Malu Tapi Mau

1165 Kata
"Selamat siang, Nona." Seorang lelaki berseragam hitam membukakan pintu mobil yang Nina kendarai. "Siang, Pak." Wanita dengan nama lengkap Nina Zafira itu tersenyum ramah. Ia berjalan masuk ke dalam gedung berlantai sepuluh itu seraya menyapa resepsionis, lalu masuk ke dalam lift yang akan mengantarkannya ke lantai delapan. Lantai tempat Marcel, Papanya berkantor. Baru saja melewati empat lantai, pintu lift terbuka. Seorang pria dengan tinggi seratus tujuh puluh tiga senti, dengan lesung di kedua pipinya masuk dan tersenyum. Nina membalas senyum pria bernama, Yuda Pratama itu. Senyum Yuda selalu sukses membuat hati Nina berbunga-bunga. Sebagai seorang wanita normal, ia tak bisa menolak pesona dari pria di depannya itu. Pria yang pertama kali ia lihat dengan jelas saat menjenguknya di rumah sakit beberapa tahun yang lalu. "Mau ke ruangan Pak Marcel ya?" tanya Yuda ramah yang dibalas dengan anggukan kepala Nina. Ia tak berani mengangkat wajahnya yang telah berubah menjadi merah. Malu dengan Yuda. "Yuk, kita sudah sampai di lantai delapan," ucap Yuda lagi seraya mempersilahkan Nina keluar terlebih dulu. Tak tahu langkahnya tersandung apa, baru saja keluar dari lift ia malah nyaris terjatuh. Untung saja Yuda dengan cepat menangkapnya. "Hati-hati, Nona," ucap Yuda lagi. "Aduh jadi malu, makasih ya, Mas," ujar Nina tersipu-sipu. Ia melangkah cepat masuk ke ruangan Marcel. "Kamu kenapa, Sayang?" tanya Papa saat melihat Nina masuk dan langsung duduk di sofa tamu. Kedua tangan menutup wajahnya. Papa beranjak dari kursi dan menghampiri anak gadisnya itu. "Nina malu, Pa," ucap Nina. Tok tok tok Dengan cepat Nina mengambil satu majalah yang ada di meja dan membuka lebar majalah itu untuk menyembuhkan wajahnya. "Ini, rekening koran yang Pak Marcel minta," ucap Yuda seraya meletakkan sebuah amplop coklat di meja. Ia menahan tawa melihat tingkah Nina. "Oke, makasih ya. Saya cek dulu rekening korannya," ucap Papa. "Kebalik ini, Nin," ucap Papa lagi sambil mengambil majalah yang Nina pegang. "Hah?" Nina kaget dengan mulut terbuka mendengar ucapan Papa barusan. "Kamu kenapa jadi salah tingkah gitu sih?" "Itu, Nina malu," ucap Nina, "tadi Nina hampir jatuh di lift, malu sama karyawan Papa yang tadi." Marcel terkekeh pelan. "Maksud kamu Yuda?" "Iya, Pa," sahut Nina. "Kamu ini ada-ada saja," ujar Papa seraya membuka amplop coklat itu. Ia masih berada di kantor Papa, sampai sore menjelang. *** Selesai makan malam, Nina dan Papa menuju ruang tengah, sementara Dahlia-Mama, menyiapkan beberapa potong buah apel. "Karyawan Papa yang tadi itu, orangnya gimana sih?" Pertanyaan Nina, membuat Papa mengalihkan pandangannya. Ia masih belum berani menyebut nama Yuda secara langsung di depan Papa. Merasa malu sendiri. "Yuda? Maksud kamu, Yuda?" Papa memastikan. Nina mengangguk. "Coba lihat anak kita ini, Ma," ucap Papa saat Mama tiba di ruang tengah membawa sepiring buah, "sudah mulai nanyain cowok." "Siapa, Nin?" tanya Mama seraya duduk di samping Nina. "Papa ih, Nina kan jadi malu sama Mama," ucap Nina dengan wajah cemberut. "Kenapa harus malu sih, Sayang? Sama Mama masa malu?" "Ya, malu aja Ma." "Sudah dewasa gini masih malu-malu. Semoga calon imam Nina nanti adalah laki-laki baik dan bertanggung jawab ya, amin," ucap Mama merangkul pundak Nina, putri angkatnya itu. Beberapa belas tahun lalu, Mama yang divonis tidak dapat memiliki keturunan, dengan persetujuan dari Papa dan keluarga besar, mengadopsi seorang anak berusia enam tahun dari panti asuhan. Karena alasan kesehatan, Mama dan Papa sepakat untuk tidak mengadopsi balita. Panti asuhan yang terletak di pinggiran kota, menjadi pilihan mereka. Sejak pertama kali melihat Nina, Mama sudah jatuh hati pada anak berusia enam tahun itu. Ceria dan penuh semangat. Meski pengurus panti asuhan menyodorkan beberapa pilihan anak untuk diadopsi, Mama tetap memilih Nina untuk menjadi anaknya. Terbukti, pilihannya ternyata tidak salah. Masuk ke dalam keluarga besar Marcel dan Dahlia, Nina berhasil menjadi anak yang membanggakan. Ia selalu menjadi juara di sekolahnya. Pun dengan kuliah ini, ia berhasil masuk di salah satu universitas negeri bergengsi melalui jalur prestasi. Mereka benar-benar menyayangi Nina seperti anak kandung mereka sendiri. "Amin, Ma. Semoga Nina bisa membahagiakan, Mama sama Papa ya." Matanya bergantian menatap Papa dan Mama. "Terimakasih sudah membawa Nina, menjadi anak di keluarga ini. Nina benar-benar beruntung," lanjutnya lagi seraya memeluk Mama erat. Ucapan terima kasih dan perilaku yang baik, rasanya belum mampu membalas semua kebaikan orang tua angkatnya itu. Dalam hati Nina berjanji, akan memberikan seluruh hidupnya untuk kebahagiaan kedua orang tuanya. *** Pagi kembali menjelang, Nina telah siap dengan kemeja putih dan jas almamaternya. Hari ini adalah sidang pertamanya untuk meraih gelar sarjana. Setelah persiapan dan sarapannya selesai, secara khusus, Papa mengantar Nina ke kampus. "Lancar sidangnya ya, Sayang. Jangan lupa berdoa," ucap Papa saat mereka telah tiba di gedung fakultas. "Amin. Terima kasih, Pa. Nina masuk dulu ya," katanya seraya mencium punggung tangan Papa, kemudian turun dari mobil. Dengan satu tangan memegang laptop, ia berjalan menuju ruangan yang akan menjadi tempatnya sidang pertama. Dibantu beberapa temannya, ia menyiapkan peralatan pendukung untuk presentasi. Tak lupa ia juga menyiapkan beberapa kotak berisi kue untuk konsumsi dosen dan juga peserta sidang. "Lancar ya, Nin. Setelah ini, semoga aku segera menyusul," ucap Rena. Teman kuliah Nina yang mulai akrab di semester tiga. "Amin. Makasih, Ren." Nina menggosok kedua tangannya, mencoba menghilangkan rasa gugup di hatinya. Sidang yang berlangsung kurang lebih enam puluh menit itu, akhirnya selesai juga. Hasil yang Nina terima, sudah pasti adalah pujian dari para dosen pembimbing dan pengujinya. "Revisinya cepat dikerjakan ya, Nina. Supaya cepat sidang akhir." Pesan salah satu dosen pembimbingnya sebelum meninggalkan ruangan. "Baik, Pak." Tak henti senyum mengambang di bibir Nina. Rasanya begitu lega satu langkah awalnya berjalan lancar. "Memang the best deh kamu, Nin," ucap Rena ikut senang. Ia membantu Nina membereskan proyektor dan mengembalikannya ke ruangan admin program studi. Mereka kemudian berpisah di depan ruang admin, Rena harus kembali ke kelas untuk mengikuti ujian ulang satu mata kuliah yang nilainya kurang. Sementara itu, Nina duduk sendiri sendiri di kantin depan menunggu jemputan. "Nina naik taksi online aja ya, Pa," pinta Nina saat Papa menghubungi dan mengatakan akan mengirim Yuda untuk menjemputnya karena ia ada pertemuan dengan pimpinan bank. "Tunggu Yuda aja, Sayang. Dia sudah jalan dari tadi. Papa gak tenang kalau kamu naik taksi sendirian." "Tapi, Pa," ucap Nina. "Papa tunggu di kantor ya. Hati-hati nanti pulangnya," ujar Papa sembari menutup sambungan teleponnya. Nina menyimpan ponselnya ke dalam tas. Jantungnya berdetak lebih cepat sejak Papa mengatakan bahwa Yuda akan menjemputnya. Ketampanan Yuda tak bisa dipungkiri, membuat Nina sedikit menaruh hati padanya. Ditambah lagi, sikap Yuda yang manis padanya menjadikan Yuda memiliki nilai plus di mata Nina. Lamunan Nina seketika buyar mendengar klakson mobil dengan kaca jendela yang terbuka. Nina terkesima saat melihat Yuda di dalam mobil, melepas kacamata hitamnya dan melambai pada Nina. "Ya ampun," ucap Nina menelan salivanya melihat Yuda. Sedikit gemetar ia membawa laptop di tangannya, kemudian berjalan menuju mobil. Yuda bergeser sedikit, dan membukakan pintu untuk Nina. "Makasih ya, Mas." Nina tersipu malu. "Kita jalan sekarang?" tanya Yuda ramah. "Iya," jawab Nina singkat. Dari balik tiang, seseorang tersenyum kecut kemudian menyeringai melihat kejadian itu. 'Seharusnya aku yang ada di posisi itu sekarang,' batinnya kesal. Ia menatap tajam sampai mobil itu hilang dari pandangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN