Perasaan Tak Suka Rena

1045 Kata
"Iya aku pasti datang, Ren. Siang kan? Nanti aku jam setengah dua ke kampus," ucap Nina di ujung telepon. Rena menghubungi dan meminta Nina untuk datang di acara sidang akhirnya siang ini. "Aku tunggu ya, Nin. Dah," sahut Rena menyudahi panggilannya. Nina segera keluar kamar lalu menyusul Papa dan Mama yang telah lebih dulu sarapan. *** Menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Papa, pukul satu siang Nina meminta izin untuk keluar kantor sebentar. "Sama Yuda aja lah. Biar Papa telepon," kata Papa memegang gagang telepon "Pa, Pa. Jangan. Gak usah," dengan cepat Nina menahan tangan Papa. "Loh kenapa? Kan biar lebih aman kamu sama dia," ucap Papa. "Papa ada maksud terselubung ya," terka Nina menatap Papa. Meski Nina sebenarnya juga suka dengan Yuda, tapi ia agak ngerasa gimana gitu. "Terselubung sih enggak juga ya," kata Papa tersenyum menatap anaknya itu. Ia lalu mengajak Nina untuk duduk di sofa. "Selama bekerja dengan Papa, Yuda sama sekali tidak pernah mengecewakan Papa dan juga perusahaan. Papa selalu puas dengan hasil kerjanya. Dia juga baik, gak pernah terlihat macam-macam." Papa begitu Yuda di depan Nina. "Lalu?" Selidik Nina. "Sebagai seorang wanita, Papa yakin kamu ada rasa ketertarikan sama dia kan?" Wajah Nina perlahan bersemu merah. "Papa bisa lihat kok dari tingkah kamu kalau ada dia dan saat bersama dia," lanjut Papa lagi. Nina terbatuk kecil. "Papa ih, kenapa jadi ngomongin ini? Nina kan cuma mau minta izin keluar kantor sebentar." "Iya, Papa kasih kamu izin keluar kalau kamu perginya sama Yuda," ucap Papa memperjelas. "Tapi kan Nina bisa jalan sendiri, Pa." "Papa cuma mau kamu aman dan terjaga," kata Papa. "Sama supir aja kalau gitu, Pa. Kalau nanti Nina lama di kampus kan gak enak sama Yuda. Kerjaan dia jadi ketunda," tukas Nina. "Papa bakal tenang kalau kamu sama Yuda bisa jadi pasangan," ucap Papa membuat Nina terbelalak. "Papa mau jodohin aku sama Yuda?" Nina memperjelas. "Kamu setuju kan, Nin? Atau keberatan dengan ucapan Papa barusan?" "Papa tau Nina kan? Nina akan selalu menuruti semua perkataan Papa dan Mama," ucap Nina sambil tersenyum. Ia lalu memeluk Papa. 'Nina bakal mengikuti semua permintaan Papa' gumam Nina dalam hati. Selain wujud dari rasa terima kasih Nina, ini juga karena ia menyimpan rasa tertarik pada Yuda. Nina melepas pelukannya saat pintu ruangan diketuk. "Permisi, Pak," ucap Yuda di balik pintu. "Kebetulan sekali. Yud, kamu temenin Nina keluar sebentar ya," kata Papa. Nina melirik Yuda. "Baik, Pak. Untuk pekerjaan saya setelah ini gimana?" "Bisa kamu selesaikan setelah kamu sama Nina kembali ke kantor," ucap Papa. Sembari berdiri, Papa mengantarkan Nina pada Yuda sampai di depan pintu. "Pa, Nina jalan sebentar ya," pamit Nina sambil mencium pipi Papa. "Iya. Kalian hati-hati ya," pesan Papa pada mereka. *** "Memang mau ngapain ke kampus, Nin?" tanya Yuda dalam perjalanan mereka menuju kampus. "Temen aku hari ini sidang akhir, Mas. Jadi mau support dia. Kemarin waktu aku sidang, dia juga support aku," jawab Nina seraya minta berhenti sebentar di toko bunga. Nina ingin membawakan satu buket bunga untuk Rena. Setibanya di kampus, Nina dan Yuda langsung berjalan menuju ruangan tempat Rena menjalani sidang akhir. Tampak beberapa teman mereka yang lain sudah menunggu di depan. "Nin, aku sebentar ke toilet ya," kata Yuda. "Iya, Mas. Toiletnya ada di ujung sebelah kanan," sahut Nina sambil menunjuk. Nina segera menghampiri temannya yang lain. "Hai," sapa Nina yang disambut antusias temannya. Saling berpelukan mereka lalu duduk di kursi panjang. "Kirain kamu gak datang, Nin," ucap salah satu dari mereka. Pasalnya Nina terlambat lima belas menit dari waktu janjian mereka. "Pasti datang lah. Tadi ada kerjaan di kantor," jawab Nina, "gimana kerjaan kalian?" "Aku baru aja resign dari tempat kemarin." "Loh kenapa?" tanya Nina diikuti yang lain. "Tempat kerja dan salary sih oke, tapi karyawan yang ada di sana pada gak asik. Masa karena aku anak baru di sana, aku harus jadi babu mereka? Aku kan kerja di sana bukan main jadi pelayan mereka." "Astaga. Emang paling bener deh kalau kamu milih keluar dari tempat kerja kayak gitu. Toxic." "Jadi sekarang kegiatan kamu apa?" tanya Nina. "Nyantai aja lah dulu. Tapi sambil nyebar lamaran kerja juga." Percakapan mereka semua terhenti saat pintu ruangan terbuka. Dengan cepat mereka memasang senyum dan menyapa dosen-dosen yang keluar. Mereka lalu masuk ke dalam ruangan menemui Rena. Mengucapkan selamat dan memberikan hadiah yang mereka bawa. "Akhirnya selesai juga." "Selamat datang dunia kerja." Mereka bergantian memeluk Rena. "Selamat ya, Ren." Nina memeluk Rena. "Makasih ya kalian sudah datang. Kirain karena aku yang paling terakhir sidang, kalian pada gak bisa datang karena sudah sibuk kerja," ucap Rena dengan mata sedikit berkaca-kaca. "Ya enggak lah. Kita semua pasti ngusahain buat datang." Kompak mereka menjawab. Setelah semua peralatan yang Rena pakai saat sidang tadi beres, mereka semua keluar ruangan. Yuda yang duduk menunggu di luar sigap berdiri saat melihat Nina dan teman-temannya keluar. "Siapa?" bisik-bisik mereka. "Eh ini kenalin, Yuda," ucap Nina kemudian berpindah posisi, berdiri di samping Yuda, "teman satu kantor." Yuda memasang senyum lalu bersalaman dengan mereka satu per satu. "Eh, kita belum foto," celetuk salah satu dari mereka yang membuat Rena cepat melepaskan tangan Yuda setelah lima detik menggenggam tangan Yuda. Karena tak ada orang lain yang bisa dimintai tolong, Nina akhirnya meminta Yuda untuk mengambil foto mereka. "Minta tolong fotoin kita ya, Mas," pinta Nina dengan sopan sambil memberikan ponselnya. "Iya, Nin," sahut Yuda menerima ponsel Nina. Saling merangkul dan berdekatan, Yuda mengambil beberapa foto Nina dan temannya itu. "Kita ke cafe kampus dulu yuk. Aku traktir karena kalian sudah datang hari ini," kata Rena yang disambut anggukan kepala teman-temannya yang lain. "Ayo kita langsung." Mereka berjalan menuju cafe kampus yang letaknya tak jauh dari tempat itu. "Mas Yuda kalau mau pulang duluan gapapa, nanti Nina bisa pulang sendiri," ucap Nina. Ia tak enak membuat Yuda harus menunggu dan gabung dengan teman-temannya. "Gapapa. Kan sesuai dengan perintah Pak Marcel. Atau kamu gak mau aku temenin ya?" tanya Yuda. "Bukan gitu, Mas. Takutnya Mas Yuda bosan gabung sama temen-temen Nina." "Gak bosan lah, kan ada kamu juga," ucap Yuda tersenyum sambil mengedipkan satu matanya. "Mas Yuda ih," kata Nina malu-malu sambil mendorong pelan bahu Yuda. Rena yang berjalan paling depan, sedikit menoleh ke arah belakang. Menatap Nina dan Yuda yang tampak begitu akrab satu sama lain. Rasa dongkol perlahan menjalar dalam hatinya. Ia lalu membuang pandangan dan berjalan sedikit cepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN