Perhatian Nicky yang Disalah Artikan

1240 Kata
"Pak Harjo, tolong anterin saya ke Merlino Cafe and Bar ya sebelum pulang ke rumah. Saya mau ngobrol sama kawan sebentar!" titah Nicky Jansen dari bangku belakang mobil sedan mewahnya yang melaju di tengah hujan deras yang mengguyur kota Bandung petang itu. "Siap, Mas Nicky. Maaf bisanya jalan pelan-pelan mobilnya. Hujannya tumben deres banget malam ini!" jawab Pak Harjo sambil mengemudi penuh konsentrasi ke jalan raya yang nampak buram dari kaca depan mobil. Majikannya pun paham karena terkadang juga mengendarai sendiri mobil sport kalau sedang ada acara khusus. Nicky menyahut, "Iya, kecepatan segini aja, Pak. Bahaya kalau sampai selip ban atau nabrak!" Setelah perjalanan yang cukup lama, mobil tersebut memasuki halaman parkir Merlino Cafe and Bar yang diterangi banyak lampu layaknya tempat hiburan malam pada umumnya. "Sudah sampai tujuan, Mas Nicky. Apa perlu saya payungi ke pintu masuk?" ujar Pak Harjo karena hujan bukannya mereda malah bertambah deras saja. Suara derai air yang jatuh dari langit memukul-mukul bodi mobil sedan tersebut terdengar berisik. Nicky agak berseru kencang menjawab sopir pribadinya, "Nggak usah, Pak! Saya turun sendiri aja. Tunggu sampai urusan saya selesai ya!" Pria blasteran berparas tampan itu pun membuka pintu mobil lalu memegarkan payung sebelum dia turun. Di area parkiran sepeda motor yang ada di pojok halaman, Cherry sedang mencopot jas hujan pinjaman dari abang ojek online. Badannya basah di beberapa tempat dan penampilannya jelas sangat kacau. Untungnya setelah ini Abdul yang akan menyulapnya dengan make up agar tampil tidak seperti gembel. Tubuhnya menggigil saat menyerahkan jas hujan yang telah terlipat rapi ke abang ojek itu. "Brrrr ... makasih ya, Mang! Maaf jadi basah jas hujannya," ujar Cherry yang kedinginan. Tas Gucci kesayangannya pun ikut mahal, dia kuatir barang berharga pemberian Nicky itu akan rusak terkena air hujan. Cherry mengeluarkan tissue untuk mengelapnya sementara ojek online tadi berlalu dari parkiran sepeda motor. Saking sibuknya dia sampai tidak menyadari sesosok pria menghampirinya dengan membawa payung. "Kamu kok malah hujan-hujan sih, Cher!" tegurnya. Wajah gadis itu pun sontak terangkat dari tas selempangnya ke depan. "Ehh ... Pak Nicky! Apa mau ketemu bos?" sahut Cherry tanpa menjawab teguran pria itu yang bernada cemas. "Iya. Ayo ikut payung saya ke sana! Kamu jangan hujan-hujan lagi nanti sakit," ajak Nicky lalu merangkul bahu Cherry yang basah pakaiannya agar berada di bawah payung bersamanya. Mereka pun berjalan bersama melewati tukang parkir dan beberapa karyawan Merlino yang berpapasan di jalan. "Kamu lain kali kalau hujan naik taksi online aja ngapain sih malah basah-basahan begini!" omel Nicky sekalipun dia memperhatikan Cherry dan tak ingin gadis itu jatuh sakit. Tubuh Cherry saja menggigil saat dia rangkul bahunya. "Tadi mau dicancel nggak bisa, Pak. Kebetulan tempatnya juga agak jauh, saya takut kalau naik mobil bakalan telat masuk kerja. Jadinya nekad hujan-hujan deh!" jawab Cherry meringis takut dimarahi oleh Nicky. Pria blasteran itu pun hanya berdecak menangapi jawaban Cherry. Dia tahu remaja ABG kurang suka dicereweti sekalipun jelas-jelas salah. "Ya udah, masuk sana ganti baju kamu. Kalau buat pulang nanti apa ada baju ganti selain kostum punya Merlino?" ujar Nicky sebelum mereka berpisah. Cherry menggeleng lemah, dia pun berpikir besok akan membawa baju ganti untuk ditinggalkan di loker karyawan. Masalahnya yang untuk kali ini terpaksa bajunya diangin-anginkan agar tidak terlalu basah. Selepas kepergian Cherry, pria itu pun menelepon pemilik butik langganannya. "Halo, Alvin. Ini Nicky Jansen. Kamu kirimin deh gaun selutut ukuran M, jangan yang terbuka modelnya ya? Ku-share loc posisiku sekarang!" Karena Cherry belum waktunya tampil, maka Nicky memutuskan untuk naik ke kantor sobatnya untuk mengobrol santai. Dia tahu jam segini Merlino sudah tak terlalu sibuk dengan pekerjaannya. "Sore, Bro. Masih sibuk kah?" sapa Nicky saat memasuki kantor pemilik tempat hiburan malam populer di kota Bandung itu. "Nggak. Duduk dulu, Nick! Sisa order bir buat bar di bawah aja sih, kamu baru balik dari kantor?" sahut Merlino sambil mengetik sesuatu di ponselnya lalu dia bergabung di sofa bersama Nicky. Ketika melihat bekas sepatu sobatnya di lantai kantornya, Merlino pun berkomentar, "Kamu ngapain juga hujan-hujan? Basah sepatumu?" "Hmm ... iya, parkiran tadi becek soalnya hujan deras," jawab Nicky tanpa menyebutkan bahwa dia menyeberangi halaman parkiran demi memayungi Cherry. "Yaelah, turun di depan teras 'kan bisa kalau naik mobil, Nick!" sahut Merlino seakan tak percaya sobatnya mau repot-repot berjalan jauh berbecek-becek ria. Namun, Nicky tetap tak mau mengaku dan mengalihkan pembicaraan ke topik-topik seru lainnya. Dia ingin mengajak Merlino untuk berwisata ke Singapore bersamanya. Mereka berdua biasa mengunjungi kasino untuk sedikit menghambur-hamburkan uang menikmati hidup. "Boleh, next weekend ya, Bro! Kalau hari kerja nggak enak sama anak buahku kasih contoh buruk bolos kerja seenaknya gitu," ujar Merlino yang disetujui dengan anggukan kepala oleh sobatnya. "TOK TOK TOK." "Masuk!" sahut Merlino dari sofa. Seorang kurir memasuki ruang kantornya lalu bertanya, "Apa Pak Nicky Jansen di sini? Ini ada kiriman dari butik La Lorenza." Merlino menunjuk sobatnya yang duduk di sebelahnya yang segera bangkit berdiri dan menerima barang kiriman kurir tersebut. "Makasih ya, Mas," ucap Nicky lalu menanda tangani resi tanda terima dan memberi tips ke kurir. Setelah kurir itu pergi, Merlino bertanya dengan tatapan penasaran, "Pesen apaan kamu dari butik hujan-hujan begini, Nick?" "Ada deh!" tukas Nicky membuka resleting pembungkus gaun pesanannya yang berharga cukup mahal tersebut. "Ehh, gaun tuh. Buat cewek dong! Alaa ... jujur aja deh, buat Cherry ya jangan-jangan!" tebak Merlino yang sontak membuat Nicky terdiam dan merona wajahnya. Sontak Merlino meledak dalam tawa lalu berujar, "ada yang diem-diem perhatian nih kayaknya. Kamu naksir singerku itu, Nick?" Helaan napas disertai decakan kesal meluncur cepat, Nicky pun berkata, "Please deh jangan salah sangka. Kami hanya berteman dekat aja, Lino. Dia tuh masih punya pacar yang sekolah di Ausie. Dan ... aku juga masih nyaman buat jomblo dulu. Masih menata hati setelah ... you know lah!" Merlino menghargai keinginan sobatnya untuk menjalani pendekatan yang perlahan tapi pasti kepada Cherry. Dia suka kepribadian anak buah barunya tersebut, memang berbeda jauh dengan mantan tunangan Nicky yang songongnya setengah mampus dulu. "Turun yuk, si Cherrybelle sudah waktunya manggung jam segini. Lagian aku laper belum sempat makan malam. Mau kusuruh Chef Randy buat masakin steak lamb chop, kamu mau juga, Nick?" ajak Merlino seraya bangkit berdiri dari sofanya. "Kebetulan kita sama, pesenin deh menu yang otu juga. Tadi dari kantor langsung meluncur ke mari," jawab Nicky sambil menenteng hanger baju baru untuk Cherry di tangannya. Kedua pria ganteng itu mengambil tempat di sofa VIP Merlino Cafe and Bar. Mereka makan malam sembari menikmati penampilan Cherry yang menyanyikan berbagai lagu asik kekinian dengan suara merdunya yang khas di panggung. "Kak Monic, tuh lihat cowok di meja yang itu—pasti kamu kenal deh!" tunjuk Rihanna dari salah satu sofa di ruangan yang sama di antara banyak meja lain yang dipenuhi oleh para pengunjung yang sebagian besarnya adalah penggemar Cherry. "Huhh, katanya temen ... buktinya dia hujan-hujan begini bela-belain nonton pertunjukan cewek murahan itu, Hann. Kamu pantau aja deh kalo mereka nanti ngobrol deket-deketan ambil fotonya. Kirim ke pacarnya yang ada di Ausie biar si Cherry diputusin! Enak bener dia ada cowok di sana sini, Kakak nggak terima dia deket-deket sama Nicky Ayank Embebkuhh!" cerocos Monica sembari tak melepaskan pandangannya dari Nicky Jansen, mantan tunangannya yang tajir melintir. Dengan tatapan iri kepada Cherry yang sedang asik menyanyi di panggung, gadis itu menjawab kakak sulungnya, "Beres, Kak Monic. Aslinya aku juga lagi ngincer si Martin. Kalau ntar libur pergantian semester, Rihanna rencana buat kunjungin dia di Perth. Moga-moga Martin udah bisa lupain si Cherry yang nggak banget itu deh! Bikin sumpek aja semua cowok keren dia tempelin. Ckk!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN