Pesona Seorang Yuda

1150 Kata
Setelah sebelumnya sidang pertama Nina berjalan lancar, serta melalui beberapa kali revisi dan konsultasi dengan dosen pembimbing, Hari ini Nina akhirnya menyelesaikan sidang akhirnya dengan nilai sangat memuaskan. Papa dan Mama, secara khusus meluangkan waktu untuk menunggu Nina di kampus. "Selamat ya, Sayang." Papa dan Mama memeluk Nina bergantian. Beberapa teman Nina yang ikut mendampingi juga memberikan selamat dan hadiah untuk Nina. "Selamat ya, Nin. Aduh, aku gak sabar pengen cepat sidang juga kayak kamu," ucap Rena memeluk Nina. "Makasih ya, Ren. Amin, cepet nyusul biar kita bisa cepat kerja," jawab Nina. Untuk beberapa saat Papa dan Mama membiarkan Nina menghabiskan waktu bersama temannya, sebelum pamit pulang. "Aku duluan ya," ucap Nina seraya melambai, kemudian bergelayut manja pada lengan Mama. Melihat pemandangan harmonis itu membuat teman-teman memuji keluarga Nina. "Beruntung banget ya, Nina, orang tuanya perhatian banget," ucap salah satu dari mereka. Kembali, seseorang mengamati kepergian Nina bersama orang tuanya. Sepasang mata yang menatap tajam dengan hati yang semakin iri. *** Merayakan lancarnya sidang akhir Nina, Papa telah memesan tempat di salah satu restoran untuk mereka makan malam. "Makasih ya, Sayang sudah buat Papa sama Mama bangga." "Iya, Sayang. Papa sudah gak sabar mau lihat kamu kerja di kantor, Papa." "Nina yang berterima kasih, sudah bisa merasakan indahnya keluarga." Nina menatap penuh arti pada kedua orang tuanya itu secara bergantian. Sekitar jam delapan malam, mereka meninggalkan restoran untuk pulang ke rumah. Begitu tiba di rumah, Nina langsung pamit pada kedua orang tuanya untuk istirahat dan masuk kamar. +62813xxxx Selamat ya atas sidang skripsinya. Yuda "Hah?!" Nina begitu terkejut membaca pesan di ponselnya. "Yuda karyawan Papa itu?" Nina mengecek foto profil orang yang mengirimkan pesan padanya. Benar sekali, ia tak salah lihat. Senyum manisnya menghiasi wajahnya. Dengan mata berbinar ia membalas pesan dari Yuda. "Halo. Iya Mas Yuda," ucap Nina mesem-mesem saat Yuda malah meneleponnya. "Kalau sudah selesai sidangnya berarti sudah bisa dijemput dong nih," ucap Yuda. "Dijemput gimana maksudnya, Mas?" tanya Nina bingung. "Dijemput buat jalan-jalan atau nonton film bioskop atau bisa juga makan." "Hah?" Nina makin mesem-mesem mendengar ucapan Yuda barusan. "Sudah boleh kan?" "Hmm, mungkin boleh," sahut Nina ragu-ragu. "Kok mungkin? Apa saya harus minta izin sama Pak Marcel dulu buat ngajak anaknya yang cantik ini untuk jalan-jalan?" "Hmm." Nina kembali berdehem. Bingung harus menjawab apa. Ia sendiri belum pernah yang namanya jalan berdua saja dengan lawan jenis. "Nin, kamu masih di sana apa sudah tidur?" tanya Yuda karena tak kunjung mendengar suara Nina. "Eh iya, Mas. Sudah malam, Nina sudah ngantuk. Nina tidur duluan ya, Mas. Selamat malam, Mas Yuda." Nina langsung mematikan sambungan telepon dari Yuda. Sambil terus tersenyum ia menarik selimut lalu menutupi seluruh badannya. Sementara itu, di rumahnya, Yuda kembali memandangi foto Nina yang ia tempel di dinding kamarnya. *** Bangun agak siang, Nina mendapati Mama tengah santai membaca majalah di ruang tengah. "Sudah bangun, Sayang?" "Iya, Ma. Maaf bangunnya agak siang ya," ucap Nina yang kemudian duduk di samping Mama. "Sekali-kali gak apa-apa. Hari ini kegiatan kamu apa?" tanya Mama menutup lalu meletakkan majalah yang ia baca tadi di atas meja. "Ini mau ke kampus sih, Ma. Beresin revisian skripsi," jawab Nina. "Nanti Mama ikut ke kantor Papa ya," ucap Mama. "Iya, Ma. Kalau gitu Nina mandi dulu." Meninggalkan ruang tengah, Nina kembali masuk ke kamarnya dan bersiap-siap. Ada sedikit rasa senang di hatinya saat Mama bilang mau ke kantor Papa. Itu artinya akan ada kesempatan untuk Nina bertemu dengan Yuda. Memoles lipstik berwarna nude membuat penampilan Nina tampak manis. Begitu selesai sarapan pagi, ia dan Mama pergi menuju kantor Papa. "Nina gak langsung ke kampus?" tanya Mama kala melihat Nina juga ikut melepas seatbeltnya saat mereka sampai di depan lobby kantor. "Mau ketemu sama Papa dulu, Ma," ucap Nina beralasan. "Oke," sahut Mama. Memberikan kunci mobil pada petugas parkir, mereka berdua masuk lalu menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai tempat Marcel berkantor. Mendekati lantai delapan, jantung Nina mulai berdebar kencang. 'Kira-kira ketemu sama Mas Yuda gak ya' gumamnya dalam hati. "Nina ayo," ajak Mama yang telah berada di luar lift sementara Nina masih mematung di dalam lift. "Eh iya, Ma." Buru-buru Nina keluar dari dalam lift sebelum pintu lift kembali menutup. "Pagi, Bu Dahlia. Pagi Nona Nina." Sekretaris Papa menyapa hangat mereka berdua. "Pagi, Bu Astri." "Silahkan masuk," ucap Astri membukakan pintu ruangan Marcel. papa yang tengah berbicara di telepon, langsung menyudahi obrolannya. "Mama sama Nina gak bilang mau ke sini?" tanya Papa mendekati anak dan istrinya yang telah duduk di sofa tamu. "Tadi gak ada rencana ke sini sih, Pa. Karena Nina mau ke kampus dan Mama males sendirian di rumah, jadi Mama Minta anterin Nina kesini sebelum dia ke kampus," terang Mama. "Oh gitu. Terus ini Nina gak langsung ke kampus?" Pertanyaan yang sama dilontarkan oleh Papa. "Sebentar lagi, Pa. Dosennya masih belum ada di kampus," sahut Nina asal. 'Mas Yuda gak ke sini ya' gumam Nina dalam hati dengan mata tertuju ke arah pintu. Papa dan Mama saling berpandangan melihat tingkah Nina yang sedikit aneh. "Kamu lagi nyari seseorang?" "Atau lagi nunggu seseorang?" Papa dan Mama bergantian bertanya pada Nina. "Eh, nggak kok, Ma, Pa." Nina langsung mengalihkan pandangannya. Malu juga kalau ketahuan kedua orang tuanya, bahwa ia menunggu Yuda datang ke ruangan Papa. Hampir setengah jam berapa di ruangan Papa, seseorang yang Nina harapkan bisa ia lihat sebentar ternyata tak kunjung datang. 'Mungkin lagi sibuk sama kerjaan. Dia kan orang kepercayaan Papa' batin Nina lagi. "Ma, Pa, Nina ke kampus dulu ya," pamit Nina mencium tangan Papa dan Mama bergantian. "Iya, Sayang. Kamu hati-hati di jalan ya," pesan mereka. "Siap laksanakan," sahut Nina memberi hormat pada kedua orang tuanya, kemudian melangkah keluar dari ruangan itu. "Kayaknya gak bakal ketemu," ucapnya pelan sambil menekan tombol lift. Mengira akan sendiri di dalam lift sampai lantai satu, ternyata pintu lift terbuka kala sampai di lantai lima. 'Oh my God' Nina tak dapat bergerak. Kakinya terasa berat saat melihat pria yang masuk ke dalam lift. "Selamat siang, Nona," sapa pria itu. Siapa lagi kalau bukan Yuda. Pria yang Nina tunggu dari tadi. "Siang, Mas." Nina menjawab dengan cepat. Takut ketahuan kalau sekarang ia sedang gugup. "Sudah mau pulang?" "Iya. Ini mau ke kampus, Mas," sahut Nina. Pintu lift kembali terbuka karena mereka telah tiba di lantai satu. "Mau aku anterin? Kebetulan aku mau keluar," ucap Yuda menawarkan tumpangan. "Makasih, Mas. Nina bawa mobil sendiri." Nina menolak secara halus, meski sebenarnya ia sangat ingin diantarkan oleh Yuda. "Sayang sekali," ucap Yuda dengan wajah sedih. Dengan sigap ia membukakan pintu mobil untuk Nina saat mobilnya tina di depan lobby. "Makasih, Mas." Yuda tersenyum manis. "Hati-hati di jalan ya," pesan Yuda yang dibalas dengan anggukan kepala Nina yang langsung menutup kaca jendelanya. Mengendarai mobilnya perlahan, ia masih melihat Yuda berdiri di tempatnya menatap ke arah mobil yang dikendarai Nina. 'Siapa yang bisa menolak pesona seorang Yuda. Tunggu saja, kamu pasti akan masuk ke dalam jeratan ini' gumam Yuda dengan senyum yang penuh misteri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN