Dalam urusan Dunia sudah seharusnya kita Melihat ke bawah. Dan dalam urusan Akhirat sudah seharusnya kita Melihat ke atas.
RosaNegra_04
***
Suasana di dapur selalu ramai setiap paginya, meskipun hanya ada tiga orang di dalamnya. Tadi, setelah Selesai beres-beres rumah, Aisyah dan Rena langsung membantu Intan memasak di dapur untuk makan siang nanti. Sambil memasak, tidak lupa canda tawa senantiasa mengiringi mereka. Walaupun Aisyah pendiam di luar, tapi jika sedang bersama keluarga dan orang terdekatnya, ia akan sangat humoris.
"Bi, ini bawang nya sudah beres diiris. Terus apalagi, Bi?" ucap Aisyah memberi tahu, ketika bawang yang berada di atas talenan sudah di iris semua.
"Oh, ya udah set—" belum sempat Intan menjawab pertanyaan, terdengar suara Rudy yang berteriak memanggil nama Aisyah.
"SYAAAH!! ISYAAAH!!" suara bariton yang tidak lain adalah suara Rudy terdengar sampai dapur.
"IYA, PAMAAAN!! SEBENTAAAR!" jawab Aisyah yang tidak kalah nyaring. Sampai dua orang yang di depannya langsung mmenutup telinganya.
"Aw, Syah. Pelan-pelan napa ngomongnya, sakit nih telinga Mbak," gerutu Rena menggosok-gosok telinga nya.
"Astaghfirullah, Syah. Suara kamu kecilkan sedikit, bisa?" timpal Intan. Sedangkan yang dimarahi hanya bisa memperlihatkan wajah cengengesannya.
"Ya maaf Bi, Mbak. Kan, suara Isyah memang gitu adanya," jawab Aisyah dengan wajah polos nya. "Ya sudah, Bi, Mbak. Aisyah mau ke sana dulu, Assalamu'alaikum," pamitnya. Sebelum keluar dari dapur ia mencium kedua pipi Intan dan Rena terlebih dulu.
***
"Iya, Paman. Ada apa?" tanya Aisyah setelah menyelusuri beberapa ruangan dan menuju ke ruang tamu.
"Oh, itu. Temani Paman, ya," jawab Rudy disertai cengiran dan alisnya yang naik turun.
"Kemana Paman?" tanya Aisyah penasaran.
"Ke rumah teman paman," balas Rudy.
Ide jahil pun terlintas di kepala Aisyah, ia berniat membuat Pamannya itu kesal. "Mau ngapain Paman?" tanyanya.
"Mau ngasih file."
"File apa, Paman?"
Ellah, ni anak tanya mulu dah. Untung ponakan, batin Rudy menghela nafasnya.
"File apa Paman ... Aisyah tanya malah ngelamun?"
"Hah? Oh iya. Ini, kemaren ada pekerjaan yang ditugaskan di rumah. Sebenarnya, dia itu teman Paman sekaligus bos Paman."
"Oh, gitu. Kapan kita ke sana paman?"
"Tahun depan kayanya, Syah," jawab Rudy ngasal, karena sudah jengah dengan pertanyaan dari Aisyah.
"Oh, gitu. Ya sudah. Kalau mau tahun depan, Isyah mau ke dapur lagi, ya. Mau bantu Bibi sama Mbak Ren lagi. Dah, Paman," ujar Aisyah dengan begitu santai, sedangkan Rudy tercengang sendiri dengan jawaban yang di lontarkan ponakannya itu.
Sabar, Rud. Sabar. Anggap, ini adalah ujian untuk mu, ujar Rudy membatin
Setelah mengatakan itu, Aisyah kembali berjalan ke arah dapur dengan menahan tawanya. Sukses sudah aku mengerjai Paman, batin Aisyah cekikikan.
"Ya Allah, Syah!! Kamu ini emang polos, atau pura-pura polos, sih? Ya, sekarang lah Aisyah Shidqia Abraham!!! Kalau mau tahun depan, buat apa paman ngajak kamu sekarang?" geram Rudy menahan kekesalan kepada ponakannya.
Aisyah terkekeh geli mendengar suara Rudy yang terkesan kesal pada Aisyah. Padahal, Aisyah hanya pura-pura polos. Ia memang suka menjahili keluarganya.
"Hehe, maaf, Paman. Tahu kok, Isyah. Pasti sekarang, kan, ke sananya? Isyah hanya pura-pura polos aja," jawab Aisyah dengan cengiran Kudanya.
***
Rudy dan Aisyah, kini sedang berada di dalam mobil. Bahkan, ketika didalam mobil, Aisyah dan Rudy terus saja canda tawa hingga perut Aisyah sakit karena tawanya. Namun ketika sudah masuk di jalan raya yang ramai mobil, suasana berubah menjadi hening dan tidak ada percakapan diantara keduanya.
Rudy yang fokus dengan menyetir mobilnya dan Aisyah yang fokus melihat suasana di luar yang ramai dan indah. Ini pertama kalinya Aisyah di ajak jalan-jalan oleh pamannya, meskipun niatnya hanya menemani Rudi memberikan sebuah file pekerjaannya.
"Dah, sampai!" seru Rudy, ketika sudah sampai di mansion yang sangat besar.
"Wah, Maa Syaa Allaah! Ini rumah apa Istana, Paman. Besar sekali," ucap Aisyah dengan mata yang berbenar-binar, Rudy hanya geleng-geleng kepala. Aneh sekali Aisyah ini, padahal si Dika punya Mansion yang besar juga, ucap Rudy membatin.
"Kenapa, Syah? Ini rumah kok, syah."
"Tapi ini besar sekali, Paman. Mansion Abbi dan Ummi aja tidak sebesar ini."
"Iya. Tapi ingat, lihatlah ke bawah jangan ke atas. Kecuali kalau urusan Akhirat maka kamu harus lihat ke atas," ucap Rudy santai namun terdapat makna di dalamnya.
"Iya, Paman. Terimakasih, sudah mengingatkan Isyah," jawab Aisyah kikuk.
Setelah percakapan itu, mereka mulai berjalan memasuki sebuah gerbang yang telah dibuka oleh penjaganya.
Tok.. Tok.. Tok..
Mereka mengetuk pintu beberapa kali. Hingga selang beberapa menit, pintu pun terbuka dan tiba-tiba saja mata Aisyah membulat, setelah melihat siapa orang yang membuka pintu tersebut.
"Loh! Kak Nai, kan?" seru Aisyah memastikan.
Tidak kalah mengejutkan pula, Naira seperti mengenal mata dari orang yang berniqab ini. "Loh! Aisyah, kan?" tanyanya untuk memastikan.
"Loh! kalian sudah saling kenal?" timpal Rudi mengikuti gaya bicara mereka berdua.
"Iya, Uncle. Ira bertemu Aisyah kemarin, di Taman dekat Danau," jawab Naira.
"Oh. Jadi Uncle ini Ayahnya Aisyah, ya?" sambung Naira.
"Bukan, Uncle ini Unclenya Aisyah juga," jawab Rudy ramah.
"Oh, ya sudah. Ayo masuk, Paman. Nanti Ira panggil Daddy dulu."
Rudy dan Aisyah pun masuk kedalam mansion tersebut dan duduk di sofa ruang tamu.
Tidak lama kemudian turun lah seorang laki-laki paruh baya yang masih terlihat muda.
"Hai, Rud!" sapa Alex sambil bersalaman ala laki-laki.
"Eh, iya nih Lex. Saya mau ngasih file yang kemaren."
Aisyah hanya menjadi nyamuk di antara mereka. Aisyah terlihat aneh melihat kedua orang tersebut, karena Pamannya begitu akrab dengan Bos kantornya itu.
"Oh, iya. Ini siapa, Rud? Anak kamu?"
"Bukan, Lex. Dia ponakan saya, namanya Aisyah. Oh iya, Aisyah. Ini Alex, teman Paman sekaligus bos Paman di kantor."
"Oh iya, Paman. Hallo Om, saya Aisyah ponakan Paman Rudi," Aisyah memperkenalkan dirinya dengan menangkupkan kedua tangannya.
Awalnya Alex merasa aneh, tapi ya sudahlah, begitu lah pikir Alexander. "Oh. Nama yang bagus Aisyah. Saya Alex, panggil Om saja boleh."
Rudi dan Alex pun melanjutkan pembicaraan tentang pekerjaan di kantor Alexander. Sedangkan Aisyah, ia diajak Naira untuk menelusuri rumahnya sambil mengobrol.
Setelah dirasa cukup, Rudi dan Aisyah pun langsung pamit pulang kembali ke rumahnya. Hingga sampailah mereka di depan rumah mereka. Namun, sebelum masuk Aisyah dan Rudi mengobrol terlebih dahulu.
"Paman, kok, tadi malah say hai, sih? Bukannya Assalamu'alaikum," tanya Aisyah.
"Oh itu, mereka itu berbeda dengan kita, mereka beragama kristen."
"Oh gitu, pantesan. Dikirain lupa," ujar Aisyah sambil tertawa kecil. "Oh iya, Paman. Aisyah boleh nanya nggak?"
"Mau nanya apa, Nak?"
"Waktu kejadian itu, Paman kenapa bisa ada di sana dan nolongin Isyah?"
"Hah, kok malah nanya itu? Tapi ya sudahlah paman kasih tahu. Waktu itu, Abbi kamu menelpon paman untuk datang ke sana, ia meminta bantuan kepada Paman dan Rayhan (Suami dari Rena) untuk menyelamatkanmu," jawab Rudy. Kemudian mengalir lah cerita yang panjang lebar, mulai dari Abbinya Aisyah yang menelpon sampai akhirnya Aisyah bisa dibawa ke Negara ini.
Aisyah sudah tidak bisa menahan tangisnya, hingga akhirnya niqabnya pun basah oleh air mata. Kini, ia sangat merindukan Dika dan Almiera. Terkadang, ia juga merasa bersalah karena kejadian itu.
"Paman, makasih sudah merawat Isyah seperti anak sendiri," ujar Aisyah terbata-bata karena sudah terisak-isak karena tangisnya.
"Sudah lah, Laa tahzan innallaaha ma'aana. Semuanya sudah terjadi. Jangan menyesali apa yang sudah Allah takdirkan untukmu. Bisa jadi, dibalik semua ini ada hikmahnya. Jika kamu merindukan Abbi dan Ummimu, maka do'akan lah mereka Syah."
"Iya, Paman, in syaa Allaah. Terima kasih sekali lagi," jawab Aisyah dengan suara yang serak melemah.