TIGA PULUH DELAPAN

2666 Kata

  Zivanya terdiam di belakang pintu kamar lain. Tubuhnya melorot karena sudah tidak bisa menopang berat tubuhnya yang terasa sakit apalagi di bagian perut. Zivanya mencoba tenang dan menarik nafas cukup panjang sambil mengusap-usap perut. “Kamu harus tenang Ziva, ini belum jelaskan. Kamu harus tenang.” Ucap Zivanya dengan nafas yang masih terasa sesak. Matanya kembali menatap kertas dan foto yang baru saja dia bawa. Perlahan Zivanya berdiri mendekati lemari, tangannya terulur membukannya dan mengambil amplop coklat. “Ternyata semua ini benar.” Zivanya terduduk lemas. Setelah Moza menelepon waktu itu, sebelum dia pergi ke kantor ada sebuah paket yang tertuliskan untuk dirinya. Mulanya Zivanya hanya melihat sekilas tanpa mau membuka. Tapi karena penasaran, Zivanya pun membukanya. Itu fo

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN