Bangun kesiangan, pagi ini Nina harus pergi ke kantor sendiri. Itu yang ada dalam pikirannya.
"Papa sudah lama pergi ke kantor ya, Ma?" tanya Nina duduk di meja makan.
"Sudah dong, Sayang. Sekarang sudah jam sembilan," sahut Mama sambil melirik jam di tangannya.
Nina menyendok nasi goreng ke piringnya.
"Tumben kamu kesiangan, Nin? Begadang malam tadi?" tanya Mama.
"Iya, Ma. Nonton film sampe jam tiga pagi," ucap Nina sambil mengunyah makanannya.
"Ampun deh kamu, Sayang." Mama menggelengkan kepala.
Dari depan Bi Tuti menghampiri dan memberitahu kalau Yuda menunggu di depan.
"Hah!" Nina kaget. Sama sekali gak menyangka.
"Yuda karyawan Papa di kantor?" tanya Mama menatap Nina.
"Ini pasti kerjaan Papa," tukas Nina.
"Papa sudah cerita semuanya. Kamu sendiri gimana, Nin?" Mama menatap Nina.
"Apa yang Papa dan Mama mau, Nina pasti bakal turuti," sahut Nina.
"Bukan seperti itu yang Mama mau. Perasaan dan hati kamu juga yang terpenting, Sayang."
Wajah Nina bersemu merah. Rasanya malu mengatakan kalau ia juga suka dengan Yuda.
"Mama gak perlu khawatir soal itu. Apa yang membuat Mama sama Papa bahagia, sudah pasti juga membuat Nina bahagia," kata Nina menenangkan rasa khawatir Mama. Ia menyudahi sarapannya dan meminum segelas air.
Menggandeng tangan Mama, Nina berjalan menuju ruang tamu menemui Yuda.
"Selamat Pagi, Bu Dahlia," sapa Yuda sambil bangkit berdiri.
"Pagi, Yud," balas Mama ramah
"Ma, Nina pergi dulu ya," pamit Nina sambil mencium punggung tangan Mama.
"Kalian hati-hati ya." Mama melambaikan tangan pada Nina dan Yuda.
Mama masih berdiri di depan pintu menatap ke arah pagar yang ditutup perlahan oleh Pak satpam.
'Semoga kamu selalu bahagia ya, Sayang. Mama sama Papa akan selalu ada dan mendoakan yang terbaik buat kamu, Nin' batin Mama dalam hati. Setelah sekian puluh tahun merawat dan membesarkan Nina, kini ia harus bisa merelakan bahwa anak perempuan mereka telah tumbuh dewasa dan akan memiliki pasangan nantinya. Walau jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tak akan bisa dengan mudah merelakan dan melepaskan anak perempuannya itu.
Nina langsung menemui Papa di ruangan begitu tiba di kantor.
"Maafin Nina ya, Pa," ucap Nina mendekat.
"Emangnya kamu bikin salah apa, Sayang?"
"Nina hari ini bangun kesiangan," ucap Nina pelan.
"Cuma bangun kesiangan aja kamu minta maaf. Sudah kamu siap-siap. Ikut Papa sama Yuda ketemu klien," ucap Papa.
Nina langsung mendekat dan membantu Papa membawakan beberapa berkas.
Bertemu di lobby kantor, Yuda membukakan pintu mobil untuk Papa dan Nina. Tak banyak ikut dalam pembicaraan Papa dan Yuda, Nina memilih untuk menatap keluar jendela sesekali mendengarkan pembicaraan mereka.
"Kita sudah sampai, Pak," ucap Yuda yang lebih turun.
"Kita langsung masuk aja," kata Papa. Berjalan di samping Papa, Nina sedikit gugup karena ini pertama kalinya ia ikut dengan Papa bertemu dengan klien. Untung saja selama pertemuan, Nina bisa mengimbangi pembicaraan mereka. Dengan segala pengetahuan yang ia miliki.
***
Bersantai di ruang keluarga setelah selesai makan malam, Papa dan Mama kembali menanyakan mengenai Yuda pada Nina.
"Nina jadi malu deh, Papa sama Mama bahas Yuda terus," celetuk Nina.
"Papa hanya mau menyakinkan diri bahwa kamu gak terbebani dengan permintaan Papa."
"Enggak sama sekali, Pa. Papa sama Mama gak perlu khawatir."
"Kalau kamu sudah bilang begini, Papa jadi tenang. Papa sangat berharap kamu sama dia cocok."
"Mama juga jadi ikut tenang, Pa," timpal Mama.
Terdengar suara dari depan.
"Ada tamu ya," kata Mama.
"Biar Nina yang buka, Ma," kata Papa menatap Nina.
"Nina?" ulang Nina.
"Kalian santai aja bicara di ruang tamu depan. Tadi Papa yang minta Yuda main ke rumah kalau dia gak sibuk," tukas Papa.
"Kalau gitu Nina ganti baju dulu deh," sahut Nina yang sedari tadi telah memakai baju tidurnya. Tanpa menunggu respon dari kedua orang tuanya, Nina bergegas menuju kamarnya dan berganti baju.
"Mama kayaknya gak rela kalau Nina sudah sebesar ini, Pa," ucap Mama mendekat pada Papa.
"Nina menikah dan pergi ikut suaminya. Gak tinggal di rumah ini sama kita lagi," lanjut Mama.
"Itu namanya siklus kehidupan, Ma. Bayi, anak-anak, remaja, dewasa, lalu menikah. Sama kayak Mama kan? Setelah menikah ikut sama Papa kan?" Papa mengumpakannya.
"Walau Nina bukan lahir dari rahim Mama, tapi rasanya dia sudah seperti anak kandung Mama, Pa."
"Begitu juga yang Papa rasakan, Ma. Karena itu Papa sendiri yang mencarikan pasangan yang cocok untuk Nina. Sifat dan perilakunya Papa jamin, good. Papa jadi semakin yakin untuk mewariskan semuanya sama Nina. Didampingi Yuda, pasti mereka bisa membuat lebih besar lagi perusahaan kita. Dan Papa bisa menikmati waktu santai dengan Mama."
"Iya, Pa. Kita sudah lama gak liburan berdua ya. Papa sibuk terus sih," kata Mama sedikit cemberut.
"Papa urus secepatnya, setelah itu kita bisa liburan berdua, Ma. Mama mau kemana? Luar negeri?"
"Papa yang atur, Mama sih ngikut aja asal sama Papa," ucap Mama mencoba menggombal.
Sementara itu di ruang tamu, Nina dan Yuda terlihat asyik mengobrol berdua. Sesekali tertawa dengan lelucon yang Yuda lontarkan.
"Mas Yuda ternyata lucu juga ya," ucap Nina terkekeh.
"Kamu juga lucu. Apalagi kalau ingat kejadian di lift waktu itu," kata Yuda.
"Mas Yuda ih." Nina menutup wajahnya malu.
"Hahaha. Masih malu? Kan udah lama. Iya, iya, aku minta maaf," ucap Yuda membuat Nina membuka wajahnya.
"Mas Yuda ini di Jakarta tinggal sama orang tua?" tanya Nina ingin tahu.
"Sendiri. Semua keluarga ada di Solo."
"Oh, jadi merantau ya di Jakarta, Mas?"
"Bisa dibilang kaya gitu sih. Lulus sekolah, aku lanjut kuliah di Jakarta. Sampai sekarang, kerja di perusahaan Pak Marcel. Sebelum di sini, sudah tiga atau empat perusahaan tempat aku kerja dulu. Tapi cuma sebentar, paling lama ya di sini. Dan aku gak bakal nyari kerjaan lain lagi karena sudah nyaman kerja di tempat Pak Marcel."
Nina mendengarkan cerita Yuda.
"Oh iya, lain kali kita bisa jalan dong," lanjut Yuda.
Berjalan perlahan, Papa dan Mama membuat Nina dan Yuda kaget.
"Seru ya ngobrol." Papa dan Mama duduk di samping Nina.
"Hehe, iya, Pak."
Lanjut mengobrol dengan Papa dan Mama, Yuda akhirnya pamit pulang saat waktu telah menunjukkan pukul setengah sepuluh.
Nina merasa nyaman dan nyambung saat ngobrol berdua dengan Yuda barusan. Sedikit demi sedikit ia memulai membuka lebar hatinya untuk mengenal Yuda lebih dalam. Walau ia menaruh hati pada pria itu, ia juga ingin tau cerita Yuda yang lain.