Hari yang sangat dinanti oleh Nina sekeluarga akhirnya tiba juga. Sejak pagi ia dan Mama sudah sibuk merias wajah yang dibantu salah satu make up artis papan atas yang dipanggil datang ke rumah.
"Bagus gak, Ma?" tanya Nina yang telah selesai di make up pada Mama.
"Bagus dong, Sayang. Cantik banget," puji Mama tersenyum lebar.
Nina memandang wajahnya di cermin. Memutar wajahnya sedikit ke kiri lalu ke kanan.
"Wes cantik, Mbak." Kali ini ia dipuji oleh wanita yang mendandaninya.
"Makasih ya, Mbak." Nina tersenyum. Sementara Mama masih di make up, Nina keluar dari kamar Mana menuju kamarnya. Mengenakan kebaya berwarna mint ia tampil begitu memukau.
"Cantik sekali anak Papa." Papa yang tengah menikmati kopinya, memuji Nina saat melintas di depannya.
"Makasih, Pa. Nina jadi malu," ucap Nina mesem-mesem.
Telah siap, dengan diantar supir mereka pergi ke salah satu hotel berbintang di Jakarta tempat acara wisuda kampus Nina digelar.
Sudah dipenuhi dengan mahasiswa yang akan wisuda, Nina berjalan agak susah menuju kursinya. Sementara Papa dan Mama menuju ke atas tempat tamu undangan.
Tahapan demi tahapan berjalan lancar. Satu per satu mereka dipanggil ke depan untuk proses memindah tali toga dari sebelah kiri ke sebelah kanan.
"Beruntung kita memiliki Nina ya, Ma. Pilihan Mama memang selalu yang terbaik," ucap Papa merangkul pundak Mama.
"Iya, Pa. Nina memang terlahir untuk menjadi anak kita, Pa. Anak yang begitu membanggakan. Mama sangat sayang sama Nina, Pa," ucap Mama.
"Papa juga, Ma."
Seseorang yang duduk di belakang mereka begitu panas mendengar percakapan kedua orang tua Nina itu. Ia begitu tidak terima.
***
"Nina, selamat ya." Dari arah belakang suara yang sangat Nina hafal menghampirinya.
"Makasih, Ren. Kamu cepat nyusul ya. Cepat kelarin revisinya buat cepat sidang akhir," ucap Nina merangkul Rena.
"Om. Tante." Rena tersenyum sambil mencium punggung tangan orang tua Nina.
"Cepat wisuda juga ya buat Rena," ucap Mama mengelus punggung Rena.
"Makasih, Tante. Nina mah enak dapat dosen pembimbing yang santai mana baik lagi mau bantuin," ujar Rena sedikit manyun.
"Ih, dosen pembimbing kamu juga enak kali, Ren," celetuk Nina.
"Sayang, ayuk kita jalan. Keluarga udah pada nungguin di rumah," ucap Papa menghentikan percakapan Nina dan Rena.
"Oh iya, Pa," sahut Nina, "Ren, aku balik duluan ya. Kamu kalau gak sibuk datang ke rumah ya. Ada acara syukuran. Kecil-kecilan."
"Makasih, Nin." Rena tersenyum kecil. Ia menatap Nina dan kedua orang tuanya yang pergi dengan sedikit amarah di hatinya.
Begitu tiba di rumah, keluarga dari Papa dan Mama sudah ramai menunggu. Masing-masing dari mereka bergantian memberikan ucapan selamat atas wisuda Nina.
"Makasih, Om. Makasih, Tante." Nina begitu senang dengan semua keluarganya yang datang di acara hari ini. Rasanya ia benar-benar menjadi anggota keluarga dari kedua orang tuanya ini. Tak terlihat perbedaan sikap dari keluarga besarnya meski ia hanya seorang anak angkat.
"Nin, jangan ganti baju, kita foto-foto dulu. Fotografernya sudah datang," ucap Mama saat melihat Nina berjalan ke arah kamarnya.
"Iya, Ma." Memutar badannya, Nina berjalan menghampiri Mama.
Mengambil foto di teras belakang, foto mereka sangat cantik karena bunga-bunga milik Mama engah bermekaran.
"Yuk kita foto keluarga besar," ajak Papa pada keluarga mereka.
Saling mengatur posisi agar mereka semua masuk dalam kamera, foto dua keluarga besar itu akhirnya jadi juga. Satu per satu mereka, kembali masuk ke ruangan tamu untuk menikmati hidangan yang telah tersedia. Mulai gerah dengan kebaya yang ia gunakan, Nina berjalan tergesa menuju kamarnya. Saking tergesanya ia menginjak bawahannya sendiri dan nyaris jatuh.
"Woops." Seseorang menahan tubuhnya.
"M-Mas Yuda!" Nina membelalakan matanya tak percaya siapa yang menahan tubuhnya agar tak jatuh.
"Hati-hati, Nona cantik," ucap Yuda. Senyumnya begitu membuat jantung Nina berdetak kencang.
"Makasih, Mas," ucap Nina pelan.
"Yud, kamu sekarang saya tunggu di ruang kerja ya," ucap Papa.
"Siap, Pak," sahut Yuda. Sementara itu Nina langsung kabur masuk ke kamar untuk berganti baju.
Makan bersama keluarga besar dan berkumpul bersama sepupu yang lain, sesekali Nina melemparkan pandangan matanya mencari Yuda.
'Masih sama Papa kayaknya' gumam Nina saat tak menemukan bayangan Yuda.
Di rumah kerja Marcel, mereka berdua tampak serius membahas satu proyek yang sedang mereka kerjakan.
"Pa, dipanggil Mama." Nina muncul di balik pintu.
"Sebentar ya, Sayang," sahut Papa sambil tersenyum. Tak sengaja ia memperhatikan Yuda yang tampak mencuri pandang pada Nina.
"Ehem." Batuk Papa membuat Yuda tersadar.
"Iya, Pak," kata Yuda kembali fokus pada Papa.
"Kamu suka sama anak saya?" Tanpa basa basi Papa langsung bertanya.
"Eh, anu. Ehm…" Yuda tampak gelagapan.
"Suka sama anak saya?"
"Saya gak berani, Pak. Hehe," sahut Yuda sambil nyengir.
"Saya kenal kamu sudah lama. Saya lihat kamu orang yang bertanggung jawab, pekerja keras juga. Saya yakin kamu bisa memberikan yang terbaik buat anak saya," ucap Papa.
"Ah, Pak Marcel terlalu memuji," sahut Yuda tak enak.
"Kan memang seperti itu kenyataannya. Kalau kamu mau berkenalan dengan Nina, silahkan. Saya tidak melarang." Papa memainkan pulpen di tangannya.
"Saya sangat tersanjung mendapatkan izin dari Pak Marcel."
"Sudah selesai. Kita keluar sekarang," ucap Papa beranjak dari kursinya diikuti oleh Yuda.
Tamu masih sangat ramai di ruang tengah saat Yuda dan Papa keluar dari ruang kerja. Melemparkan pandangan ke sekeliling ruangan, Yuda tak menemukan Nina. Ia berjalan perlahan menuju teras belakang dan menemukan Nina duduk sendirian sambil memainkan layar ponselnya.
"Sendirian aja," ucap Yuda membuat kaget Nina. Ponsel di tangannya hampir terjatuh.
"Eh." Nina sedikit gelagapan.
"Ngapain disini sendirian?" tanya Yuda mengambil posisi duduk disebelah Nina.
"Gak ngapa-ngapain, Mas. Tadi lagi asyik baca artikel aja di ponsel. Oh ya, Mas Yuda sudah makan?"
"Belum sih. Tadi kesini karena ada yang dibahas sama Pak Marcel. Eh, taunya di rumah kamu ada acara."
"Iya, Mas. Baru selesai wisuda," sahut Nina.
"Selamat ya atas wisudanya. Berarti siap bergabung di kantor dong," ucap Yuda sambil mengulurkan tangannya. Cukup lama Nina menyambut tangan Yuda.
"Makasih, Mas," sahut Nina. Dengan tangan yang masih bertaut, mata mereka saling beradu pandang untuk beberapa saat. Tatapan yang sulit Nina elakkan, seolah memiliki magnet agar ia tetap menatap mata hitam Yuda itu.
"Non. Non Nina." Suara panggilan Bi Iyem membuat Nina segera melepaskan tangan Yuda.
"Aduh, maaf. Bibi ganggu, Non," ucap Bi Iyem tak enak.
"Nggak, Bi. Ada apa, Bi?"
"Dicariin Ibu, Non. Ada tamu yang mau pulang," ucap Bi Iyem.
"Oh iya, Bi. Nina langsung ke depan," sahut Nina.
"Mas Yuda makan dulu. Nina ke depan sebentar ya," pamit Nina seraya mengantarkan Yuda ke meja makan.
'Pelan-pelan saja, Yud. Dia pasti akan kau dapatkan' batin Yuda menatap Nina.