Kerinduan

1101 Kata
Tak pernah terlintas di benakku bahwa semuanya akan menjadi indah seperti ini. Terlebih sikap ku dulu sangat amat tidak pantas untuk mendapatkan maaf dari mereka. Terkadang apa yang terlintas dipikiran kita akan berbanding terbalik dengan kenyataan. Aisyah Shidqia Abraham *** Di malam yang sangat sunyi dan sepi, hanya terdengar surmara gemercik hujan di luar sana. Kini, Aisyah sedang merindukan dua orang yang biasa menemaninya di saat hujan di malam hari. Ibu dan Ayahnya yang kini telah tiada, hanya bayangan wajahnya lah yang terlintas dipikiran Aisyah. Jujur, saat ini Aisyah sangat merindukan Ayah dan Ibunya. Biasanya ketika hujan di malam hari, ia selalu bercanda tawa ria dengan kedua orang tuanya. Namun kini, hanya rintikan hujanlah yang sedang menemaninya, tapi mau bagaimana lagi, inilah qadarullaahNya yang harus ia terima. Merasa bosan berada di kamar sendirian, Aisyah berinisiatif untuk ke depan rumah yang kini sudah ada Rudy, Intan, dan Rena yang sedang menonton TV. Mungkin, dengan Aisyah ikut bergabung dengan mereka, ia bisa meluapkan kerinduan kepada orang tuanya. "Assalamu'alaikum, Paman, Bibi, dan Mbak Rena," sapa Aisyah kepada mereka yang kini tengah asyik menonton TV. "Wa'alaikumussalam," serempak mereka menjawab salam dari Aisyah. "Belum tidur kamu, Syah?" tanya Rudy saat Aisyah duduk dikursi dekat Rena. Di sini terdapat beberapa kursi, ada satu kursi yang solo alias kursi yang hanya untuk satu orang, dua kursi duet atau kursi yang bisa diduduki oleh dua orang, dan satu kursi long yang bisa ditempati hampir lima orang. Kami duduk dikursi yang duet, yang tempatnya saling berhadapan. Aisyah duduk dengan Rena, dan Rudy duduk dengan Intan. Rudy, Intan, dan Rena fokus dengan acara yang disiarkan di salah satu channel tv, berbeda dengan Aisyah yang sedang fokus melihat pasangan suami istri yang berada di depannya. Ok, ralat ternyata hanya Rena yang fokus dengan TV, sedangkan Rudy dan Intan mereka saling mengobrol dan terkadang diselingi dengan canda tawa, yang membuat mereka terlihat sangat romantis. Ya, walaupun umur mereka sekarang bukan lagi muda, tapi romantisnya bagaikan para remaja yang melepas kerinduan dengan kekasihnya. 'Jadi pengen nikah,' gumam Aisyah, yang ternyata dapat didengar oleh seseorang yang berada di sampingnya, siapa lagi kalau bukan Rena kakak sepupunya Aisyah. "Apa Syah? Kamu pengen nikah?" tanya Rena terkejut ketika mendengar gumaman Aisyah tadi yang berhasil membuat Rena membulatkan matanya, walaupun aslinya memang mata Rena itu bulat. Pertanyaan Rena pun sontak membuat lamunan Aisyah buyar, dan memberhentikan aksi pacarannya Rudy dan Intan. "Ah? Apa Mbak? Siapa yang mau nikah?" bukannya menjawab, alih-alih Aisyah malah bertanya balik kepada Rena. "Iiish, tadi kamu bergumam jadi pengen nikah" jawab Rena dengan menekan setiap kata yang tebal. "Ah? Masa Mbak? Aisyah kok gak sadar ya?" jawab Aisyah dengan menggaruk tengkuk di lehernya. "Iyalah, kan ngomongnya sambil memperhatikan mereka pacaran" jawab Rena sambil melirik orang tuanya. "Tapi kalau kamu mau nikah juga gak apa-apa loh, Syah. Mbak dukung-dukung aja kok, tapi emang kamu sudah punya calonnya apa? kamu kan masih jomblo, terus kayanya belum ada sinyal-sinyal jodoh kamu datang deh, Syah." Emang kamu sudah punya calonnya apa? Kamu kan masih jomblo Emang kamu sudah punya calonnya apa? Kamu kan masih jomblo Emang kamu sudah punya calonnya apa? Kamu kan masih jomblo Kata-kata yang terakhir terus melayang dipikiran Aisyah membuat ia menganggukkan kepalanya, dan bergumam iya yah, calonnya mana? Aku aja masih belum kenal dengan seorang laki-laki. "Syah, Mbak nanya kok malah manggut-manggut aja." "Huuush, sudahlah Ren kamu ini jangan ngeledek adikmu ini toh, kasian tahu dia udah jomblo diledek pula," bela Intan, yang ternyata sama-sama ngeledek Aisyah. Wajah yang tadinya tersenyum bahagia, karena mendapat pembelaan dari bibinya itu, alih-alih kini hanya memanyunkan bibirnya beberapa senti. "Iiiish, bibi kok malah ngeledek Aisyah juga, Aisyah kira bibi bakal belain Aisyah, eh akhirnya sama aja kaya Mbak Ren. Pamaaan lihat Bibi dan Mbak Ren malah ngeledek Aisyah jomblo," rengek Aisyah ke Rudy dengan manja. Rudy pun angkat bicara. "Sudahlah, Syah, jangan dipikirin omongan Bibi dan Mbakmu itu ya," bela Rudy dengan mengelus-ngelus bahu Aisyah. Aisyah pun tersenyum karena akhirnya ada seseorang yang membelanya. "Nanti wajah sedihnya jadi bertambah, tambah keliatan dong nanti kalau kamu itu ke se pi an, kan kasihan yang jom blo," sambung Rudy dengan menjeda setiap kata kesepian dan jomblo. Ternyata Rudy juga sama malah ngeledek Aisyah jomblo, sudah senang dibela eh akhirnya sakit juga. Walaupun memang Aisyah sadar diri bahwa dia ini JOMBLO. Akhirnya mereka tertawa melihat Aisyah yang kini bibirnya sudah sangat mengerucut, tapi Aisyah tidak dibawa hati perkataan mereka, karena itu memanglah kenyataan bahwa Aisyah masih jomblo. Bahkan bagi Aisyah dengan begitu, ia bisa merasakan hangatnya kebersamaan, canda tawa bersama dan pengobat rindu ketika ia sedang merasa kesepian. Aisyah tidak pernah berpikir, bahwa mereka akan sangat menerimanya di rumah ini. Sempat berpikir bahwa ketika ia menginjakkan kakinya di rumah itu, istri dan anak dari pamannya tidak akan mau menerima kehadirannya. Namun, semua prasangka itu salah, kehadirannya di rumah itu justru sangat diterima baik oleh keluarga dari pamannya. Wajah Aisyah pun tiba-tiba mengeluarkan butiran air mata yang jatuh ke pipi mulusnya itu, ia terharu dan bahagia karena bisa bersama mereka. Kasih sayang yang paman da bibinya berikan sama seperti kasih sayang orang tuanya dulu yang sempat ia abaikan. Melihat wajah Aisyah yang menjadi sedih, Rudy pun membuka suaranya, "Syah, kenapa nangis? Maafkan kami ya, kami tadi hanya bercanda kok." "Iya syah, maafkan bibi juga." "Iya syah Mbak juga minta maaf," timpal Rena. "Tidak Paman, Bibi, Mbak, bukan itu yang membuat Syah sedih, malah Aisyah bahagia melihat kalian tertawa bahagia. Sungguh itu membuat hati Aisyah senang dan terharu bahagia, Aisyah tidak memikirkan perkataan kalian. Aisyah bahagia bisa berada dikeluarga ini, Aisyah tidak menyangka bahwa kalian akan sangat menerima Aisyah, padahal dulu saat di Indonesia Aisyah berlaku jahat terhadap kalian. Aisyah sempat berpikir bahwa kalian tidak akan menerima Aisyah, tapi ternyata pikiran Aisyah salah, nyatanya Paman dan Bibi sudah menganggap Aisyah seperti anak kalian sendiri, begitu pun Mbak Ren yang sudah menganggap Aisyah seperti adik sendiri. Terima kasih, Paman, Bibi dan Mbak Ren yang sudah menerima Aisyah di sini," jelas Aisyah panjang, sungguh ia tidak bisa banyak berkata apa-apa lagi, selain berterimakasih kepada mereka. "Maa Syaa Allaah, Syah. Iya sama-sama tapi itu sudah menjadi tanggung jawab Paman, Bibi, dan Mbak Ren yang sudah diamanahi oleh orang tua kamu. Jangan berterima kasih lagi ya, kita sekarang adalah keluarga baru. Walaupun kami tidak akan bisa menggantikan posisi orang tuamu, tapi kami akan berusaha menyayangimu seperti anak kami sendiri, dan untuk waktu itu jangan kamu pikirkan lagi, karena sekarang kamu sudah berbeda Syah. Kamu bukanlah kamu yang dulu," jawab Rudy yang mebuat Aisyah semakin menangis bahagia. Akhirnya mereka pun saling berpelukan satu sama lain. Keluarga yang harmonis bukan? Keluarga yang menjadi impian banyak orang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN