Kenangan yang Rusak

1006 Kata
Emily berjalan terus, dia mengikuti ke mana kakinya melangkah, melewati Time Square yang menjadi jalan pertemuan antara Broadway dan Seventh Avenue, sekilas Emily melihat One Times Square, gedung yang biasanya dipasangi iklan, di sana Emily melihat kilasan wajah lelaki yang tak asing baginya, dia orang yang Emily tabrak tadi. Wajahnya penuh kharisma, wajar jika sebagian wanita di daratan Manhattan rela membuka selangkannya lebar-lebar demi Antonio. Ya, seperti itulah mungkin semua laki-laki, tak terkecuali George. Mengingat George, hati Emily kembali ngilu. Wanita mana yang tak akan sakit hati jika sang kekasih datang dengan memperkenalkan calon istrinya? Tangannya mengepal, dia memukul dadanya lagi yang masih begitu sesak. Emily memejamkan mata, berusaha mengembalikan kewarasannya dan berharap kejadian tadi hanyalah mimpi buruknya, namun semakin dia menyangkal semakin rasa sakit itu terasa menggerogoti hatinya. Emily kembali terisak, kali ini begitu menyakitkan. "You lie," bisik Emily dalam isakannya. Cukup sudah kebodohan dan penantian konyolnya. Emily terduduk di sebuah kursi kecil di tepi jalan. Dia lelah, hatinya lebih lelahh… Emily nyaris meraung karena sakitnya begitu mendominasi hati saat ini. Memorinya memaksa memutar semua kenangannya dulu bersama George. Emily tersenyum miris dengan lelehan air mata di kedua pipinya. Kenangan manis itu seakan-akan menjadi boomerang untuk dirinya. Tanpa pikir panjang dia meraih ponsel, Emily butuh berbagi. Clara adalah sahabat yang selalu ada di saat Emily membutuhkan. “Halo, Cla.” Suara Emily tercekat, tangisnya seperti akan pecah saat ini juga. “Kau di mana?” “Aku di kafe, Emily, kau baik-baik saja?” “Aku akan ke sana,” tandas Emily seraya memutus panggilan secara sepihak. Emily berdiri, beruntung sebuah taksi kosong terparkir tepat di hadapannya. Tuhan mempermudah geraknya menemui Clara. Emily pergi, taksinya membelah jalanan ramai Sevent Avenue, bahkan saat suasana seramai ini, hati Emily masih begitu terasa sepi dan kosong. Sesekali dia menyeka bulir air yang terus mengalir tanpa henti. *** "Jadi apa yang membuatmu datang ke sini?" tanya Clara, saat Emily ada di hadapannya. Dia menatap wajah Emily yang terlihat sangat kacau. "Cla, aku sudah kalah." "Maksudmu?" "Dia telah kembali,” ucap Emily seraya menghirup napas sejenak. “Kali ini ada yang salah, Cla. Dia dan aku tak akan bersama, kau tahu dia datang bersama seorang wanita, calon istrinya." Clara membekap mulutnya. Menjatuhkan buket bunga yang baru saja dia rangkai. Emily tersenyum kecut. Kedua matanya menatap nanar beberapa jenis bunga di sampingnya. Rambutnya terbang terhempas angin. "Stop, jangan bersikap bodoh untuk laki-laki b******n seperti dia, Em. Bukankah aku sudah sering mengatakan bahwa dia tak layak kautunggu?" Clara mengusap pundak Emily, berharap kesedihannya sedikit berkurang. Lalu dengan cepat Emily menghambur memeluk sahabatnya, dia menangis sejadi-jadinya. “Menangislah, jika itu membuatmu lebih tenang.” Clara tahu, bagaimana giatnya Emily menunggu bertahun-tahun lelaki itu, bahkan dia menutup pintu hatinya untuk lelaki manapun. Tapi, apa balasannya? Dia hanya mendapat penantian kosong, penantian yang hanya berujung pada tangisan dan kekecewaan. Clara bersumpah dia akan menampar lelaki itu jika Tuhan mengizinkan mereka bertemu. "Baiklah, cukup. Aku sudah tidak sudi menangisi laki-laki mana pun.” Emily mengusap kasar air mata yang masih mengalir dari balik pelupuk matanya. "K-kau yakin?" Clara menatap cemas pada Emily. Wanita berambut pirang kecokelatan itu hanya mengangguk. "Lupakan dia, bukalah lembaran baru. Kau cantik dan pintar. Laki-laki mana yang sanggup menolak pesonamu, anggap saja si b******k itu laki-laki bodoh karena menyia-nyiakanmu." Clara menangkup pipi Emily dengan kedua tangannya, dan benar saja Emily sudah bisa tersenyum walaupun air matanya masih mengalir membasahi wajahnya. *** Emily sudah bertekad, bahwa dia akan membuka lembaran baru. Walaupun tak semudah yang dibayangkan, tapi sekuat mungkin dia ingin membuktikan kepada George, bahwa dirinya yang sekarang bukanlah wanita lemah seperti dulu. Hari ini Emily tampil menantang dengan dress hitam selutut bermotif floral, dengan mengubah sedikit tatananan rambutnya menjadi bergelombang. Bibirnya seolah penuh dengan lipstick merah menyala, bahkan takdir pun akan pangling melihat penampilannya. Emily kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan, dia ingin benar-benar melupakan kejadian kemarin dengan setumpuk pekerjaan. Terdengar suara ketukan dari luar, Emily membetulkan letak kacamata kerjanya. "Silakan masuk," ucap Emily yang masih membolak-balikan berkas laporan keuangan yang akan Emily kirim setiap bulannya kepada Bellatrix. Terdengar suara langkah mendekat. “Maaf, Nona. Client kita yang kemarin datang lagi." Dahi Emily mengkerut, oke di sinilah sekarang dia harus bersikap tegar dan kuat. “Persilakan mereka masuk." Jessica mundur dari hadapan Emily. “Tapi dia datang sendiri, Nona.” “Ya, antar dia masuk,” titah Emily lagi tanpa memandang Jessica. "Apa yang bisa saya bantu Nona Rebecca—” Emily mematung. “Kau.” Mata biru Emily menatap lekat lelaki di hadapannya. Dia masih setampan dulu, bahkan makin memesona. Emily menggeleng, menepis segala pikiran konyolnya. Dia berusaha menunjukan senyum termanisnya kepada George, bukan untuk menggodan melainkan meninjukkan bahwa dia baik-baik saja walau sudah terkhianati. Namun, George justru menatap tajam Emily, begitu menusuk hingga Emily rasanya ingin pergi dari ruangannya. Dia tahu, George bukan datang untuk membahas pernikahan. “Apa yang kau mau? Bukankah jadwal pertemuan kita masih lusa?” George bergeming, tangan kekarnya meraih kursi dan menggeretnya. Tak lama dia duduk tanpa memutus kontak mata dengan Emily. “Kau makin cantik sekarang.” “Lalu? Oh iya, apa kabar? Senang rasanya bisa mengatur pernikahanmu.” Emily berkata sarat dengan sindiran. “Lupakan pernikahan sialan ini. Aku hanya mau membahas tentang kita.” “Kita? ‘Kita’ telah berakhir saat kemarin kau datang kemari bersama Miss Phoebe.” Bahkan aku harus menjadi wanita yang jauh lebih kuat. Emily membatin. “Jika tak ada kepentingan silakan keluar—” “Emily lihat aku,” ujar George. Emily bergeming, enggan menatap mata kecokelatan itu. “Lihat aku, please. Semarah itukah kau padaku?” “Kau pikir?” “Maaf ….” “Pergi. Aku sudah muak melihatmu. Juga kata penuh bualanmu.” “Emily, maafkan kesalahanku.” George masih berusaha meraih simpati Emily. “Semua sudah berakhir. Silakan pergi.” George terdiam sejenak dan berlalu pergi, meninggalkan Emily yang kembali mengeluarkan air mata. Emily terus menatap punggung George yang menjauh sebelum akhirnya hilang di balik pintu ruangannya. Adakah hal yang jauh lebih buruk daripada melihat orang yang kita cintai menikah dengan orang lain?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN