teroris

839 Kata
^^ Teroris. Kenapa setiap ada wanita yang bercadar sering disebut Teroris? Apa salah mereka? Coba jelaskan? Bukan cadar yang menjadi ciri khas dari Teroris, tapi teroris sendirilah yang sering menyalah gunakan cadar itu sendiri. Aisyah Shidqia Abraham *** Akhirnya setelah Aisyah melaksanakan shalat dzuhur mereka kembali berjalan kaki untuk pulang. Hari ini bertepatan hari minggu, hari di mana orang nonis melaksanakan ibadahnya dan yang pasti, Naira juga akan pergi ke gereja untuk beribadah. Naira pergi ke gereja yang biasa ia datangi. Gereja yang Bagus, tinggi, dan luas. Bahkan lebih Bagus gereja ini dari pada mesjid yang tadi didatangi oleh Aisyah. Ya wajarlah ya, ini adalah negara dengan mayoritas kristen. "Oh iya, Syah. Sekarang kan hari minggu, Kak Nai juga dikenalmau ibadah dulu sebentar ya, kesana. Mau ikut?" tanya Naira pada Aisyah. "Oh tidak, Kak. Aisyah disini saja. Kak Nai kesana aja, Aisyah tunggu disini," jawab Aisyah buru-buru. "Loh, kok gitu? Ayo kesana aja," ajak rena dengan menarik-narik tangan Aisyah. "Tidak, Kak. Aisyah disini saja, yaa. Aisyah tungguin kok," jawab Aisyah dengan menepis pelan tangan yang Naira genggam tadi. Naira yang mendengar tolakan dari Aisyah sedikit kecewa, karena Aisyah yang tidak mau ikut bersamanya, tapi kemudian Naira mengerti. Ia langsung saja pergi ke gereja tersebut untuk beribadah. Sedangkan Aisyah, ia menunggu di pinggir jalan, dekat dengan gereja. Kita boleh saling mentolelir dan menghargai terhadap agama lain. Kita juga boleh berteman dengan yang non muslim, tapi kalau urusan agama kita jangan sekali-kali mengikuti apa kebiasaan mereka, sekali pun itu orang terdekat kita yang memintanya. Bahkan mengucapkan "selamat hari Natal" pun itu tidak boleh, karena dengan begitu kita meyakini bahwa tuhan itu ada tiga, Naudzubillahi min dzalik. Seperti dalam Al-qur an surat Al-kafirun ayat terakhir: Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: لَـكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ "Untukmu agamamu, dan untukku agamaku." (QS. Al-Kafirun 109: Ayat 6) *** Setelah peribadahannya selesai Naira langsung keluar dari gereja tersebut karena takut kenapa-napa dengan Aisyah yang sudah menunggu lama di luar gereja. Setelah keluar dari gereja, Naira tidak melihat keberadaan Aisyah. Telinganya samar-samar mendengar suara keributan di seberang sana. Terlihat, ada seorang wanita paruh baya yang sedang memarahi seseorang. Naira terus menyipitkan matanya untuk memastikan siapa yang terjadi keributan disana? Terus kenapa juga harus ada keributan. Dan ternyata.. "I'm not Teroris, Miss," lirih seseorang dengan isak tangisnya. Astaga Aisyah!! Pekik Naira dalam hatinya. Akhirnya Naira langsung berlari menghampiri Aisyah yang sedang dimaki-maki dan dipaksa untuk membuka cadarnya oleh seorang wanita paruh baya. Bahkan sekarang sudah ada beberapa orang yang ikut membantu wanita paruh baya itu. Ya, yang mereka bantu bukanlah Aisyah, tapi wanita paruh baya tersebut. Aneh, bukan? "Hey!! what's this?" teriak Naira kepada mereka yang sekarang sudah mengerubungi Aisyah. "She's terrorist!!" bentak wanita itu. "No, she's my friend and she's not a terrorist!!" bela Naira. "Lie!! she was like spying on this church, and I'm sure she is a terrorist who will bomb this church," jawab wanita tersebut, sambil menarik-narik cadar Aisyah yang sekarang sudah terlepas. Waw!! Harus extra sabar ya, Aisyah. Dari situ, Aisyah semakin menangis menjadi-jadi karena wajah cantiknya kini harus terlihat oleh semua orang yang berada di sana. Melihat Aisyah yang menangis, dengan tangan yang menutup wajahnya, Naira langsung mengambil cadar Aisyah yang tergeletak dibawah, dan mengembalikannya kepada Aisyah. "Hey!! sorry ma'am who is a little polite how dare you open her veil. never mind we leave here Syah," ajak Naira dengan menarik pergelangan tangan Aisyah, supaya bisa terbebas dari mereka. "There go!! and don't come back here again TERRORIST," jawab wanita itu dengan dengan penuh penekanan disetiap katanya. Kini terjadi keheningan di antara keduanya dengan Aisyah yang masih menangis, dan Naira yang masih mencoba menenang kan Aisyah. "I-isyah Bu-bukan Teroris," ucap Aisyah dengan terbata-bata dan serak. "Iya, Syah. Kak Nai tahu kok, kamu bukan teroris yang akan ngebom gereja itu. Sudah, jangan diambil hati perkataan ibu tadi," jawab Naira sambil mencoba menenangkan Aisyah. "Kak Nai minta maaf yaa, sudah ninggalin kamu. Sampai-sampai kamu dimaki sama ibu-ibu tadi," sambung Naira menyesal. "I-iya Kak, tidak apa-apa." 'Tapi, Isyah cantik juga kalau tidak pake cadar,' batin Naira. "Ya sudah jangan nangis lagi, dong. Nanti cantiknya ilang," goda Naira dengan mencolek hidung Aisyah. "Iish, Kak Nai ini pinter ngerayu juga, ya," jawab Aisyah dengan sedikit menyipitkan matanya, yang menandakan bahwa Aisyah sedang tersenyum. Akhirnya tersenyum juga, batin Naira. Alhamdulillah Yaa Allaah, walaupun banyak orang yang tidak suka denganku. Kak Nai masih menghargaiku, batin Aisyah. Ting.. Ting.. Dering handphone Aisyah berbunyi, ia langsung berpamitan untuk mengangkat telephon terlebih dahulu. "Bentar ya, Kak. Bibi telpon," pamit Aisyah. "...." "Iya, Bi. Maaf kelamaan, sekarang Aisyah pulang kok." "...." "Iya, Bi. Kan, ini masih sama Kak Nai." "...." "In syaa Allaah, Aisyah bisa jaga diri. Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh". Setelah selesai teleponan dengan sang bibi, Aisyah lalu memberitahukan kepada Naira bahwa tadi bibinya menanyakan dirinya sedang di mana di karenakan Aisyah keluar sudah terlalu lama. "Ya udah yuk, kita pulang. Udah kelamaan juga kita mainnya," ajak Naira. Akhirnya mereka berjalan kaki lagi untuk pulang ke rumah masing-masing yang bahkan Aisyah sudah tidak menangis lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN