"Sorry ya, Cher. Kamu tadi pasti belum kenyang 'kan makannya!" ucap Nicky setelah keluar tergesa-gesa dari Japanese fast food di mana dia tak sengaja bertemu mantan tunangannya.
Gadis itu menggelengkan kepalanya lalu menjawab, "Nggakpapa kok, Pak. Nanti saya terusin di rumah aja. Apa kakak Rihanna tadi mantan pacar Pak Nicky?"
"Jangan deh! Kesannya aku egois dong kalau ngajak dinner, tapi malah kamunya tetap laper sampai pulang ke rumah. Kita pindah tempat makan yang lebih privacy aja deh biar nggak ketemu mereka lagi!" ujar Nicky tanpa menjawab pertanyaan siapa Monica. Biarlah tunangan tukang selingkuh itu jadi masa lalunya yang pahit dan tak perlu diingat lagi.
Toh wanita itu kena batunya juga. Habis manis sepah dibuang. Selingkuhannya setelah bosan kabur dari Monica. Sementara Nicky yang sudah tersakiti ogah diajak menjalin hubungan kembali dengan sang mantan yang ratu tega dan tak setia.
Akhirnya mereka berdua pun meninggalkan mall dengan mobil Lamborghini Aventador merah mentereng yang dikendarai sendiri oleh Nicky. Memang pebisnis muda itu tajirnya nggak kaleng-kaleng. Nicky Jansen memiliki usaha dealer mobil import Eropa dan Amerika selain perusahaan tambang batu bara yang diwarisinya dari orang tuanya.
Namun, dia tidak menceritakan latar belakangnya sedikit pun kepada Cherry. Menurutnya jauh lebih baik bila mereka berteman dekat tanpa embel-embel kekayaan yang dimiliki oleh Nicky.
"Oya, Cher. Tadi teman kamu itu apa sifatnya baik?" pancing Nicky karena gadis itu adik dari tunangannya berarti masih satu gen dan satu didikan keluarga.
"Baik kok, Pak. Dulu kami sering main bareng, jajan ke kantin, dan kerjain tugas sekolah bareng terus," jawab Cherry dengan lugu tanpa sedikit pun menjelekkan tentang Rihanna.
Pria itu hanya menanggapinya dengan tawa ringan. "Cher ... Cher ... kamu tuh jadi orang polos banget sih. Okay, mungkin memang sifat kakak dan adik beda bisa saja terjadi. Soalnya kalau kakaknya teman kamu itu nggak baik, suka memanfaatkan kebaikan orang dan munafik!" tutur Nicky mencoba berpikir positif tentang Rihanna.
Nicky membelokkan mobilnya ke area parkir sebuah restoran all you can eat shabu and yakiniku langganannya. Dia jamin Cherry pasti puas makan di tempat itu.
"Yuk kita turun, Cher. Makannya kalau di sini nggak boleh jaim ya, yang banyak!" ujar Nicky sembari terkekeh. Dia lalu keluar dari pintu mobil Lamborgini Aventador merah itu dan bergegas membantu teman kencannya turun.
Sesampainya di depan pintu masuk restoran, waiter ramah membukakan pintu untuk mereka berdua lalu mengantarkan ke meja yang masih kosong. "Silakan pilih sendiri bahan-bahannya di meja display ya, Mas, Mbak. Apa paketnya komplit shabu dan yakiniku?" ujar waiter berlabel nama Andi di seragamnya itu.
"Iya, Mas. Kuahnya pakai yang gurih saja ya, nanti biar bisa ditambah bumbu sendiri!" pesan Nicky karena memang ada pilihan Tom yam yang spicy dan kaldu gurih biasa.
"Oke, Mas. Silakan ambil bahannya dulu, kuah dan tungku bakar serta bumbu akan saya siapkan segera!" jawab Andi lalu bergegas ke dapur restoran.
Cherry pun mengambil berbagai sayur, bakso, sosis, dan aneka daging di meja display yang dipenuhi berbagai bahan mentah untuk dimasak sendiri. Dulu Martin pernah beberapa kali mengajaknya makan di restoran semacam ini meskipun berbeda merk. Jadi dia tak kelihatan udik dan bingung.
"Kalau di sini bebas makan apa saja pokoknya harus habis selama 2 jam. Jangan ambil yang nggak kamu suka ya, Cher!" pesan Nicky sambil memilih bahan yang dia sukai.
Setelah mereka kembali ke meja, Cherry membantu Nicky memanggang daging dengan berbagai bumbu dan juga memasak menu shabu-shabu dengan bahan yang tadi mereka berdua ambil. Sementara pria blasteran itu mengamati Cherry dalam diam, dia terkesan dengan sifat gadis tersebut yang rajin dan mau repot.
"Saya ambilin ya, Pak. Sudah jadi masakannya. Hehehe. Maaf kalau rasanya kurang pas, maklum koki dadakan!" ucap Cherry malu-malu sembari menuang shabu-shabu ke mangkuk porselen Nicky.
"Pasti enak deh, aku nggak rewel kok, Cher! Thank you ya sudah repot masakin tadi," balas Nicky lalu mulai mencicipi masakan olahan gadis itu. "Wah, mantap rasanya pas nih. Ternyata ada bakat masak kamu, Cher!" pujinya.
Cherry pun menyahut, "Kalau gitu makan yang banyak ya, Pak Nicky. Nanti saya masakin lagi kalau kurang 'kan 2 jam tuh durasi makannya!"
Mendengar perkataan Cherry, dia pun tertawa geli. Baru kali ini dia merasa sangat nyaman jalan dengan perempuan padahal bukan pacarnya juga. Cherry begitu totalitas melayaninya.
Tanpa diketahui oleh Cherry, laporan mengenai kabarnya di Bandung telah sampai ke telinga Martin yang ada di Perth, Australia. Orang yang dianggap sebagai sahabat oleh gadis itu telah mengatakan hal yang tidak-tidak untuk mencemarkan nama baiknya.
"Ahh ... yang bener kamu, Hann?" seru Martin seraya mendengkus kesal seakan tak percaya bahwa pacar yang selalu dia pikirkan dalam hari-hari beratnya jauh dari tanah air justru telah mendua.
Rihanna tersenyum licik, dia yakin Martin akan segera jatuh ke pelukannya dan melupakan Cherry setelah mendengar segala kisah karangannya.
"Bener, Tin. Aku juga rada kaget pas lihat di restoran makanan Jepang itu. Masalahnya cowok gandengannya itu mantan tunangan kakakku. Kak Nicky tuh emang tajir melintir, yang antre buat jadi ceweknya mah bejibun. Orangnya ganteng, dewasa, nggak pelit kalau beliin barang dan traktir ceweknya! Kenal lah pokoknya aku sama pacar barunya si Cherry. Kemarin dia dibeliin tas merk Gucci yang harganya premium," tutur Rihanna yang mengisyaratkan bahwa Cherry matre dan terlena oleh segala kenyamanan yang bisa diberikan Nicky Jansen.
Kenudian Martin pun menanyakan cerita yang didapatnya dari mamanya tempo hari mengenai pacarnya, "Oya, apa bener kalau Cherry kerja di bar jadi penyanyi?"
"Ohh iya, bener kok. Balihonya gede banget di Jalan Dewi Sartika, kebetulan aku sempat lewat pas mau ngemall. Cherry Ayudia, tulisan namanya jelas bangetlah. Dia kerja di Merlino Cafe and Bar, itu buka sampai dini hari deh, jadwal penampilannya aja pukul 22.00 WIB di baliho," cerocos Rihanna lancar mencoba penggiringan opini bahwa Cherry sudah terjun ke dunia hiburan malam yang memiliki stigma miring.
Martin menutup mulutnya dengan telapak tangannya, dia sangat syok mendengar kabar gadis yang dicintainya telah banyak berubah. Bekerja jadi kupu-kupu malam dan menjadi piaraan om-om hanya demi uang. Sudah 2 orang yang menceritakan hal buruk tentang Cherry. Kalau hanya mamanya saja, mungkin itu hanya sekadar rasa antipati seperti biasa. Namun, Rihanna adalah sahabat dekat gadis itu masa sih tega ngomong yang nggak-nggak?
"Hann, tolong kabari lagi tentang Cherry ya. Aku pengin tahu apa aja yang terjadi padanya di Bandung. Pasti ada alasan di balik segala perubahan drastis Cherry. Dia tuh lugu, polos, kami 3 tahun pacaran pun nggak sekali pun macem-macem," ujar Martin merasa sulit percaya dengan apa yang diceritakan oleh Rihanna.
Rihanna pun menimpali, "Mungkin dia lebih cepat dewasa setelah lulus SMA dan jadi penyanyi bar. Lama aku nggak ngobrol sama dia, kemarin aja buru-buru dia perginya kayak ngehindar dari aku. Kami belum sempat tukeran nomor HP lagi."
"Apa cowok yang namanya Nicky itu yang maksa dia pergi?" sahut Martin penasaran.
"Yap. Iya, dirangkul mesra gitu deh kayak memang mereka punya hubungan spesial. Wajarlah Cherry 'kan cakep, Tin. Dulu dia bintang di sekolah kita," pancing Rihanna seperti kompor meleduk memanas-manasi Martin.
Seusai mengakhiri panggilan telepon antar negara itu Martin duduk terhenyak di lantai kamar asrama memikirkan Cherry dan rasa cintanya yang masih tertinggal di tanah kelahirannya.