"Cher, bantu ibu kirim pesanan nasi dus ke rumah mamanya Rihanna ya? Ada arisan di sana sore ini, pesanannya sudah dibayar sebagian DP-nya, nanti dimintain sisa duit kateringnya ke Tante Diah," ujar Bu Martinah sambil memasukkan isian lauk ke dalam kardus makanan persegi yang berjejer di meja panjang warungnya.
Cherry yang baru saja datang dari rumah seusai mandi sore bergegas membantu ibunya agar cepat siap pesanan nasi box dari mama sahabatnya tersebut.
"Boleh, Ma. Kebetulan banget jadi bisa ketemu Rihanna nanti. Kali aja dia ada di rumah, ini 'kan hari Minggu!" sahut gadis itu riang sekalipun malam ini dia ada jadwal manggung di tempat kerjanya.
Sekitar setengah jam kemudian mobil taksi online yang dipesan ibunya tiba dan pengemudinya berbaik hati membantu memasukkan dus-dus nasi box yang diikat dengan tali rafia dan dimasukkan ke tas kresek jumbo warna putih itu ke bagian belakang dan tengah mobil.
"Cher, ini nota tagihannya ya, total empat ratus ribu rupiah. Sudah sana berangkat sebelum acaranya keburu kelar. Hati-hati di jalan ya, terutama pas nurunin barang minta tolong pak sopir. Kasih uang tambahan aja nanti ya?" pesan Bu Inah mewanti-wanti.
Lalu Cherry pun memasukkan kertas nota tagihan ke tas selempangnya yang bermerk Gucci pemberian dari Nicky. Dia berpamitan dengan melambaikan tangan ke ibunya sebelum naik ke bangku samping sopir.
Senja telah turun hingga langit mulai berwarna gradasi menuju petang. Mobil Avanza yang mengantar Cherry pun perlahan tapi pasti meluncur ke tujuan. Sebuah rumah 3 lantai berhalaman luas asri dihiasi beberapa pohon palem putri yang subur. Mobil-mobil berbagai tipe dan merk berjejer terparkir di sana.
"Waduh, Neng. Maaf sepertinya mobil saya nggak bisa masuk. Tempatnya penuh sesak begini. Saya parkir dekat gerbang aja ya. Ada satpam rumah juga, mungkin bisa bantu masukin katering nasi box di belakang!" ujar pengemudi taksi online tersebut lalu mematikan mesin mobilnya.
Akhirnya Cherry mengikuti saran darinya, dia bergegas menghampiri satpam yang berdiri di depan pos jaga depan rumah. "Pak Satpam, saya mau kirim pesanan Tante Diah untuk acara arisan sore ini! Apa bisa bantu bawa masuk?" pinta Cherry karena ada sekitar 200 pack yang terbagi menjadi 10 plastik kresek.
Mang Udin pun melihat sejumlah tas kresek jumbo warna putih yang diturunkan oleh sopir taksi online itu ke dekat pos jaga satpam. "Oke, saya bantuin bawa masuk, Neng. Ayo, acaranya sudah mulai dari tadi sih!" ujar satpam itu sambil menenteng tas kresek berisi kotak nasi di tangan kanan dan kirinya.
Setelah mondar mandir 5 kali, selesai sudah kesibukan yang membuat berkeringat tersebut. Cherry ingin memberikan uang tips untuk sopir dan satpam tadi yang telah membantunya. Namun, mereka justru menolak uang darinya. Maka Cherry pun kembali ke rumah induk karena teringat pesan ibunya untuk menagih nota pelunasan katering.
Gadis itu celingukan mencari nyonya rumah acara yang ramai tersebut. Ibu-ibu sosialita sedang sibuk bercengkrama satu sama lain karena arisan telah usai. Mereka menunggu pembagian konsumsi dan hamper sebelum bubar.
Setelah menyisirkan pandangannya cukup lama, Cherry akhirnya menemukan Rihanna, kakak sahabatnya, dan mamanya. Dia pun bergegas menghampiri mereka sambil membawa kertas nota tagihan.
"Permisi, Tante Diah, Hann, Kak Monica!" sapa Cherry sopan.
"Ehh ... ngapain dia di sini?" tukas Monica dengan nada tajam yang membuat Cherry syok. Rihanna pun justru bersikap dingin kepadanya tak seperti dulu saat mereka di bangku SMA.
Namun, gadis itu mencoba berpikir positif saja. Mungkin mereka sedang sibuk dengan acara arisan. "Saya mau meminta sisa pembayaran katering nasi box, ini notanya!"
"Ckkk ... apa nggak bisa nanti sehabis tamu pulang ya? Takut banget nggak dibayar sih?" balas Monica dengan suara yang tidak enak dan tatapan sinis.
Ternyata Mama Martin dan Nadira juga menghadiri arisan sosialita di rumah itu. Mereka berdua berbisik-bisik menertawakan Cherry yang kikuk menghadapi kakak sulung Rihanna yang mengomelinya.
"Mantannya si Martin emang beneran gembel ya, Ma? Udah kerja jadi kupu-kupu malam masih jualan nasi box. Hihihi ... dasar melas!" komentar Nadira dengan suara yang dipelankan dan hanya bisa didengar oleh mamanya.
Nyonya Femmy pun mencibir gadis itu, "Namanya aja cewek nggak berpendidikan. Nggak bisa ngelola duit pastinya, boros. Makanya dia kerja serabutan, ya nggak cukup terus!"
Berkebalikan dengan respon keras Monica, mamanya justru mengerti maksud Cherry. Dia pun berkata, "Maaf ya, Cher. Kamu jadi mesti nunggu lama. Sebentar Tante ke kamar buat ambil uangnya dulu. Kamu duduk aja sama Rihanna tuh!"
Dengan senyum pura-pura tersungging di wajahnya, Rihanna pun menggandeng Cherry untuk menunggu di halaman samping dekat kolam renang luas rumahnya. "Kamu abis ini nggak ada acara, Cher? Main dulu deh di sini sekalian kita ngobrol!
"Sorry, Hann. Aku ada kerjaan sih malam ini di Merlino Cafe and Bar. Mungkin lain kali ya. Gimana kuliah kamu, lancar?" balas Cherry sambil duduk di bangku kayu berjemur berhadapan dengan sahabatnya.
"Ohh ... sibuk ya kamunya? Biasa pulang jam berapa dari tempat kerjaan kamu, Cher?" tanya Rihanna menyelidik.
Cherry yang polos pun menjawab apa adanya, "Jam 1 dini hari seringnya. Aku biasa bersihin make up dulu dan ganti kostum sebelum pulang ke rumah."
"Kostum? Maksudmu rok seksi gitu ya?" sahut Rihanna setengah mencemooh.
"Iya sih, kostum buat manggung. Gaun pesta gitu yang bikin penampilan jadi terlihat glamor dan menarik, soalnya 'kan kerjaanku termasuk entertainment juga!" terang Cherry tanpa merasa tersinggung. Dia pun tersadar kalau hari semakin malam. Maka dia pun berkata, "Kita ngobrol lagi kapan-kapan ya, Hann. Sudah mulai malam, aku takut terlambat kerja. Kutemui mama kamu dulu deh ya!"
Dengan langkah santai Cherry pun masuk kembalu ke rumah induk dan mencari-cari sosok Tante Diah. Sayang sekali wanita bersanggul anggun itu sedang menyalami tamu-tamunya di dekat pintu keluar.
"Aduh, gimana dong?! Bisa telat aku kalau nunggu tamu pada pulang semua gini!" keluh Cherry bergumam pelan. Dia pun kembali menemui Rihanna yang masih duduk di tepi kolam renang.
"Hann, apa bisa minta tolong buat mintain uang tagihan katering ke mama kamu?" ujar Cherry penuh harap.
Namun, Rihanna malah menjawab, "Aku nggak berani nyela-nyela, Cher. Mendingan kamu tunggu aja di sana!"
Sedikit kecewa, tetapi Cherry harus segera berangkat ke tempat kerjanya. Dia pun membulatkan tekadnya untuk menyela antrean tamu yang pamit pulang. Ketika sampai di hadapan Tante Diah, dia pun berkata, "Tante, maaf saya harus segera pergi untuk kerja lagi!"
"Yaelah, ni bocah! Emang ya kagak sabaran!" seru Monica sebelum mamanya sempat menjawab.
Akhirnya Tante Diah merogoh kantong celana panjang kainnya dan menyerahkan sejumlah uang sesuai tagihan kekurangan katering mama Cherry. "Ini ya, Cher. Makasih sudah repot nganterin nasi box ke mari! Hati-hati di jalan nanti," ujar wanita paruh baya tersebut sambil tersenyum ramah.
"Buruan gih, pada antre tamunya mau pulang juga!" hardik Monica dengan tampang sebal menatap Cherry.
Gadis itu pun berkata permisi sebelum bergegas meninggalkan rumah sahabatnya. Di pos jaga satpam, Cherry menumpang untuk memanggil ojek online yang akan mengantarnya ke Merlino Cafe and Bar. Dia hanya berharap tidak terlalu terlambat sampai di sana karena masih harus dirias oleh Abdul dan check sound sebentar.
"Yaah ... kok gerimis sih! Apes bener mau berangkat kerja juga—" Cherry menatap mobil tamu arisan yang satu per satu melewati dirinya. Sementara rintik air dari langit mulai bertambah deras, dia berharap abang ojek yang menjemputnya membawa jas hujan ekstra untuk dirinya.