"Kamu nggak keberatan 'kan kita jadinya jalan-jalan dulu di mall baru habis itu dinner?" tanya Nicky yang berjalan bersebelahan dengan Cherry di selasar mall.
Sebenarnya mereka tidak punya tujuan khusus untuk membeli sesuatu, hanya murni window shopping. Cherry pun menjawab seraya menoleh sekilas ke teman hangout-nya yang berpenampilan rapi, "Saya malah seneng sih bisa sekalian jalan-jalan sore begini, Pak. Sudah lama nggak ngemall. Teman-teman SMA dulu banyak yang lanjut kuliah ke Jakarta, sebagian juga sibuk kuliah karena ambil jurusan teknik di ITB."
"Oke. Kamu kenapa nggak lanjut kuliah, Cher?" sahut Nicky yang penasaran seperti apa kehidupan gadis gebetannya itu.
Cherry tersenyum getir, dia sedikit malu bila harus menceritakan bahwa keluarganya bukan berasal dari kalangan orang berada. Mereka bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah bersyukur sekali. Namun, dengan jujur Cherry pun berkata, "Karena faktor biaya, Pak. Adik saya masih butuh untuk melanjutkan sekolah karena satu SD kelas 5 dan kakaknya SMP kelas 2. Saya yang paling gede harus bisa bantu bapak ibu untuk cari uang."
Jawaban gadis ABG tersebut sontak membuat Nicky merasa prihatin. Memang tak semua orang beruntung dilahirkan dari keluarga konglomerat yang serba ada tanpa harus memikirkan besok apa ada uang untuk bertahan hidup.
"Yang tegar ya, Cher. Kamu hebat kok, saya salut sekali dengan perjuangan kamu. Jarang-jarang generasi zaman now yang mau peduli kesusahan orang tua, yang ada malah mereka itu foya-foya dan terlibat pergaulan bebas yang menghabiskan uang saku hasil keringat orang tuanya," ujar Nicky yang usianya memang lebih dewasa dibanding Cherry. Mereka beda generasi tentunya.
Kemudian dia pun membelok ke outlet Gucci karena mereka berdua sudah berputar-putar dari lantai ke lantai di mall itu. Namun, tak sekalipun Cherry masuk ke salah satu toko yang ada di sana. "Kamu boleh pilih apa pun yang dipajang di sini, saya yang bayar!" ucap Nicky dengan sebersit senyuman tampan di wajah blasterannya.
"Lha ... emm ... Pak, saya nggak butuh apa-apa kok. Nggak perlu repot-repot begini. Mana merknya tuh branded premium, mahal ini lho, Pak!" tolak Cherry tak nyaman. Dia takut dituduh cewek matre dan lain-lain, padahal tak sekalipun dia meminta dibelikan ini itu.
Dengan segera Nicky menggandeng tangan Cherry ke rak pajang barang. "Ayolah, saya ikhlas kok ... coba deh pilih tas aja. Bagus-bagus tas merk Gucci dan mayoritas cewek suka. Atau dompet deh, keren-keren modelnya nih!"
'Ya iyalah, ini merknya 'kan Gucci. Semua cewek pasti suka, fashionable bingits!' batin Cherry menjawab perkataan pria blasteran itu.
"Saya pilih tas tangan yang ini saja deh, Pak. Bisa buat dibawa kerja," putus Cherry tanpa berlama-lama karena takut merepotkan Nicky.
Pria itu memanggil salah satu pramuniaga outlet Gucci, "Mbak, ini tolong dibungkus ya!"
"Baik, Pak. Mari ditunggu di kasir untuk pengambilan barang belanjaannya," sambut pramuniaga berlabel nama Winda tersebut seraya membawa tas putih pilihan Cherry yang bermotif print bunga-bunga cantik ke meja kasir.
Setelah barang tersebut dibayar, Nicky menyerahkan tas belanjaan ke tangan Cherry yang nampak tersipu malu. Dia merasa senang karena bisa membelikan gadis manis itu sesuatu yang dapat dijadikan kenang-kenangan.
"Makasih banyak ya, Pak Nicky. Setelah ini kita mau ke mana lagi?" ujar Cherry. Dia tak memiliki tempat tertentu untuk dituju.
"Gimana kalau kita ke Japanese fast food aja? Kamu mau?" tawar Nicky mencoba menebak selera makanan ABG zaman now.
Cherry pun mengangguk. "Boleh tuh, Pak. Saya juga suka kok!"
Tebakan Nicky ternyata benar. Maka mereka pun naik satu lantai dan mengunjungi Oishi Bento dan Udon Resto. Waiter yang ramah mencarikan mereka meja kosong lalu memberikan buku menu ke masing-masing tamunya. Tanpa berlama-lama keduanya memesan menu pilihan yang berbeda.
"Mohon ditunggu sebentar ya, akan kami siapkan terlebih dahulu!" pamit waiter itu lalu mengirim daftar pesanan ke dapur restoran.
Pelayanan Japanese restoran tersebut cepat, sekitar 10 menit kemudian menu pesanan mereka diantar ke meja. "Selamat menikmati sajian restoran kami, Mas, Mbak! Panggil saya kalau ada yang ingin ditambah menunya," tutur waiter tersebut sebelum meninggalkan meja.
"Selamat makan, Pak Nicky!" seru Cherry dengan ceria sambil memegang sumpit di tangannya. Pria itu tersenyum senang seraya menjawab dengan ucapan yang sama kepada Cherry.
Makan malam yang tadinya menyenangkan itu berubah menjadi tegang suasananya karena kehadiran dua sosok perempuan. Dan Cherry mengenal salah satunya karena mereka bersahabat dari SMA.
"Hai, Nick. Wah lagi dinner sama pacar baru kamu ya?" sapa perempuan berpenampilan modis dengan rambut ikal yang dicat cokelat keemasan itu dengan nada ceria yang dibuat-buat.
Raut wajah pria yang disapanya sontak masam. Nicky malas bertemu tak sengaja dengan Monica, mantan tunangannya. Hilang sudah napsu makannya, dia meletakkan sumpitnya sementara isi bento box miliknya masih ada separuh.
"Hai, Monica. Ini temanku, jangan menyimpulkan sendiri tanpa tahu yang sebenarnya!" balas Nicky Jansen karena kuatir Cherry menjadi salah paham.
"Cherry, lama nggak ketemu kita. Apa kabar?" sapa Rihanna mengulurkan tangannya berjabat tangan dengan sahabatnya lalu cipika cipiki.
Monica yang tak mengenal Cherry pun segera bertanya, "Hann, kamu kenal sama dia? Kakak kok nggak pernah lihat sebelumnya."
"Iya, ini teman SMA-ku, Kak Monic. Kami sudah lama lost contact sejak perpisahan sekolah," jawab Rihanna dengan lancar. Dia teringat dengan pesan Martin belum lama ini di telepon. Kemudian Rihanna bertanya, "Nomor kamu sama email sudah nggak aktif, Cher?"
"Iya, HP punyaku dijambret di bus kota tempo hari. Semua datanya jadi hilang yang ada di situ, mungkin kena hack ya biar nggak bisa dilacak," jawab Cherry apa adanya tanpa curiga.
Nicky pun merasa agak terabaikan karena kehadiran Monica dan adiknya yang sok ramah itu. Dia meneguk minuman ocha di gelasnya lalu mengambil ponsel untuk memeriksa pesan masuk baru.
"Kamu pesan menu dulu deh sebelum restonya tambah rame, Hann!" saran Cherry karena memang banyak pengunjung yang mulai berduyun-duyun memasuki restoran fast food ala Jepang tersebut di jam makan malam.
Namun, sebelum Rihanna sempat menjawab. Kakaknya segera menarik kursi kosong di sisi Nicky. "Kita gabung makan malam bareng mereka berdua aja ya biar lebih seru!" ujarnya tanpa meminta persetujuan dari pasangan tersebut.
Mantan tunangannya tentu saja sudah hapal dengan sifat Monica yang rese dan seenaknya sendiri. Untuk menghindari keributan yang terkesan receh, Nicky pun mengalah dan segera bangkit berdiri. "Kalian makan berdua aja deh. Kami sudah kelar kok makannya. Iya 'kan, Cher?" ujarnya dengan tatapan penuh harap yang terbaca oleh gadis itu.
"Iya nih. Maaf ya kami pergi duluan. Silakan makan malam, Kak Monica, Hann!" sahut Cherry ikut bangkit berdiri dari kursinya di seberang Nicky. Dia langsung digandeng oleh pria tersebut dan dibawakan tas belanjaannya yang bertuliskan brand Gucci dengan sangat jelas.
"Dasar perempuan sialan! Dia pasti mengincar cowok tajir. Kamu kenal baik sama dia, Hann?" tuduh Monica yang cemburu kepada Cherry.
Setelah duduk di seberang kursi kakaknya, Rihanna pun menjawab, "Dia pacar gebetanku pas SMA, Kak. Sayang banget si Martin tuh lebih milih Cherry dibanding sama aku aja. Pacarnya Cherry tuh ganteng banget, bintang sekolah dulu waktu SMA. Sekarang dia lanjut kuliah di Ausie."
"Alaa ... LDR kok celamitan di sini sama cowok lain! Mendingan kamu pedekate aja tuh pacarnya. Toh juga si Cherry malah jalan bareng mantan tunangan Kakak!" tukas Monica merasa antipati terhadap teman adiknya itu.
Rihanna yang mendapat dukungan dari kakaknya makin semangat untuk mendekati Martin. Dia pun berniat akan bercerita tentang pertemuannya dengan Cherry tadi di telepon kepada pemuda gebetannya, lengkap dengan bumbu-bumbu pedas agar Martin membenci Cherry.