Trauma Masa Kecil

1343 Kata
Seorang anak perempuan berdiri di ambang pintu, melihat percakapan sengit antara kedua orangtuanya. Dua tangan mungil itu mendekap erat sebuah boneka beruang besar berwarna cokelat tua. Pembicaraan yang pelik untuk anak seusianya, tak ada sorot kebahagiaan di antara mereka, tiada kelembutan dari setiap kata yang terucap dari lelaki paruh baya yang selalu anak itu panggil Daddy. Telinganya tak lagi mendengar candaan dan gurauan seperti dahulu kala, bukan pula rayuan Daddy-nya kepada wanita yang selalu di panggilnya Mommy. Anak itu, Emily kecil. Dia masih berdiam diri di sana, melihat bagaimana Daddy-nya memaki dan meneriaki mommy-nya. “Dasar jalang, aku pergi bekerja dan kau malah asyik dengan lelaki lain hah!" Emily tak tahu apa maksud dari ucapan Daren---daddy-nya. Isabelle terus memohon dan menjelaskan apa yang terjadi. Namun, setiap kali Isabelle berbicara, maka satu tamparan berhasil mendarat di wajahnya. Emily terduduk di lantai, melihat bagaimana ibunya menangis dengan suara yang begitu menyayat hati. Bahunya bergetar, hatinya menciut. Dia ingin sekali berlari memeluk ibunya, lagi-lagi kakinya seakan-akan terpaku di tempatnya. Emily menangis, dia membekap mulutnya dengan kepala boneka itu. Melihat bagaimana kejam dan jahatnya lelaki yang selalu menjadi idola untuk Emily. "Moms ...," ucap Emily lirih, dia terus memeluk boneka beruangnya semakin erat. Sedangkan Daren pergi berlalu begitu saja, daddy-nya hanya melirik sekilas Emily, bukan tatapan cinta penuh kasih sayang yang Emily dapati. Melainkan tatapan penuh kebencian dari Daren. Emily masih tak mengerti kenapa Daddy-nya yang begitu menyayanginya bisa berubah dalam beberapa hari ini. Gadis kecil berambut pirang sebahu itu kembali menjatuhkan tatapannya kepada Isabelle. "Maafkan Mommy sayang, kau tak seharusnya melihat kejadian tadi. Ketahuilah Daddy-mu sangat menyayangi kita.” Isabelle menghambur memeluk Emily, sang ibu mencoba meyakinkan bahwa Daren selalu mengasihinya. Emily kecil hanya diam, air matanya terus meleleh melihat bagaimana ibunya yang bahkan ia pun tak tahu mengapa dua orang dewasa itu saling melempar ucapan dengan nada tinggi. Emily terlonjak dari tidur nyenyaknya dengan napas yang terengah-engah. Wajahnya dipenuhi peluh yang hampir memenuhi kening dan anggota tubuh lainnya. Mimpi buruk itu datang lagi, entah kapan kilasan masa lalu itu akan pergi menjauh dari kehidupannya. Emily duduk di tepi ranjang dengan kepala yang menunduk, badannya bergetar menahan gejolak emosi yang menyeruak menggerogoti hatinya. Emily sudah selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa Daddy-nya sangat menyayangi dirinya seperti apa yang selalu Isabelle katakan dahulu. Tapi lagi-lagi Emily mematahkan keyakinan itu saat mimpi itu kembali hadir hampir di setiap tidurnya. Kepergian Isabelle memberi luka batin tersendiri di jejak memori Emily, memberikan pukulan telak untuk kehidupannya. Saat itu juga kehidupan baru Emily baru saja dimulai, perjuangan hidup yang menurutnya sangatlah berat hingga ia harus relan terjatuh lalu bangkit dan berdiri lagi. Walaupun sendirian. Emily masih ingat bagaimana sulitnya masa-masa itu, ketika menahan lapar karena uang hasil menjahitnya tak cukup untuk sehari-hari, saat tak ada satupun orang yang memakai jasanya kala itu. Namun, Emily tetap mampu meneruskan pendidikan dengan hasil kerjanya sendiri, ibunya adalah seorang penjahit rumahan biasa, berutunglah ia dulu sering membantu ibunya saat membuat pola baju atau memotong helaian kain. Hingga sampai detik ini Emily bisa menghidupi dirinya sendiri dengan keterampilannya itu. Tak diragukan lagi tangan dinginnya mampu menyulap sebuah lembaran kain menjadi beraneka gaun yang begitu menyilaukan mata kaum hawa. Berawal dari pertemanannya dengan Clara, lalu perlahan Emily pun menjadi anak angkat dari keluarga Johanson. Tanpa mereka Emily tak akan bisa menjadi sekarang. Alex dan Lily begitu menyayanginya, sedikitpun mereka tak pernah membedakan antara Emily dan Clara. Emily terpejam, memori otaknya terus memutar kenangan terdahulunya. Sebulir cairan bening lolos begitu saja dari sudut mata Emily. Seharusnya dia saat ini bahagia karena bisa bertatap muka lagi dengan George. Namun, lagi-lagi bahagia belum saatnya dia rengkuh. Di mana lelaki yang seharusnya menjadi pelindung untuknya? Di mana lelaki yang seharusnya menanggung seluruh biaya kehidupan Emily? Di mana lelaki yang seharusnya ikut menangis saat Mommy-nya meninggal? Dia bahkan hilang bagai tertelan bumi. Bukan salah Emily jika menganggap Darren meninggal, siang dan malam Emily habiskan untuk menunggu dan menanti ayahnya yang nyatanya tak pernah datang hingga dirinya dewasa. Pagi yang menyedihkan telah berlalu, kini Emily kembali berkutat dengan pekerjaannya. Dia masih harus mempersiapkan pernikahan George dan Mrs. Phoebe. Emily mendesah pelan saat tangannya meraba bagian depan gaun pengantin berwarna peach itu. Emily tersenyum kecut, bahkan sampai detik ini dia masih berpikir bahwa gaun itulah yang akan dia kenakan bersama George. Sadar bahwa semua salah, Emily segera berbalik dan berjalan ke arah ruangannya. Hati yang kuat saja tak cukup untuk menghadapi semuanya. Jessica yang memperhatikan Emily hanya menatapnya dengan heran, Jessica tak tahu apa penyebab dari kegundahan wanita yang menjadi bossnya saat ini. Emily berdiri dengan bersedekap tangan di depan d**a, mata birunya menatap nyalang padatnya jalanan kota Manhattan. Sesekali dia menghela napas kasar, Emily masih berusaha menyemangati dirinya bahwa George bukanlah yang terbaik untuknya. Tuhan memang menyayanginya dengan menunjukan siapa George sesungguhnya. Aku akan mencoba bertahan Moms. Gumam Emily dalam hati. Rasa sakit yang selalu dia dapatkan sedari kecil seakan menjadikan dirinya kuat, bahkan untuk menangis saja rasanya sudah tak mampu. Apa masih pantas dia mempercayai cinta dan komitmen? Emily menatap nyalang pemandangan kota manhattan, dia ingin menjadi seperti gedung-gedung pencakar langit yang tahan saat di terpa hujan, menjulang tinggi di atas daratan. Kokoh dan kuat. Yang tetap berdiri menghadapi terpaan angin kencang. Emily kembali memejamkan matanya, merasakan dan menikmati rasa sakit yang sudah mendarah daging di hatinya. Tok-Tok-Tok! Suara ketukan membuyarkan lamunan Emily, membawanya kembali ke alam nyata yang menyesakkan. “Masuklah.” Emily berjalan ke arah kursi kebesarannya, terlihat Jessica membawa sebuket bunga mawar putih dengan hiasan pita di antara ikatan buket itu. "Maaf Nona, ini ada kiriman untuk Anda.” Jessica meletakan buket bunga itu perlahan di meja kerja Emily. Indah, itulah yang pertama terlintas di pikiran Emily. “Siapa yang mengirimnya, Jess?" "Maaf, saya tidak tahu Nona, kurir yang mengantar bunga ini." "Baiklah, kau boleh pergi." Jessica berundur dan keluar dari ruangan Emily. 'Untuk wanita tercantik yang pernah aku temui' "Dylan Louis Hamilton." Emily mengucapkan nama itu pelan, dia masih berpikir siapa lelaki ini. Emily terus memutar otak hingga akhirnya ia mengingat lelaki itu. Ya, dia lelaki yang mengajaknya berkenalan saat di cafe beberapa hari yang lalu. Emily menyimpan bunga itu dalam vas yang berada di meja ruang kerjanya. Terlepas dari siapa lelaki itu, Emily memilih kembali pada pekerjaannya. Emily terlalu fokus dalam setiap lembar kertas yang berisi berbagai gambar-gambar indah gaun malam dan beberapa desain gaun pengantin. Tangannya dengan lincah melukis hingga dia mengabaikan sosok tegap yang menatapnya dengan seksama. "Bunga yang indah.” Emily terkesiap saat mendengar suara bariton yang entah dari mana asalnya. Dengan cepat dia mendongkakkan, tampak seorang lelaki berpakaian resmi dengan gayanya yang sangat classy. Sempurna, adalah satu kata yang mewakili untuk lelaki di depannya. "Mr. MacKenzie.” Dahi Emily mengkerut. "Kau terlalu asik dengan bunga dan pekerjaanmu, hingga ketukanku tak kau hiraukan." Antonio mengusap ujung dagunya. Meneliti wajah Emily yang menatapnya dengan penuh selidik. "Ada keperluan apa?” tanya Emily sejurus kemudian pada lelaki di hadapannya. "Aku hanya kebetulan lewat, lalu teringat kejadian manis saat di Central Park dan siapa tahu aku akan mendapatkan pelukan itu lagi," ucap Antonio acuh, dia memainkan ponselnya dan mengabaikan Emily. "Bermimpilah.” "Kenapa harus dalam mimpi jika dalam kenyataan saja bisa aku dapatkan." Antonio menyeringai, ternyata menggoda wanita keras kepala adalah hal yang menyenangkan untuknya. Ditambah melihat reaksi Emily salah tingkah yang begitu kentara. Melihat bagaimana wajah wanita itu merah padam menahan malu adalah hiburan tersendiri untuk Antonio. Pria bermata biru itu menyeringai tanpa melepaskan tatapannya dari Emily. "Jadi, jelaskan apa tujuanmu datang ke sini." Emily melipat tangannya di depan d**a, menatap tajam lelaki tengil yang dalam beberapa detik ini membuatnya panas dingin tak keruan. "Aku hanya mengundangmu makan malam, sejujurnya itu keinginan putriku." Antonio bangkit dari tempatnya, lalu berjalan menuju arah pintu tanpa menunggu jawaban dari Emily tentunya. "Nanti malam, aku tidak menerima penolakan." Antonio membuka knop pintu tapi sebelum keluar lelaki itu kembali menyeringai. "Aku bahkan bisa memberikanmu bunga itu beserta kebunnya." Antonio menutup pintu hingga menimbulkan suara berdebam kencang dan mengagetkan Emily yang masih terdiam di tempatnya, dia bahkan belum mencerna dan menjawab ucapan lelaki menyebalkan itu. "Sial! siapa yang peduli," umpat Emily pelan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN