Bertemu Pak Dokter Misterius

1850 Kata
Sambil menunggu jadwal wisuda dan untuk membiasakan diri dengan dunia kerja, Nina memilih untuk bekerja di kantor Papa. Selama beberapa hari ini ia tak hanya berada di satu departemen saja. Nina berkeliling departemen agar bisa mengerti apa tugas setiap departemen. "Jadi apa yang harus saya kerjakan, Pak?" tanya Nina begitu formal membuat Yuda tertawa. "Sudah mau tiga bulan lo, kamu masih aja gak rileks. Santai saja, Nona. Kamu bisa tetap memanggil aku dengan sebutan Mas, biar kita bisa lebih akrab," ucap Yuda sukses membuat Nina tambah gugup. "Jadi hari ini Nina ngerjain apa, Mas?" tanya Nina lagi. "Hari ini kamu ikut aku keluar. Kita ngecek beberapa tempat yang cocok untuk pertemuan Pak Marcel dengan beberapa investor dari Korea," ucap Yuda. "Keluar kantor? Kalau gitu aku mau ambil tas dulu di ruangan Papa." Nina dengan cepat keluar dari ruangan Yuda lalu berjalan menuju ruangan Papa. Masih dalam lantai yang sama hanya berbeda ruangan saja. "Pa, Nina keluar dulu ya. Diajakin Yuda nyari tempat buat meeting," ucap Nina langsung masuk ke ruangan Papa. "Iya, Sayang. Kalian hati-hati ya. Sekalian makan siang aja, ini hampir jam makan siang," kata Papa melirik jam tangannya. "Eh iya. Lalu Papa makan siang sama siapa?" tanya Nina. "Mama sudah di jalan mau ke sini. Nanti Papa makan siang sama Mama aja," sahut Papa. "Kalau gitu Nina jalan dulu ya, Pa." Nina mendekat dan memeluk Papa cc sebelum pergi. *** Dari sekian tempat yang mereka datangi, mereka menjatuhkan pilihan pada salah satu restoran yang ada di salah satu hotel bintang lima yang ada di Jakarta. Setelah melakukan reservasi dan membayar DP, mereka berdua meninggalkan tempat itu untuk mencari tempat makan siang. "Mau makan apa, Nona cantik?" tanya Yuda melirik Nina yang terdiam memandang ke arah jendela. "Terserah Mas Yuda aja. Nina ngikut aja." "Kalau gitu kita makan bakso aja, gimana?" usul Yuda. "Bakso? Kayaknya gak cocok deh buat makan siang, Mas," komentar Nina. "Katanya terserah," ucap Yuda. Nina nyengir. "Kita makan nasi aja, Mas. Kan lapar, nasi padang mungkin. Atau nasi-nasi yang lainnya," usul Nina. "Nasi padang aja ya. Yang pilihan lauknya banyak," lanjut Yuda yang langsung diiyakan oleh Nina. Mereka sampai di salah satu nasi padang legendaris yang sudah banyak buka cabang dimana-mana. "Disajikan aja ya, Mas," ucap Yuda pada salah satu pelayan saat mereka baru masuk. Ia memegang kedua bahu Nina, mengarahkan langkah kakinya menuju satu meja yang masih kosong. "Minum apa?" tanya Yuda lagi. "Es jeruk aja, Mas." 'Perhatian banget Mas Yuda' gumam Nina dalam hati. Semenjak bergabung di kantor, Yuda memang selalu tak pernah lepas memberikan Nina perhatian. Selalu menyapanya, menanyakan perlu bantuan apa, bahkan Yuda tak segan untuk mengambil air minum untuk Nina. "Hei, kamu ngelamun?" Yuda mengibaskan kedua tangannya di depan wajah Nina. "Eh, anu. Enggak, Mas. Lagi ngeliatin itu, mas-mas nasi padang yang lagi bawa banyak piring. Bisa gitu ya," sahut Nina cepat seraya menunjuk ke satu arah. "Kan sudah kerjaan mereka. Jadi harus terampil," ucap Yuda. Beberapa menit kemudian makanan dan minuman yang mereka pesan datang. Menikmati nasi padang dengan beberapa macam lauk, Nina tampak lapar sampai mengambil satu porsi nasi tambahan. "Lapar banget ya." "Nggak juga, Mas. Tapi kalau makan nasi padang saya pasti tambah nasi. Porsi nasinya kecil kan," ucap Nina. "Iya, iya. Percaya, percaya," sahut Yuda dengan mengulum senyum. Nina lalu beranjak dari kursi menuju toilet, hendak mencuci ulang tangannya. Langkahnya sedikit terburu hingga ia tak sengaja tersandung kabel yang berseliweran di lantai depan toilet. "Hati-hati," ucap seorang pria mengenakan jas berwarna putih khas seorang dokter. Ia mengulurkan tangan hendak membantu Nina berdiri. Sedikit ragu, Nina menerima uluran tangan pria itu. "Makasih, Pak. Hmm, maaf tangannya jadi kotor karena tangan saya," ucap Nina dengan wajah yang tak enak. Pria itu menatap tangannya lalu membauinya. "Gak papa. Cuma bau makanan aja," ucap pria itu tersenyum manis memperlihatkan lesung pipinya. Begitu pria tadi pergi, Nina lalu masuk ke dalam toilet dan mencuci ulang tangannya. Ia masih berpapasan dengan pria tadi saat berada di kasir. Tak sengaja melirik, pria itu malah memberikan senyum manis pada Nina. "Yuk, kita balik ke kantor," ajak Yuda membuat Nina memalingkan pandangannya. Sesampainya di kantor, Nina langsung menuju ruangan Papa sementara Yuda kembali ke ruangannya. Tampak Mama masih berada di sana. Menemani Papa bekerja. "Ma," sapa Nina meletakkan tasnya di sofa. Ia merangkul pundak Mama sejenak lalu duduk di sampingnya. "Sudah makan siang?" tanya Mama meletakkan majalah di atas meja. "Sudah, Ma. Tadi makan siang sama Mas Yuda." Papa terbatuk. "Papa ada apa?" tanya Mama. "Gapapa, Ma." Marcel mesem-mesem melihat Nina. Mama akhirnya mengerti apa maksud dari batuk Papa tadi. "Oh, Mama tau sekarang. Kamu dekat sama Yuda ya?" tebak Mama membuat wajah Nina memerah. "Mama, apaan sih?" Nina merengut. Malu. "Ih. Kan gapapa kali, Sayang. Kan wajar di usia kamu sekarang, sudah tertarik dengan lawan jenis. Sudah lulus kuliah, sekarang juga sudah kerja, lalu apa lagi?" "Harus punya pasangan," tambah Papa seraya meninggalkan kursi kerjanya lalu mendekati Nina dan Mama di sofa. "Papa sih, gak ngelarang kamu dekat sama Yuda. Dia orang baik, bertanggungjawab. Mandiri juga pekerja keras. Papa rasa dia tipe pria idaman semua wanita," ucap Papa "Nina cuma dekat karena kerja aja, Pa," sahut Nina dengan wajah menunduk "Anak kita malu, Pa," ledek Mama tertawa kecil. Nina lalu memeluk Mama, menyembunyikan wajahnya. *** Sebuah pesan masuk di w******p Mama, memberitahukan bahwa adiknya masuk rumah sakit. "Pa, Papa." Mama yang tengah duduk di ruang tengah memanggil Papa yang berada di teras belakang. "Ada apa, Ma?" tanya Nina menghampiri, karena mendengar suara Mama. "Tante Ani masuk rumah sakit," ucap Mama. "Kenapa, Ma?" Papa datang. "Kita ke rumah sakit, Pa. Ani masuk rumah sakit," ucap Mama. "Ani, adik Mama?" Papa memperjelas. "Iya, Pa," sahut Mama tampak gusar. "Nina ikut ya, Ma," ucap Nina menawarkan diri. "Iya, Sayang. Ayuk, Pa." Mereka masuk kamar dan berganti pakaian, kemudian bergegas menuju rumah sakit. Mama tampak cemas dengan keadaan adiknya itu. Pasalnya ini bukan kali pertama adiknya masuk rumah sakit. "Gimana?" tanya Mama pada Winda, sepupu Nina yang merupakan anak Tante Ani. "Masih di cek dokter, Tante," sahut Winda sedih. "Kalau Mama nanti pergi selamanya gimana, Tante?" tangis Winda. "Jangan bilang kaya gitu, Win. Mama pasti sembuh," ucap Mama menenangkan. "Pa, Nina beli minum dulu ya," bisik Nina di telinga Papa. "Beli minum di mana?" "Tadi Nina lihat ada tuh tanda panah arah ke kantin," bisik Nina lagi, "Papa mau minum juga?" "Air mineral aja. Kamu beliin juga buat Mama sama Winda," ucap Papa. "Nina sebentar ya, Pa," pamit Nina berjalan meninggalkan ruangan IGD. Berjalan mengikuti petunjuk arah, Nina sampai juga di kantin rumah sakit. Susana masih cukup ramai, ada beberapa perawat dan dokter yang terlihat lagi makan dan ngopi. Berjalan menuju salah satu lemari es berisi berbagai jenis minuman. Nina kemudian beberapa botol air mineral dan satu kotak kecil minuman jus buah. "Makasih, Bu," ucap Nina membayar barang belanjaannya. Ia lalu kembali berjalan menuju ruang IGD tempat orang tuanya menunggu. Merasakan ponselnya bergetar di dalam saku celananya. Nina berhenti sejenak lalu mengambil ponselnya. "Eh, Mas Yuda telepon," ucapnya saat melihat layar ponsel menampilkan nama orang kepercayaan Papa Itu. "Halo, Mas," ujar Nina menempelkan ponsel di telinga kirinya. "Kamu lagi di mana?" "Lagi di rumah sakit, Mas. Ini Tante masuk rumah sakit." "Oh gitu, ya sudah. Cepat sembuh buat Tantenya ya," ucap Yuda. "Iya, Mas. Terima kasih. Mas Yuda nelpon ada apa?" tanya Nina. "Mau dengar suara kamu aja," kata Yuda yang berhasil membuat wajah Nina memerah. Mengulum senyumnya, Nina berdiri mematung. "Hati-hati ya nanti kalau pulang," ucap Yuda lagi. "Iya, Mas." Menyimpan ponsel di saku belakang celananya, Nina berjalan begitu girang setelah menerima telepon dari Yuda. Terlalu girang hingga ia salah mengambil belokan. "Lah ini di mana?" Nina bingung saat menyadari ia telah salah jalan. Lorong rumah sakit yang tampak sepi. Ia mengambil langkah mundur dan merasakan kakinya menginjak sesuatu. Spontan ia berteriak. Menutup wajah dengan kedua tangannya hingga menyebabkan bungkusannya jatuh ke lantai. "Hei, hei, hei." Suara yang Nina yakin adalah suara orang, hingga ia berani berbalik dan membuka wajahnya. "Astaga," ucapnya sambil membuang nafas kasar. "Kamu kira saya apa?" tanya seseorang yang ternyata adalah pria yang Nina temui saat di rumah makan padang tadi siang. 'Yang tadi siang di rumah makan padang kan' gumamnya dalam hati. "Maaf, Pak Dokter. Saya mau ke ruang IGD tapi malah nyasar ke sini," ucap Nina. "IGD ada di depan. Kamu ke arah sana lalu belok kanan," ucap Pak Dokter itu mengarahkan tujuan Nina. "Makasih, Pak Dokter." Nina mengambil bungkusannya yang terjatuh lalu berbalik arah. Baru beberapa langkah menjauh, ia berbalik menatap dokter itu. Ia melihat seorang anak kecil menghampirinya memanggilnya dengan sebutan papa. "Papa? Kelihatan masih muda tapi anaknya sudah lumayan besar," komentar Nina masih dalam posisi menengok ke belakang. "Eh, kenapa jadi ngurusin orang lain?" Nina mempercepat langkahnya agar segera sampai di ruang IGD. *** Pagi-pagi sekali, Nina kembali ke rumah sakit tempat Tante Ani dirawat. Kemarin malam, Mama memutuskan untuk menginap di rumah sakit menemani Winda. Jadi pagi ini Nina mengantarkan baju ganti sekalian membawakan sarapan pagi untuk mereka. Begitu selesai memarkir mobil, Nina segera menuju kamar tempat Tante Ani dirawat. Syukur kondisi Tante Ani sudah semakin membaik. "Pagi," ucap Nina membuka pintu kamar. "Mama, Tante Ani, Winda," ucapnya lagi meng absen isi kamar. "Nina sayang, masuk." Mama melambaikan tangan pada Nina. "Ini baju ganti, Mama," ucap Nina menyerah tas kecil berisi baju ganti Mama yang ia bawa dari rumah. "Tante," sapa Nina berjalan menghampiri Tante Ani dan Winda. "Cepat sembuh, Tante." Nina mencium punggung tangan Tante Ani. Ia lalu mengajak Winda untuk sarapan pagi. Hingga pukul sepuluh Nina masih berada di rumah sakit. Menemani Mama yang masih ingin berada di sini. "Iya, Mas. Kayaknya hari ini gak ke kantor. Saya nemenin Mama di rumah sakit." Nina berbicara dengan Yuda di sambungan telepon. "Oke Mas Yuda," ucap Nina mengakhiri panggilan dari Yuda. "Kenapa, Nin?" tanya Mama yang baru selesai berganti pakaian. "Ini Mas Yuda nanya kenapa sampai jam segini belum ke kantor," terang Nina. "Kalau Nina mau ke kantor, gapapa. Mama di sini aja. Ada Winda juga," ucap Mama merapikan penampilan wajahnya. "Gapapa kalau Mama ditinggal? Tadi Nina sudah bilang sama Papa juga kalau hari ini gak ke kantor," terang Nina. "Ke kantor aja, Nin. Bantuin Papa biar kamu cepat ngerti urusan perusahaan," suruh Mama. Terus menerus dipaksa Mama untuk ke kantor, Nina akhirnya menuruti perkataan Mama. "Kalau Mama maunya gitu, ya sudah. Nina ke kantor dulu," ucap Nina seraya pamit pada Mama, Tante Ani dan juga Winda. Tak tau apa yang dipikirkannya, Nina menabrak satu pintu yang terbuka ke arah luar. "Auw," jerit Nina tertahan sambil mengelus keningnya. "Aduh maaf, Mbak." Seorang wanita keluar dari ruangan itu dan langsung menutup pintunya. "Gapapa, Mbak. Tadi saya juga salah gak liat jalan," ucap Nina. "Mau dikasih obat dulu, Mbak. Salep gitu biar gak memar," ucap wanita itu yang Nina tebak dari bagian obat karena aroma obat jelas tercium. "Gak usah, Mbak. Ini gak sakit kok," ucap Nina seraya meneruskan langkahnya. "Macam-macam aja kejadian," umpatnya berjalan cepat menuju pintu keluar. Baru saja menuruni satu anak tangga, matanya melihat pria itu lagi, Pak Dokter tengah bergandengan tangan dengan anak kecil yang ia lihat kemarin. Dokter yang dulu yang sudah Nina lupakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN