Mr. Sucks

1441 Kata
Emily tersenyum puas, melihat sepasang jam tangan bertali putih yang dia beli sepulang kerja tadi ternyata diterima dengan suka cinta oleh keluarga Johanson. Bahkan Lily terus menghujaninya dengan ciuman di seluruh wajah, sedangkan Alex tak henti-hentinya mengirim doa terbaik. “Apa yang harus kulakukan untuk membalas hadiah semahal ini, Emily?” tanya Alex dengan kedua mata menatap dalam pada Emily. “No, Dad. Semahal apa pun tak sebanding dengan kebaikan dan kasih sayang kalian selama ini,” ucap Emily serak. Dia begitu terharu melihat rona bahagia dari kedua orangtua angkatnya. “Cukup doakan aku bahagia, itu sudah cukup.” Seketika Alex mencium kening Emily. “Bahkan tanpa kau minta kebahagiaanmu dan juga Clara adalah yang selalu aku minta.” Emily mengangguk, sedangkan Alex berusaha memakaikan gelang itu di pergelangan tangan Lily. Dalam sekejap kepalanya seakan berputar, membayangkan bagaimana jika pria paruh baya yang sedang memakaikan gelang itu adalah ayahnya. Hati Emily kembali bergemuruh hebat, bahkan sampai detik ini Emily belum pernah bertemu dengan sosok yang dulu selalu menjadi bunga tidurnya di setiap malam. Di sini dia selalu merasa utuh dengan keluarga yang lengkap, beruntung Clara yang memiliki orang tua seperti Alex dan Lily. Emily tersenyum miris, tiba-tiba dia rindu bercengkrama dengan ayah dan ibunya. Seperti dulu, mereka selalu menghabiskan waktu bersama di ayunan yang terletak di samping rumah. Emily merindukan keluarganya dengan segala kehagantannya. Bolehkah dia merasa iri sekejap saja kepada Clara? Emily melihat Clara yang baru saja meyelesaikan aktivitas mandi sorenya, sahabatnya itu dengan cepat menghambur ke arah Lily yang sedang menyiapkan makan malam. Mata Emily berkaca-kaca, dia ingat betul bagaimana seringnya dulu menghabiskan waktu berdua dengan mendiang ibunya. “Mom, kelak aku ingin menjadi wanita hebat sepertimu.” Isabelle terkekeh lalu mengusap pipi Emily dengan lembut. “ Kau sudah menjadi anak perempuanku yang terhebat. Fokuslah dulu sekolah, Sayang.” Hati Emily kian bergemuruh hebat, saat memori di masa lalunya kembali menari indah di pelupuk matanya. Emily mencengkram sofa yang sedari tadi dia duduki, matanya berkaca-kaca bahkan air mata yang tertahan itu siap meluncur bebas kapan pun. "Hai sayang, kenapa kau menangis?" tanya Lily yang pertama menyadari Emily yang duduk melamun sendirian, Lily berjalan mendekat, dia duduk tepat di samping Emily. Tangan tua yang masih terlihat kuat itu mengelus pelan kepala Emily, Lily tahu wanita di sampingnya sedang tidak baik-baik saja. “Kau melupakan bahwa kami juga keluargamu, Em,” ucap Clara yang sudah duduk di samping Emily. Dia memeluk tubuh ramping Emily dari samping. “Bebanmu adalah bebanku juga, masalahmu adalah masalaku juga.” Emily tak kuasa menahan tangisannya, akhirnya air mata yang sedari tertahan harus lolos begitu saja hingga membasahi kedua pipinya. “Thank you, Cla.” “Jadi apa yang membuatmu hingga kau menangis seperti ini?” tanya Lily sejurus kemudian. Emily menggeleng pelan. “Aku hanya terlalu bahagia, Mom. Terlebih kalian menyukai hadiah pemberianku dengan penuh kebahagiaan.” Lily menangkup pipi anak keduanya. “Seriously, ini adalah yang terindah. Bahkan terlalu mahal untuk kami, Dear.” Dengan cepat Emily menggeleng. “No, Mom. Sudah kubilang, semahal apa pun jika untuk kalian akan kebeli. Kasih sayang kalian lah yang begitu mewah untukku.” Lily terharu mendengar seluruh ucapan Emily. Bagaimana pun dia tahu bagaimana kelamnya masa lalu Emily dulu. Hidup sebatang kara dengan penghasilan yang jauh dari kata cukup, beruntung Clara dulu membawa Emily ke rumahnya jika tidak entah bagaimana nasib perempuan di hadapannya. Sudah beberapa kali keluarga Johanson menawarkan diri untuk mengadopsi Emily, memberikannya identitas baru, membiayai segala kebutuhannya sebesar apa pun itu tapi, Emily justru menolak dengan alasan nama Clark adalah identitas aslinya. Walaupun nama itu menyimpam banyak luka untuk dirinya. Lily juga ingat bagaimana malangnya nasib Emily saat bekerja keras dengan hasil yang tak seberapa hanya untuk menyambung hidup dan untuk biaya tambahan kuliahnya. Berkat kegigihannya selama ini Emily berhasil menjadi wanita yang super sukses, karier yang cemerlang dan satu lagi Emily tetap tinggal di rumah mungil itu. Walaupun sebenarnya dia juga memiliki sebuah apartemen di dekat tempat kerjanya. “Baiklah, aku akan mengelesaikan masakanku. Kau dan Clara tetaplah di sini. Aku bosan terus meneriaki dan memanggil kalian di atas.” Gurau Lily seraya melangkah ke arah dapur meninggalkan Emily dan Clara di ruang tamu. Clara dan Emily menghabiskan malam yang panjang dengan saling bertukar cerita, sesekali mereka tertawa bersama memecah keheningan malam di rumah keluarga Johanson. *** Dua minggu lagi acara pernikahan Rebecca dan George dilaksanakan, dan Emily sudah mulai disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang menyita sebagian waktu istirahatnya. Terlebih Rebecca adalah salah satu anak dari petinggi di Manhattan. Dia tidak mungkin meninggalkan kesan buruk dengan membawa masalah pribadinya dengan George di saat seperti ini. Emily meneliti setiap inci dari gaun pengantin berwarna putih bersih dengan beberapa swarovski di bagian perut dan brukat yang mengelilingi bagian atas gaun. Emily tampak puas, pasalnya gaun yang menjadi pilihan Rebecca adalah salah satu rancangan terbaru dari Mrs. Winston. “Jessy, apakah kau sudah menghubungi toko bunga langganan kita?” tanya Emily seraya berjalan ke arah sofa, sedetik kemudian dia menghempaskan tubuhnya di atas benda empuk berwarmna cream itu. “Sudah, Nona. Sesuai permintaan client, mereka akan memberikan bunga paling berkualitas.” Emily hanya mengangguk-angguk, tak lama Emily beranjak dari posisinya. Dia memijit pelipisnya pelan, merasakan pening yang berdenyut tanpa henti sejak tadi. Emily berjalan ke arah di mana ruangannya berada, mungkin sedikit istirahat mampu memulihkan kembali stamina nya yang mulai menurun. “Nona Emily!” Suara teriakan sukses menghentikan langkah Emily, dia memutar tubuhnya ke arah sumber suara. Dahinya berkerut melihat bahwa lelaki yang tempo hari dia temui di cafe kini sudah berdiri di dalam butik. Emily meneliti penampilan pria muda itu, walaupun bajunya terkesan tak formal tapi dia memiliki daya tarik tersendiri hingga Emily menyunggingkan sebuah senyuman. “Kau memanggilku?” tanya Emily seraya berjalan mendekati pria muda itu. “Memangnya siapa lagi? adakah Emily lain di sini?” Emily tertawa, lalu mempersilakan lelaki itu untuk duduk. “So?” “Aku harap kau tak melupakanku,” ucap lelaki itu secepat mungkin hingga membuat Emily tergelak dalam tawa. Terlihat lelaki muda itu tampak salah tingkah karena sikap konyolnya. “Sorry, tapi kau begitu lucu.” Emily kembali tergelak. "Ini bunga untukmu,” ucapnya seraya menyerahkan sebucket bunga mawar merah pada wanita yang menyita pikirannya beberapa hari terakhir ini. "Untukku?" tanya Emily, dengan ragu-ragu dia mengambil bunga indah itu. Emily menghirup aroma khas mawar yang begitu dia sukai. "Aku harap kau tidak melupakanku." Lelaki itu tersenyum kikuk. "Dylan, Dylan Louis Hamilton." "Ah iya, maaf aku benar-benar lupa Mr. Hamilton." Emily menepuk dahinya pelan, lalu mempersilakan kembali Dylan duduk. Sebenarnya tubuh Emily teramat lelah, mengingat bagaimana kesibukannya akhir-akhir ini dalam mempersiapkan pernikahan George dan Rebecca, lagi-lagi dia selalu menghormafi tamu maka sudah seeajarnya dia tetap menemani Dylan meskipun badannya meminta untuk segera beristirahat. Waktu terus berjalan, Emily mulai terbawa suasana. Mereka berbincang-bincang dengan asyik sesekali gelak tawa keluar dari bibir ranum Emily, hingga Mereka tak menyedari seseorang lain di sana. Entah mengapa, melihat Emily yang terlihat begitu lepas dengan orang lain membuat lelaki berjas armany abu-abu itu menatap tak suka kepada Dylan. Dengan cepat dia berjalan mendekati Emily. Dia segera duduk di sebelah wanita berbaju biru langit itu. “Baby, wajahmu pucat. Apakah kau sakit, huh?” Emily mematung, melihat kedatangan lelaki bermata biru yang dengan tiba-tiba bersikap aneh kepadanya. “Maaf, Mr. MacKenzie. Apa maksudmu?” Lelaki itu---Antonio menggeram tak suka, sekilas dia melirik Dylan yang masih melongo di tempatnya. “Segeralah masuk ke ruanganmu, kau perlu banyak istirahat.” Emily dibuat semakin bingung dengan tingkah Antonio, namun ucapannya benar adanya. Dia butuh istirahat, teringat Dylan... Emily segera menatap lelaki muda di hadapannya. “Emh, Dy ….” “Tak mengapa Nona Emily, aku bisa pulang sekarang. Lain kali aku akan mengunjungimu kembali dengan membawa bunga yang lebih indah.” Dylan beranjak dari duduknya dan merapikan sekilas pakaiannya. Dyalan menjatuhkan tatapannya kepada Antonio, lalu melemparinya senyuman. “Kau beruntung Nona, memiliki kekasih seperhatian Mr. MacKenzie, yang kutahu dia adalah pengusaha sukses dan tersibuk.” Emily membulatkan matanya, belum sempat emily menyanggah tiba-tiba Antonio menyela dengan seenaknya. “Kau terlalu berlebihan. Apakah aku perlu mengantarkanmu ke luar?” Dylan tersenyum skeptis, lalu menatap wajah cantik Emily. “Nona, aku permisi. Senang bisa berbagi cerita denganmu.” Emily hanya mengangguk san tersenyum kikuk. Dia bahkan kehabisan kata-kata untuk menyanggah ucapan Emily. Dilihatnya punggung Dylan yang mulai menjauh dan menghilang di balik pintu butik. Secepat kilat Emily menatap sengit Antonio. “Kau---” Ha-ha-ha! Terdengar gelak tawa Antonio, lelaki itu tertawa melihat bagaimana kesalnya Emily sekarang. Mengabaikan tatapan tajam Emily, Antonio terus saja terbahak. “Sorry, karena aku telah mengganggu kencan siangmu.” Emily tak menjawab, dia justru berbalik dan meninggalkan Antonio yang masih menertawakannya tanpa henti.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN