsung terima. Kita balik ke ruangan," ajak Papa lebih dulu berjalan dan keluar dari ruang rapat. Nina masih sedikit heran, tapi ia tak mengambil pusing hal itu. Yang pasti ia senang karena besok akan satu kantor dengan teman dekatnya itu. Keluar dari parkiran, Rena menatap gedung tinggi dengan sepuluh lantai yang akan jadi kantornya besok. "Akan kurebut apa yang seharusnya jadi milikku," ucap Rena dengan senyum bengisnya lalu meninggalkan tempat itu. *** Menyambut datangnya pagi Nina tampak begitu bersemangat. Ia telah siap di meja makan untuk sarapan sebelum jam tujuh pagi. "Pagi, Nina. Kamu kayaknya lagi senang hari ini. Mau jalan sama Yuda ya?" terka Nama yang membuat mata Nina terbuka lebar. "Mama ih, pagi-pagi bahas Mas Yuda. Nina jadi malu," sahut Nina dengan wajah yang sedikit memerah. "Kan Mama cuma nebak aja. Memang ada apa?" tanya Mama lagi. "Hari ini teman Nina di kampus masuk kerja di perusahaan Papa," kata Nina. "Siapa?" Mama menyodorkan mangkuk kaca berisi nasi goreng pada Nina. "Rena, Ma. Mama ingat kan?" Nina kemudian menceritakan ciri-ciri Rena pada Mama. "Iya. Ingat sedikit," sahut Mama datar yang kemudian menyajikan makanan untuk Papa yang mengambil posisi di samping Nina. Selesai sarapan pagi, dengan diantar supir Papa dan Nina pergi ke kantor bersama. Sebenarnya Yuda ingin menjemputnya, namun permintaan itu Nina tolak dengan alasan ia ingin pergi bersama Papa. Perjalanan menuju kantor pagi ini cukup memakan waktu karena ada kecelakaan lalu lintas dengan korban meninggal dunia di tempat. Kejadian itu membuat macet jalanan hampir setengah jam karena proses evakuasi yang cukup sulit. "Makanya Papa sangat jarang memperbolehkan kamu untuk pergi naik mobil sendiri," ucap Papa begitu mobil yang mereka kendarai telah berhasil keluar dari kemacetan itu. "Iya, Pa. Nina juga mau kemana naik mobil," sahut Nina sambil bergelayut manja pada lengan Papa. Sesampainya di lobby kantor, Yuda menyambut kedatangan Papa dan Nina. "Pagi, Pak," sapa Yuda sambil tersenyum kemudian melirik ke arah Nina. "Pagi, Yud. Kamu sudah cek anggaran untuk lokasi yang akan dibangun tempat perbelanjaan itu?" tanya Papa sambil berjalan menuju lift. Sementara Nina mengikuti di belakang sambil mendengar percakapan bisnis Papa itu. Lift mengantarkan mereka ke lantai delapan. "Nin, kamu ikut Papa ya ke ruangan ya," kata Papa begitu keluar dari lift. "Iya, Pa," sahut Nina. "Aku ke ruangan Papa dulu, Mas," ucap Nina setengah suara menatap Yuda. Yuda membalas ucapan Nina dengan kedipan matanya. "Ada apa, Pa? Ada yang harus Nina kerjain ya?" tanya Nina mengekor Papa ke meja kerja. "Jujur saja," ucap Papa membuat Nina langsung deg-degan. Tak seperti biasanya Papa berkata seperti itu padanya. "Jujur apa, Pa?" tanya Nina gugup. "Jujur saja Papa kurang begitu suka dengan teman kamu itu," kata Papa makin membuat Nina tak enak. "Teman Nina yang mana, Pa?" "Rena. Teman kamu yang baru hari ini kerja di perusahaan kita," ucap Papa begitu lugas. "Memang kenapa, Pa? Kenapa Papa gak suka sama dia? Sejauh ini dia baik berteman sama Nina," kata Nina membela Rena. "Kesan pertama sudah tidak bagus. Dia datang terlambat dan tidak sopan dalam berbicara," ucap Papa. "Kemarin dia terlambat?" Papa mengangguk. " Lima menit." Kemudian membentuk angka lima dengan tangannya. "Lalu, dia bicara apa sama Papa sampai Papa bilang dia gak sopan?" tanya Nina lagi. "Dia panggil Papa, Om." Nina mengerutkan kening. "Harusnya kan dia panggil Bapak. Karena ini dalam lingkup pekerjaan," kata Papa lagi. "Berarti Nina harus panggil Bapak juga dong," kata Nina. "Ya beda lah. Kamu kan anak Papa. Kamu bebas mau panggil Papa atau Bapak. Lagian Papa juga lihat kamu tau situasi kondisi kapan harus panggil Papa atau Bapak," ucap Papa lagi. "Ya mungkin dia ngerasa karena Papa itu Papanya Nina. Nina kan temannya dia," sahut Nina masih tetap memberikan penilaian yang positif pada Rena. Papa menghela nafas. "Yang pasti dan penting, kamu harus bisa membedakan mana orang yang tulus dan mana orang yang tidak tulus." Nina mengangguk, tak membantah ucapan Papa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN