Nina dan Yuda baru saja keluar dari ruangan Papa setelah mengantarkan laporan keuangan yang Papa minta.
"Oh iya. Aku baru ingat kalau aku harus mengecek progres pembangunan SPBU," kata Yuda begitu mereka sampai di depan lift.
"Kalau gitu aku balik ke ruangan Papa dulu ya, Mas. Aku mau tanyain soal lowongan kerja buat temen aku itu," ucap Nina.
"Aku jalan dulu ya. Dah," pamit Yuda melambaikan tangan lalu menekan tombol di di dinding lift.
Begitu pintu lift tertutup, Nina berbalik dan kembali berjalan menuju ruangan Papa.
"Nin," ucap Papa menoleh sejenak ke arah anak perempuannya itu lalu kembali fokus mengecek laporan yang ada di tangannya. Banyak pengeluaran perusahaan yang sepertinya tidak ia ketahui. Duduk di kursi yang ada di hadapan Papa, Nina menunggu Papa selesai mengecek laporan keuangan itu. Jemari tangannya memainkan mainan kecil kucing pemanggil rezeki yang Papa letakan di atas mejanya.
Terdengar suara helaan nafas Papa yang begitu berat, seraya meletakkan berkas di tangannya.
"Papa kira kamu ikut sama Yuda," kata Papa.
"Nggak, Pa. Tapi memangnya Papa lagi bikin SPBU ya?" tanya Nina memastikan apa yang Yuda bilang tadi.
"Iya. Proyeknya masih baru jalan. Mau Papa bikin itu untuk kamu," ucap Papa dengan senyum di wajahnya.
"Buat Nina, Pa? Nina kan sudah kerja di sini, Pa?"
"Kan nanti kamu bisa pekerjakan orang-orang di sana. Itu sebagai hadiah buat kamu karena kamu selalu memberikan yang terbaik buat Papa dan Mama, juga keluarga besar kita," kata Papa lagi.
Mendengar ucapan Papa itu seketika mata Nina berkaca-kaca. Tak menyangka keluarga yang mengangkatnya menjadi anak begitu sayang dan melimpah begitu banyak finansial untuknya.
"Papa," ucap Nina lirih, "Nina beruntung sekali bisa menjadi anak Papa Mama dan masuk ke dalam keluarga yang sangat hangat ini." Nina menyeka sudut matanya yang mulai basah akibat air mata yang perlahan keluar. Ia begitu terharu dengan kebaikan dan perhatian Papa.
"Kita semua sama-sama beruntung saling memiliki dan melengkapi," kata Papa.
Pintu ruangan Papa diketuk dari luar kemudian masuk seorang pria dengan kemeja berwarna hijau tosca.
"Permisi, Pak," ucap pria itu berjalan mendekati meja Papa. Pria paruh baya itu tersenyum pada Nina.
"Ada apa, Pak Naryo?" tanya Papa pada pria bernama Naryo yang merupakan head untuk divisi HRD.
"Ini ada permintaan penambahan karyawan di beberapa divisi, Pak," ucap Pak Naryo sambil meletakkan satu map berwarna coklat di meja Papa.
"Ada karyawan kita yang keluar?"
"Ada beberapa, Pak. Ada yang alasannya ikut suami pindah tugas, ada yang berhenti karena anak, ada juga yang berhenti karena mau merid, Pak," jawab Pak Naryo menjelaskan.
"Ya sudah, kalau begitu kamu pasang iklan lowongan kerja," kata Papa yang langsung di iyakan oleh Pak Naryo.
Nina memasang senyum penuh arti menatap Papa begitu Pak Naryo keluar dari dalam ruangan.
"Berarti teman Nina boleh dong apply lamaran kerja, Pa?"
"Tentu boleh. Masukin aja," sahut Papa.
"Pasti diterima kerja disini kan, Pa?"
"Ya kan dilihat dulu kemampuannya, masa ia asal terima orang kerja," kata Papa.
Nina memanyunkan bibirnya.
"Iya nanti bisa dibantu lah," lanjut Papa.
"Makasih ya, Pa. Nina balik ke ruangan dulu ya." Dengan wajah berseri ia keluar dari ruang dan kembali ke ruangan.
Sebelum masuk ke dalam ruangannya, ia melihat ruangan Yuda yang masih kosong.
'Belum balik' gumam Nina seraya masuk ke dalam ruangan.
Duduk di depan laptopnya, Nina meraih ponsel kemudian menghubungi Rena.
"Halo. Lagi apa, Ren?"
"Lagi liatin lowongan di koran, Nin. Ada apa?"
"Ini, kantor Papa lagi ada lowongan kerja. Kamu masukin aja lamaran nanti bisa diatur," kata Nina begitu bersemangat.
"Bener?" Rena bertanya balik.
"Iya beneran. Masa aku bohong sama kamu. Gimana kalau aku ambil aja surat lamarannya ke tempat kamu habis aku pulang kerja," kata Nina menawarkan diri.
"Kamu pulang kerja jam berapa? Jam empat?"
"Setengah lima sih jam kantor. Memang kenapa? Gak ada kesibukan?"
"Aku siapin dulu lamarannya. Nanti sore kita ketemuan di luar aja," ucap Rena.
"Boleh. Nanti lanjut di chat ya," kata Nina kemudian mengakhiri panggilan itu.
***
Yuda melambaikan tangan dari depan pintu kaca ruangan Nina. Ia tampak siap untuk pulang. Menenteng tas tangannya, Nina berjalan keluar dari ruangan.
"Yuk, aku antar pulang," ajak Yuda.
"Aku pulang sendiri aja, Mas. Aku mau ketemu sama teman dulu sebentar," ucap Nina.
"Aku bisa antar kamu. Atau kamu gak mau aku antar karena kamu mau ketemu sama teman cowok kamu ya? Ya udah kalau gitu," ucap Yuda dengan ekspresi wajah yang sudah lain membuat Nina jadi merasa tak enak hati. Padahal ia tak ingin menyusahkan Yuda karena terus mengantarnya kesana kemari.
"Teman aku cewek kok, Mas. Mas Yuda juga tau. Itu Rena yang kita ketemu kemarin di mall," ucap Nina memberitahu.
"Kan aku bisa antar kamu, Nin?"
Yuda yang sedikit memaksa membuat Nina jadi tak enak. Ia akhirnya luluh juga dan membiarkan dirinya diantar Yuda untuk menemui Rena di tempat yang telah ditentukan.
Papa
Nina sama Yuda jalan sebentar ke cafe mau ketemu sama Rena, Pa.
Nina mengirim pesan terlebih dulu pada Papa sebelum Papa mencarinya.
"Cafe yang di depan sana kan, Nin?" Yuda memperlambat laju mobilnya saat lokasi yang mereka tuju sudah semakin dekat.
"Iya, Mas," sahut Nina.
Setelah mendapatkan tempat parkir, mereka berdua jalan beriringan berjalan masuk ke dalam cafe itu. Rena telah lebih dulu sampai di tempat itu dan memilih tempat duduk di deretan meja depan dekat dengan jendela kaca. Jadi mereka bisa melihat langsung keluar ke arah jalan raya dan trotoar tempat pejalan kaki.
"Eh aku kira kamu sendiri, Nin," kata Rena berdiri dengan wajah tersenyum menyambut Nina dan Yuda.
"Tadinya mau sendiri, tapi Mas Yuda mau ikut juga," sahut Nina tertawa kecil sambil melirik Yuda.
'Huh' gumam Rena dalam hati namun memasang senyum di wajahnya menatap Nina.
Sepanjang obrolan mereka bertiga, saat Nina sedang tak fokus sesekali Rena melayangkan senyum dan sentuhan tangan pada Yuda yang seolah tak sengaja padahal itu adalah sengaja.
"Surat lamarannya kamu bawakan kan, Ren?" tanya Nina mengalihkan pandangan Rena langsung.
"Bawa dong, Nin. Ini," sahut Rena mengambil amplop coklat yang ia letakan di kursi kosong yang ada di sampingnya.
"Mau masukin lamaran di mana?" tanya Yuda.
"Di perusahaan Papanya Nina, Mas," sahut Rena.
Yuda menatap Nina.
"Iya, Mas. Kebetulan beberapa divisi lagi perlu karyawan karena ada yang resign. Pak Naryo tadi laporan sama Papa," ucap Nina.
"Oh. Bakal seru dong kalian bisa satu kantor," kata Yuda.
"Iya. Aku sudah gak sabar, Ren." Nina menatap Rena penuh semangat.
"Sama, Nin. Jadi tukang suruh-suruh kamu juga gak papa, asal bisa kerja di perusahaan Papa kamu," kata Rena setengah bercanda. Setengahnya lagi seperti serius tapi mengandung unsur sindiran yang tak Nina sadari.
"Ih apa sih kamu, Ren? Ya gak mungkin lah," cetus Nina langsung membantah ucapan Rena. Sebagai teman mana mungkin ia membiarkan Rena mendapatkan pekerjaan yang tak sesuai apalagi di perusahaan milik orang tuanya.
"Ya kan kasarnya, Nin. Aku mah yang penting kerja. Kerja apa aja. Bosan gak ada kegiatan di rumah," ujar Rena lagi.
"Iya. Kamu tenang aja, Ren. Pasti diterima kok." Nina memastikan.
Yuda yang tak ikut banyak dalam obrolan mereka diam-diam memperhatikan Rena. Wanita yang ada di depannya ini seperti menyimpan suatu hal yang membuatnya penasaran.
"Mas, sudah jam segini," ucap Nina menunjukkan jam tangannya.
"Mau pulang?" tanya Yuda.
"Iya. Aku juga mau pulang." Rena menyahut.
Beranjak dari kursi bersamaan, Rena dan Nina saling berpelukan sejenak sambil pamitan pulang.
"Makasih banyak ya, Nin," ucap Rena selesai berjabat tangan dengan Yuda.
"Sama-sama, Ren. Kita kan teman?" Nina tersenyum yang dibalas Rena juga dengan senyuman.
Hampir sampai di depan pintu keluar, tampak seorang pria dan anak kecil laki-laki bergandengan masuk. Langkah kaki Nina terhenti sementara Yuda dan Rena tetap berjalan keluar dari tempat itu. Netranya seperti tertarik untuk terus menatap ke arah pria dan anak kecil itu. Selang beberapa detik, anak kecil dan pria tadi sama-sama menoleh ke belakang dan tersenyum ke arah Nina. Belum sempat membalas senyuman mereka, Yuda datang dan meraih pergelangan tangan Nina.
"Kamu ngapain? Ayo," ajak Yuda.
"Eh, Iya." Nina berjalan mengikuti Yuda. Ia masih menengok ke belakang sekilas kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
"Siapa, Pa?' tanya anak kecil itu.
"Lupa. Tapi kayak kenal. Sudah lupain aja, kita pesan es krim yuk," ucap pria sambil tersenyum. Mengingat wajah Nina tadi.