Kenangan Masa Lalu
Manhattan, kota besar di negara bagian New York yang mempunyai tingkat kesibukan terpadat di dunia. Jantung kota yang selalu sibuk tiap menitnya. Tempat orang-orang bertemu satu sama lain, dengan rutinitas kesibukan mereka masing-masing. Yah, orang-orang di kota ini selalu begitu setiap hari, tapi ... tidak untuk Emily. Di sini, di tempat segalanya tertinggal, Emily selalu setia menunggu kepulangan laki-laki itu. Entah kapan, tapi Emily yakin dia akan datang ... mungkin esok, ataupun lusa.
Emily masih selalu setia di sini, di Taman Brooklyn Bridge. Berbaur dengan orang-orang di sekitar yang memang sengaja duduk berjemur di bawah mentari, menikmati luasnya sungai East. Di sini Emily sering menghabiskan waktu dengan George, mantan kekasihnya, sekedar bercengkrama atau menikmati secangkir chianti atau sepiring lobster. Harbor View Lawn memang terkenal dengan suasananya yang indah, dan hamparan padang rumput yang luas. Tak heran jika banyak orang yang menghabiskan waktu mereka di sini termasuk Emily.
Lima tahun telah berlalu, sejak kepergian mantan kekasihnya ke Sidney. Teringat kata-kata manisnya dulu yang mengatakan bahwa dia akan selalu menghubungi Emily baik lewat telepon atau sekedar berbalas e-mail. Emily tersenyum getir, mendapati kenyataan bahwa dirinya sudah selayaknya wanita yang gila karena janji lelaki itu. Menunggu sesuatu yang tak pasti. Awal kepindahannya memang George selalu menghubungi Emily, tapi setahun setelah itu komunikasi dengannya berkurang setiap harinya. Hingga akhirnya dua tahun terakhir ini Emily tak mengetahui kabarnya. Sama sekali.
“Emily!” Teriak seorang wanita berambut blonde yang lari tergopoh-gopoh ke arah Emily. Dua tangannya mengapit beberapa tumpuk buku di depan perutnya.
“Kau di sini ternyata, huh?” tanyanya terengah-engah. Dialah sahabat Emily satu-satunya, orang pertama yang selalu khawatir jika ada sesuatu yang menimpa Emily. Clara Johanson.
“Ya. Aku sudah beberapa jam di sini, dan kau … kenapa mencariku?”
“Aku mengkhawatirkanmu, Em. Kenapa kau suka sekali berada di tempat sialan ini!” Clara berbicara dengan nada suara yang sedikit tinggi. Alisnya bertautan membentuk satu garis lurus, matanya fokus menatap wajah Emily dengan seksama.
Emily tersenyum, lalu melempar tatapannya kembali ke luasnya sungai East. “Bahkan kau sudah tahu jawabanku, Cla."
Suara Emily tiba-tiba tercekat.
Katakan dia bodoh karena setiap hari menunggu kedatangan George di sini. Di tempat saat dahulu mereka mengikat janji. Emily meremas liontin perak berbandul huruf inisial E dan G.
“Emily, ayo kita pulang ….”
Sudah satu tahun terakhir Emily menggantikan posisi bosnya, Bellatrix Winston. Pasca wanita itu menikah, dia memilih kembali ke London bersama suaminya. Segala urusan tentang butik Emily-lah yang mengatur sekarang, beruntung, dulu dia selalu melihat ibunya menjahit dan menggambar baju-baju yang akan dibuatnya. Di butik, Emily juga berperan sebagai desainer, hampir semua rancangannya laris di butik, tak sedikit memuji dan menyarankannya untuk membuat butik sendiri. Namun, lagi-lagi karena rasa terima kasihnya kepada Bellatrix dia memilih untuk tetap bertahan. Kalau saja bukan Bellatrix yang membantu, mungkin hidupnya masih akan sama seperti dulu, menjalani hari-hari dengan sekadarnya.
Emily menyandarkan tubuhnya, menatap nyalang atap ruangan berwarna putih bersih. Sebuah lampu kristal berukuran sedang ada di bagian tengahnya. Perkataan Clara masih berputar tengiang. Tentang dirinya yang harus bangkit dan melupakan lelaki itu.
Lupakan dia, Emily. Kau memiliki wajah yang cantik, banyak laki-laki yang bahkan lebih baik dari si b******k itu!
Emily pernah mencoba membuka hati, merasa persetan jika dia dikatakan mendua nantinya. Tapi, bayangan lelaki itu hadir, seperti melambai di pelupuk mata dan dengan tiba-tiba menggelayuti pikirannya. Dia Lelah menunggu, ingin rasanya menyerah. Embusan napas keluar dengan kasar, bibir ranumnya meniup sehelai rambut yang menutupi wajahnya.
Telepon berbunyi, seketika membuyarkan lamunan Emily tentang kekasihnya. Jari lentik berkutek merah darah itu menekan tombol interkom, terdengar suara Jessica, asistennya.
“Nona, ada pelanggan yang hanya ingin dilayani oleh pemilik butik ini.”
Emily membenarkan posisi duduknya, dahinya berkerut hingga alisnya saling bertautan. “Apakah kau sudah mengatakan bahwa Nona Bellatrix sekarang di London?”
“Sudah, Nona. Lalu bagaimana? Masalahnya klien kita adalah keluarga Phoebe, Nona tahu sendiri mereka selalu ingin Mrs. Winston yang menangani.”
“Baiklah, biarkan dia menunggu sebentar. Aku akan segera ke sana.” Emily memutuskan panggilan secara sepihak, dia beranjak dari kursi kebesarannya dan berjalan ke arah di mana tamunya berada.
Dari kejauhan terlihat sepasang kekasih tengah memilih gaun pengantin, Emily tahu, dia adalah puteri bungsu keluarga Phoebe, miliuner yang sering hilir mudik di majalah bisnis terkemuka. Wanita itu menggandeng lengan lelakinya, Emily yakin dia adalah calon suami yang selalu disebut-sebut ayahnya saat wawancara kemarin. Emily semakin mendekati sepasang kekasih yang tengah berdiri membelakanginya.
“Selamat siang, apakah ada yang bisa saya bantu?” tanya Emily dengan ramah. Senyuman manis terukir di wajah berpipi tirus itu.
“Ah itu Nona Emily, dia orang kepercayaan Nona Bellatrix, dia sama andalnya,” ucap Jessica seraya menatap Emily dengan senyum mengembang. Sepasang kekasih itu berbalik. Tiba-tiba senyuman di wajah Emily memudar.
Tak ada yang salah dengan wanita berambut blonde di hadapannya, hanya saja… lelaki yang berdiri di samping manekin bergaun pengantin itu membuat nyawa Emily seperti dicabut saat itu juga. Emily menelan salivanya, seolah waktu telah berhenti berputar. Matanya mengunci pada wajah lelaki yang sudah tak asing lagi untuknya.
Bagaimana bisa …. Emily merana dalam hati.
“Hai, Nona,” ucap wanita berambut blonde itu dengan mengibas-ngibaskan tangannya tepat di depan wajah Emily. Lamunan Emily buyar, matanya memanas. Namun, sebisa mungkin Emily menatap client-nya dan berusaha memasang senyum walaupun sebenarnya menangis adalah yang dibutuhkan sekarang.
“Aku Rebecca Phobe, dan ini calon suamiku, George Rodriguez.”
Ingin sekali Emily meminta Jesica untuk menamparnya, sekadar untuk membawanya kembali ke alam sadar. Dengan gemetar, Emily mengangkat tangannya, berusaha menjabat Rebecca. Terlihat wanita itu memeluk lengan George dengan erat, senyuman tak lepas dari wajahnya. Berbanding terbalik dengan rahang George yang mengetat.
“Ya, saya Emily Paulina Clark. Saya yang meng-handle butik sekarang,” ujar Emily sedikit bergetar. Sebelah tangannya mengepal menahan gejolak emosi yang menyeruak di dalam hati.
“Baiklah, Emily. Kau bisa memanggilku Rebecca. Aku ingin memakai jasa Bellatrix ah …jasamu untuk mengatur pernikahanku,” ucap Rebecca itu dengan senyum di wajahnya. Kedua matanya menelusuri seisi butik, lalu kembali menatap Emily. “Bisakah kau memberikanku gaun pengantin yang terbaru?”
Apalagi ini Tuhan, pernikahan ini? Emily bertanya-tanya dalam hati. Rebecca tampak berjalan menyisir beberapa model gaun terbaru, meninggalkan George dan Emily.
“Emily, aku bisa jelas—"
“Dua bulan dari sekarang, aku ingin kau mengatur segala urusan yang menyangkut pernikahanku,” papar Rebecca memotong ucapan George.
Dia melangkah mendekati Emily, lalu meraih sebelah tangannya dan berkata, “Maukah kau melakukannya? kau mengatur pernikahanku? please, aku hanya mau wedding organizer ini yang memfasilitasi semuanya.”
Emily tergagap, bukan dia tak mampu menjadi penata ruang untuk acara pernikahan wanita di hadapannya. Namun, bagaimana bisa, sedangkan lelaki itu George—adalah kekasihnya. Hati Emily hancur seperti dihantam ribuan ton batu. Melihat bahwa penantiannya selama ini sia-sia, lelaki itu pergi tanpa sebuah kabar dan kini kembali datang bersama kabar pernikahannya.
"Aku harap kau bisa mengurus semuanya dengan baik," lanjut Rebecca, Emily masih bergeming di tempatnya. Berusaha mencerna apa yang baru saja didengarnya. Mata sebiru laut itu melirik sekilas kepada George yang berada tepat di samping Rebecca. Lelaki itu masih menatapnya dan tampak tegang sekali, wajahnya kini pucat pasi, dia berjalan ke arah sofa yang berada di salah satu sudut butik. Tatapannya lurus ke depan, seolah menghindari kontak mata dengan Emily.
Emily tersenyum kecut, Tuhan seolah-olah mempermainkan hidupnya saat ini. Sia-sia penantiannya, percuma sudah renjana yang dia pupuk bertahun-tahun. Emily sadar bahwa dirinya tidaklah semenarik Rebecca yang memiliki bentuk tubuh seperti super model Victoria Secret, wajahnya pun tak sejelita Rebecca, tapi bukankah lebih adil jika George memutuskan hubungan daripada seperti ini.
Emily bisa saja berkoar-koar tak jelas. Namun, dia bukanlah tipikal wanita bar-bar yang bisa dengan mudahnya melontarkan ucapan kasar penuh hujatan. Walaupun dalam hatinya ingin sekali menampar lelaki itu. Sekali lagi, Emily selalu mengigat akan petuah ibunya. Serumit apa pun masalah bisa di selesaikan tanpa melibatkan emosi.
Emily terus berusaha kuat, mengekor dan memamerkan model gaun-gaun terkini di butik. Rebecca terus menampakkan adegan romantis walau tampak George menghindari perlakuan Rebecca. Hatinya hancur, nyaris tiada yang bersisa. Semua tak berarti, lelaki yang bertahun-tahun ditunggu dan dia cintai sepenuh hati justru yang menjadi penyebab luka di hati. Dunianya seakan-akan hancur, pijakannya seperti telah ambruk hingga dia seperti dihempaskan begitu saja. Terjungkal dan terjerembab dalam kubangan. Air mata Emily lolos dengan sendirinya, tetapi dengan segera dia menepis dan mengusapnya.
Kau jahat, George. Inikah balasan untuk kesetiaanku? batin Emily.
Emily tak sanggup lagi untuk melihat kedekatan sepasang kekasih itu, dia lantas pergi meninggalkan George yang tiba-tiba menatapnya tanpa mau menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.
"Jessica, kau urus mereka," ucap Emily parau, dia memasuki ruangannya mengambil tas dan kembali keluar tanpa mau menatap lagi pada George.
Emily, kalah. Dia merasa telah kalah dalam penantian ini. Benar kata Clara jika penantian Emily hanyalah sebuah pekerjaan konyol. Sekarang, Emily masih menangis sekaligus tersenyum miris atas kekonyolannya selama ini.
Emily terus memukul-mukul dadanya pelan, berharap dapat mengurangi rasa sakit yang sedang dirasakan. Rasa sakit seperti ditusuk sebilah sembilu, menancap dan merobek hatinya. Emily terus berjalan tak tentu arah. Pandangannya buram, terhalang oleh air mata yang menggenang di pelupuk mata.
Emily tak peduli, dia terus berjalan menerobos beberapa orang yang menatapnya terheran-heran. Tiba-tiba ….
“Ah, s**t. Nona bisakah kau berjalan dengan hati-hati?!”
Emily mendongak dan melihat lelaki berambut cokelat itu tengah mengibaskan tangannya pada kemeja kerjanya yang terkena tumpahan kopi. “Sorry—”
“Mr. Mackenzie, kuharap kau segera masuk, klien kita sudah menelepon lagi!” Seorang wanita berambut pirang memotong ucapan Emily.
Lelaki itu menatap Emily, matanya menyipit hendak marah, tapi urung karena melihat mata sembab Emily. “Kita akan bertemu lagi, dan kau harus membayar semuanya.”
Emily mengumpat dalam hati, matanya terus memperhatikan kepergian laki-laki itu. Siapa yang tak tahu pengusaha muda terukses di seantero Amerika, Antonio Mackenzie. Lelaki sombong dan arogan yang selalu digosipkan dengan sederet wanita setiap minggunya.