Malam Mingguan

1012 Kata
Setelah mendapatkan izin dari Papa dan Mama, Yuda dan Nina pergi mengendarai mobil menuju salah satu mall untuk menonton film. Malam minggu dan suasana mall cukup ramai malam itu. "Antriannya banyak, Mas," ucap Nina begitu mereka tiba gedung bioskop. "Aku udah pesen online kok, Nin. Tenang aja. Yuk," ajak Yuda menggandeng tangan Nina. Berjalan diantara kerumunan orang-orang, mereka berhenti di salah satu meja yang berada di ujung. "Ini Mbak saya sudah beli tiket online," kata Yuda menunjukkan layar ponselnya. "Baik. Sekalian minum dan popcornnya?" "Boleh, Mbak," sahut Yuda menatap Nina. "Mau paket yang mana? Kita lagi ada paket couple, dua minuman dan satu popcorn ukuran extra large," ucap Mbak itu menawarkan. "Iya, yang itu aja, Mas." Nina mengiyakan tawaran Mbak itu. Mendapatkan tiket serta minuman ringan dan popcorn, mereka segera menuju ke studio lima tempat film yang akan mereka tonton berada. "Pelan-pelan, Nin," kata Yuda menggandeng tangan Nina, menuntunnya menuju kursi sesuai nomor yang tertera pada tiket. Satu per satu kursi mulai dipenuhi oleh penonton, hingga jam diputarnya film tiba. "Senang banget bisa jalan berdua sama kamu, Nin," bisik Yuda sangat dekat di telinga Nina. Untung lampu telah redup jadi wajah Nina yang memerah tak terlihat oleh Yuda. Sambil menikmati popcorn, mereka begitu hanyut dalam romantisnya cerita film yang disajikan. Sesekali tangan mereka saling bersentuhan saat mengambil popcorn. Film berdurasi hampir dua jam itu akhirnya selesai juga mereka tontonan. Menunggu sebagian orang keluar dari ruang bioskop, Yuda dan Nina baru keluar saat ruang bioskop hampir sepi agar tak berdesakan. "Seru filmnya ya," ucap Nina mengomentari film tadi. "Apalagi waktu adegan dia ngelamar. Aku jadi terinspirasi," tukas Yuda. "Terinspirasi buat apa?" tanya Nina tak paham. "Buat ngelamar kamu," kata Yuda nyengir, "eh, maksudnya." Yuda tertawa kecil tak meneruskan ucapannya, membuat Nina tersipu malu. "Kamu, ih," ucap Nina seraya menyelipkan rambutnya di balik telinga. Turun dua lantai, Yuda mengajak Nina untuk makan di salah satu restoran korea terlebih dulu sebelum pulang. "Masih mau nambah?" tanya Yuda. "Sudah, Mas. Aku udah kenyang banget," sahut Nina seraya membersihkan mulutnya dengan tisu. Mereka lalu keluar dari tempat itu setelah membayar makanan yang mereka pesan tadi. "Sekarang kita mau kemana lagi?" tanya Yuda. "Mau kemana lagi ya?" Nina melirik jam tangannya, "mungkin pulang, Mas. Udah jam setengah sepuluh." "Pulang?" ulang Yuda. Nina mengangguk. "Oke. Kita pulang." Di perjalanan menuju tempat parkir, Nina melihat Rena yang baru keluar dari salah satu toko pakaian. "Ren," panggil Nina. "Hai, Nin," sahut Rena berbalik arah seraya berjalan mendekat lalu memeluk Nina sesaat. "Sendirian?" tangan Nina. "Iya," sahut Rena lalu memasang wajah sendu. Ia lalu melirik ke arah Yuda yang berdiri tepat di samping Nina. "Udah mau pulang ya?" sambung Rena. "Iya. Sudah jam segini," kata Nina. Nina dan Rena berjalan berdampingan, sementara Yuda mengikuti dari belakang. "Gimana, kamu udah kerja, Ren?" tanya Nina pada Rena. "Belum, Nin. Sudah masukin lamaran ke beberapa perusahaan, tapi belum ada panggilan," sahut Rena dengan helaan nafas panjang. "Semoga cepat dapat panggilan ya, Nin," harap Nina. Rena mengangguk pelan. "Di perusahaan Papa kamu gak buka lowongan, Nin? Kali aja aku bisa masukin lamaran. Kan seru kalau kita bisa satu tempat kerja." "Setahu aku belum ada sih, Ren. Tapi nanti aku coba tanya Papa ya. Secepatnya aku bakal kasih info sama kamu," ucap Nina. "Makasih ya, Nin," sahut Rena merangkul tangan Nina. "Iya, Ren. Kamu pulang sama siapa? " "Ini tadi sudah pesan taksi online," ucap Rena menunjukkan layar ponselnya, "eh, udah mau nyampe." "Hati-hati ya, Ren," ucap Nina. Mereka saling berpelukan kemudian berpisah. Yuda menoleh ke belakang yang ternyata juga dilakukan oleh Rena. Memasang senyumnya, Rena menatap Yuda beberapa detik kemudian masuk ke dalam taksi onlinenya. "Yang tadi itu teman kuliah kamu kan, Nin?" tanya Yuda saat mereka baru keluar dari gedung bertingkat itu. "Iya, Mas. Namanya Rena. Kira-kira di kantor ada lowongan gak sih, Mas?" "Lowongan? Buat apa?" tanya Yuda. "Buat Rena tadi, Mas. Sampai sekarang dia belum kerja katanya, padahal udah masukin lamaran di beberapa perusahaan," ucap Nina. "Setahu aku sih belum ada. Coba nanti aku tanya ke bagian HRD." "Iya, Mas. Nanti Nina juga tanya sama Papa," ucap Nina. Setibanya di rumah, Yuda mengantarkan Nina sampai kedepan pintu. Papa dan Mama yang belum tidur karena menunggu Nina pulang, membukakan pintu saat bel rumah berbunyi. "Pak Marcel, Bu Dahlia, saya pamit ya," kata Yuda. "Hati-hati ya, Yud," sahut Papa seraya menepuk pundak Yuda. Mama merangkul pundak Nina dan mengajaknya masuk. Menanyakan apa saja yang Nina dan Yuda lakukan saat pergi jalan tadi. "Sekarang tidur ya," ucap Mama. "Selamat malam, Nina." Papa dan Mama bergantian mencium kening Nina. *** Setelah olahraga kecil di teras belakang menggunakan alat olahraga, Papa duduk sambil menikmati teh hangat yang disajikan oleh Mama. "Nina sepertinya senang jalan dengan Yuda kemarin, sampai jam segini belum bangun," kata Papa membuat Mama tertawa. "Itu, Papa tanya sendiri sama anaknya," ucap Mama seraya membuka tangannya lebar dan menyuruh Nina yang baru bangun untuk duduk di sampingnya. "Mimpinya indah banget ya, makanya baru bangun, Nin," kata Papa. "Nina gak mimpi apa-apa, Pa. Nina nonton film jadinya telat bangun, Papa," ucap Nina beralasan sambil menutup mulutnya yang menguap lebar. "Kali aja. Tapi kamu senangkan jalan kemarin sama Yuda?" "Iya, Pa," sahut Nina tersipu malu, "oh iya. Di kantor lagi ada lowongan pekerjaan gak sih, Pa?" "Lowongan pekerjaan?" tanya Papa. "Buat siapa, Nin?" Mama juga ikut bertanya. "Itu buat teman kuliah Nina, Ma, Pa. Namanya Rena. Kemarin Nina ketemu sama dia di mall. Cerita-cerita, pas Nina tanya tentang kerjaan, dia bilang belum kerja. Padahal udah masukin lamaran dimana-mana. Mungkin ada lowongan di kantor, jadi Nina bisa suruh dia buat nyoba," kata Nina. "Oh. Sampai sekarang sih belum ada surat permintaan penambahan karyawan dari bagian HRD ke tempat Papa. Nanti Papa coba tanya ke divisinya langsung," ucap Papa seraya menyapu keringat dengan handuk kecilnya. "Iya, Pa. Makasih ya, Pa. Nina kasihan sama dia belum dapat kerja juga, padahal wisuda udah beberapa bulan yang lalu." "Iya." Teringat ucapan Rena kemarin. Ia juga jadi tak sabar ingin satu kantor dengan Rena. Ia sudah membayangkan akan seru satu kerjaan dengan teman dekatnya itu. Bisa makan siang bareng dan melakukan hal-hal lain bersama-sama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN