Rencana Pensiun Papa

1122 Kata
Mengenakan dress hitam selutut dipadukan dengan blazer, Nina siap ke kantor bersama Papa. Setelah sarapan pagi, mereka langsung menuju kantor dengan diantar supir. "Sudah siap kerja kan?" tanya Papa membenarkan dasinya. 'Siap dong, Pa. Kan kemarin-kemarin sudah training sama mas Yuda," sahut NIna begitu sumringah. Ini adalah hari pertama NIna bekerja di kantor Papa setelah menyandang gelar sebagai seorang sarjana. "Kalau kamu sudah siap, jadi Papa bisa pensiun sekarang," ucap Papa. "Pensiun?" ulang Nina bingung. "Iya, Sayang. Apalagi? Kamu sudah selesai kuliah, tinggal meneruskan perusahaan kita. Sekarang Papa sama Mama hanya menunggu kamu menikah, dan kami sudah bisa menikmati waktu tua di rumah," lanjut Papa lagi. "Ya ampun Nina masih baru di perusahaan, Pa. Masa Papa sudah mau pensiun aja? Perusahaan Papa besar begitu. Nina takut ah," tukas Nina. Ia merasa tak siap mendengar ucapan Papa yang ingin pensiun dan menyerahkan perusahaan ke tangannya. "Takut apa, Nin? Kamu kan bisa belajar. Belajar sama Papa atau sama Yuda," ucap Papa dengan nada yang agak berbeda saat mengucapkan nama Yuda. "Ya tetep aja beda. Nina maunya Papa yang ngajarin Nina bukan yang lain. Lagian Papa masih muda, uban aja belum ada, masa sudah mau pensiun sih?" Papa tertawa kecil mendengar ucapan Nina. Mobil yang mereka kendarai berhenti di depan pintu masuk kantor. "Pagi Pak, Non Nina," sapa satpam membukakan pintu mobil. "Pagi, Pak Udin." Papa dan Nina kompak menyahut lalu berjalan masuk ke dalam kantor. Berjalan saling beriringan, mereka dikejutkan dengan kedatangan Yuda yang dengan tiba-tiba sigap menekan tombol lift. "Selamat pagi, Pak Marcel. Pagi, Nin." Yuda menyapa Papa dan Nina sambil mempersilahkan mereka berdua masuk. Papa dan Yuda terlibat obrolan kecil, sementara Nina hanya menyimak dan sesekali melirik Yuda. Hari ini Yuda terlihat begitu manis dengan kemeja berwarna soft pink yang ia kenakan. Keluar dari lift, mereka segera berpisah ke ruangan masing-masing. *** "Nina, kamu bawa ini ke ruangan Yuda ya. Biar dia periksa lagi berkasnya sebelum diberikan ke departemen keuangan," ucap Papa sambil memberikan memberikan beberapa berkas. "Oke, Pa. Nina bawa dulu ya," sahut Nina seraya menyambut berkas itu. "Kalau kamu mau makan siang, kamu bisa aja Yuda," kata Papa membuat langkah Nina yang hampir sampai di depan pintu terhenti. Nina berbalik dan memandang Papa bingung. "Papa makan siang sama siapa?" "Siang ini Papa ada janji temu sama temen Papa. Nanti Papa diantar supir," ucap Papa dengan senyum. "Sudah kamu cepat kasih berkasnya," lanjut Papa menghentikan langkah Nina yang ingin mendekati Papa lagi. "Iya, Pa." Nina keluar ruangan Papa. Senyum perlahan mengambang di bibir Nina. Tak bisa berbohong bahwa ia sebenarnya senang dengan usul Papa tadi. Mengetuk pintu ruangan Yuda, Nina lalu masuk ketika mendengar sahutan dari dalam. "Ini berkas dari Pak Marcel buat Mas Yuda," ucap Nina meletakkan berkas yang ia bawa di meja Yuda. "Formal banget kamu manggil orang tua sendiri dengan sebutan Pak Marcel, Nin," cetus Yuda. "Kan ini di kantor, gak enak aja kedengaran sama yang lain." "Kenapa meski gak enak? Toh mereka juga tau kalau kamu anaknya Pak Marcel," kata Yuda lagi. "Tetap aja gak enak, Mas." Yuda melirik jam tangannya. "Kita makan siang keluar yuk? Tapi kamu tunggu sebentar aku ngecek berkas ini." 'Akhirnya diajak makan siang sama Mas Yuda' batin Nina senang. Tampak luar, ia mencoba bersikap biasa. "Oh, boleh. Aku ambil ponsel sebentar, Mas," ucap Nina. "Iya. Aku tunggu di sini aja," sahut Yuda. Berjalan keluar ruangan Yuda, Nina kembali ke ruangan Papa. Tampak ruangan Papa sudah kosong. Sepertinya Papa sudah pergi makan siang. Meraih tasnya, Nina merapikan sedikit make upnya. Menatap cermin yang ada pada bedak padatnya, Nina tersenyum. "Tenang, Nin." Nina bicara pada dirinya sendiri. Ia tak ingin terlihat gugup ataupun grogi. Meski ini bukan makan siang pertamanya dengan Yuda, rasa excited itu selalu saja muncul. Menggenggam ponselnya, Nina kembali menemui Yuda yang ternyata telah berdiri menunggunya di dekat lift. "Berkasnya sudah selesai di cek, Mas?" "Sudah, Nin. Barusan di antar ke departemen keuangan," sahut Yuda bersamaan dengan terbukanya pintu lift. Mereka menyapa beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan di lobby sebelum masuk ke dalam mobil Yuda. Jalanan ibukota lumayan macet di jam makan siang seperti ini. Alhasil mereka sepakat untuk makan siang di restoran yang ada di sebuah mall yang jaraknya tak jauh dari kantor. "Gapapa kan kita makan di daerah dekat kantor aja?" tanya Yuda begitu mereka memasuki bangun megah yang memiliki beberapa lantai itu. "Gapapa, Mas. Kalau kita teruskan jalan muter-muter nyari tempat makan, yang ada jadinya makan sore bukan makan siang," sahut Nina. "Ah, kamu sudah lapar ya?" gurau Yuda. "Kan sudah masuk jam makan siang, Mas. Ya lapar dong. Emang Mas Yuda gak lapar?" Nina balik bertanya. "Iya lapar juga." Nina mengulum senyum. "Ya udah kita makan di situ yuk," ajak Yuda yang secara spontan menarik tangan Nina berjalan menuju salah satu restoran. Berjalan dengan tangan digandeng Yuda, jantungnya begitu berdebar. Baru kali ini Nina merasakan yang nama jalan berdua dengan lawan jenis. Yuda benar-benar memperlakukan Nina dengan baik. Ia sendiri secara khusus menanya dan memesankan makanan untuk Nina. "Enak makanannya," puji Nina saat menikmati makan siangnya. "Iya dong. Apa yang aku rekomendasikan selalu enak," sahut Yuda bangga. "Mas Yuda sering makan ke sini?" "Gak juga, Nin. Hanya sesekali kalau kebetulan lagi ke mall ini. Oh iya, gimana rasanya setelah akhirnya kamu resmi bergabung di perusahaan?" tanya Yuda di sela-sela aktivitas makan siang mereka. "Ya begitu lah, Mas. Seperti yang Mas Yuda lihat." "Kayak gak semangat gitu?" terka Yuda melihat ekspresi wajah Nina saat menjawab pernyataannya. "Aku baru aja masuk kerja di kantor, tapi Papa sudah bilang mau pensiun," tukas Nina. Yuda tersenyum dalam hati mendengar ucapan Nina barusan. Sepertinya satu jalan terbuka lebar untuk ia masuki. "Pensiun? Pak Marcel serius?" Yuda memastikan ulang. Takut ia salah dengar. "Iya, Mas. Kalau aku sih maunya Papa tetap ada di kantor buat ngajarin aku. Aku masih buta mengenai kantor. Cuma Papa yang bisa ngajarin aku," kata Nina lagi. "Semoga ucapan Pak Marcel itu cuman candaan ya, Nin," sahut Yuda. "Iya, Mas." "Tapi memangnya kamu belum siap dengan perusahaan Pak Marcel, Nin?" tanya Yuda menyelidik. "Perusahaan sebesar ini sudah pasti aku belum siap, Mas. Aku baru bergabung di perusahaan Papa, ilmu yang aku dapat belum seberapa. Apa jadinya perusahaan kalau aku belum ada pengalaman," kata Nina yang kemudian menyeruput lemon tea nya. "Kan bisa belajar, Nin. Sambil jalan sambil belajar," kata Yuda lagi. "Tetap aja beda, Mas. Ini perusahaan Papa dan aku gak ada hak atas perusahaan Papa." "Jelas ada hak dong kamu, Nin. Kamu kan anaknya Pak Marcel." Nina terdiam. 'Aku hanya anak angkat dari Pak Marcel ' gumamnya dalam hati. "Sudah jangan terlalu dipikirkan. Habisin makan siangnya aja dulu," ucap Yuda menenangkan. Nina mengangguk. 'Hak kamu dan akan menjadi hak aku sepenuhnya. Tunggu tanggal mainnya' gumam Yuda dalam hati sambil tersenyum licik menatap Nina yang tengah menghabiskan makan siangnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN