bc

Bertahan dari Godaan Sang Pelakor

book_age18+
152
IKUTI
1.4K
BACA
family
HE
second chance
tragedy
like
intro-logo
Uraian

Andin seorang istri yang berusaha mempertahankan rumah tangganya dari godaan sang Pelakor yang berusaha merusak rumah tangganya, Medina adalah wanita yang telah menjadi duri dalam kehidupan Andin juga terus berusaha meluluh lantakkan benteng pertahanan Andin yang begitu kuat dan kokoh.

Andre yang sudah tergoda dan terpana akan pesona Medina semakin tenggelam di dalam cintanya yang penuh dengan dosa tetapi Andin tidak pernah putus asa untuk mengembalikan posisi suaminya, meskipun orang tuanya maupun mertuanya adalah tantangannya .

akankah Andin berhasil dengan segala daya dan upaya nya???...

chap-preview
Pratinjau gratis
Part 1. Bunga Bunga Terpesona
"Mas!" Andin menyentuh bahu suaminya yang sedang berdiri mematung sambil memegang selang air, matanya tertuju pada seorang wanita yang baru saja turun dari mobil. "Eh, ya Andin. ada apa?" Andre, pria yang berusia 30 tahun itu sedikit terkejut dengan sentuhan Andin. "Kamu ngapain mas?" "Kamu nanyai aku?" "Ya iyalah mas, siapa lagi?" "Aku sedang menyiram tanaman, kamu pikir apa?" Andre tampak tak suka di tanya oleh istrinya. "Tapi kamu sedang memasukan selang air kekolam ikan, dan coba kamu lihat airnya mulai melimpah" Andin menunjuk kearah ujung selang yang di pegang oleh Andre. Andre terdiam sejenak, dia tidak bisa menjawab ucapan Andin, karena sebenarnya Andre memang tidak berniat untuk menyiram tanam itu hanya alasannya saja untuk melihat tetangga barunya yang baru pindah 3 bulan yang lalu. "Sebenarnya kamu ingin melihat mbak Medina kan mas?" Andin yang sudah sejak lama mengetahui gelagat suaminya yang agak aneh semenjak punya tetangga baru segera mengungkapkan kecerugiaannya. "Jangan sembarang kamu Andin, mbak Medina itu sudah punya suami, gimana kalau ucapanmu itu di dengar suami mbak Medina, pasti dia akan marah" ucap Andre dengan muka yang sudah memerah, Andre sangat malu jika ucapanya di dengar oleh Medina. Pandangan Andre kemudian beralih kepada medina sambil melemparkan senyuman manis, dia sangat berharap jika Medina tidak mendengar ucapan istrinya barusan. "Selamat sore Pak Andre dan Bu Andin, sedang ngobrolin apa? asyik banget!" mendapat senyuman ramah dari Andre, Medina langsung menyapa pasutri itu. "Selamat sore mbak Medina, ini kami sedang ngobrolin mau bertanam bunga Kamboja, iya kan Andin?" Andre memandang Andin sambil mengerjapkan matanya beberapa kali, memberikan kode agar ucapannya di iyakan oleh istrinya. "Iya mbak medina, suami saya ini sedang senang dengan kembang, hingga kembang tetanggapun dia suka" Andin memberikan sindiran tipis kepada suaminya membuat wajah Andre jadi sedikit berubah, dia berharap Medina tidak menyadari sindiran dari istrinya. "Oh ya! beruntung sekali Bu Andin punya suami senang dengan kembang, suami saya jangankan kembang rumputpun dia pelihara, hehe" Medina menunjuk kearah tamannya ditumbuhi oleh rumput. "Mbak Medina mau saya bantuin potongkan rumputnya?" tawaran Andre membuat Andin mencebik, sungguh dia laki laki yang tidak bisa menghargai kehadiran istrinya. "Hem, kalau mbak Andin tidak keberatan?" sang wanita tersenyum senyum menerima tawaran Andre dengan malu malu, tingkah yang sangat menjijikan. "Kenapa saya yang harus keberatan? bukankah anda minta bantuan sama Andre, seharusnya mbak Medina langsung bertanya kepadanya" Andin sekali lagi menguji suaminya, apa suaminya punya otak atau memang otaknya tidak bisa di gunakan. "Seriusan kamu tidak keberatan Andin?" tanya Andre kepada istrinya setengah tidak percaya. "Terserah kamu saja." setelah berucap demikian Andin meninggalkan Andre masuk kedalam rumah, Andin tidak menyangka jika suaminya secara terang terangan menggoda ataupun tergoda pada istri orang secara langsung di depan matanya. Medina memang sangat cantik, selain itu dia juga seorang wanita karir yang bekerja sebagai ASN pada suatu unit pemerintahan, penampilannya setiap hari rapi dan bergaya serta sangat wangi tentunya membuat lelaki akan memuji kecantikan dan penampilannya terlebih laki laki hidung belang. Berbanding terbalik dengan Andin, ibu dari 3 orang anak itu berpenampilan selayaknya ibu rumah tangga, memakai daster setiap hari untuk mempermudah pekerjaan rumah yang menumpuk karena Andin sama sekali tidak memiliki baby sitter ataupun asisten rumah tangga, wajah jangan di tanya lagi seperti apa? jangankan perawatan dan ber make-up, berkaca saja sangat jarang sekali. Setelah Andin masuk kedalam rumah dia sengaja mengintip suaminya dan mbak Medina melalui jendela depan, bukannya mereka berhenti mengobrol setelah kepergian Andin malah tambah terlihat asyik dan akrab sekali, sesekali mereka tertawa bersama membuat Andin tambah geram. "Andin, mbak Medina mengundang kita untuk makan malam di rumahnya" Andre berbicara kepada istrinya yang sedang memasak telur ceplok di dapur. Andin diam, dia menggenggam erat gagang teplon untuk mengontrol amarahnya yang mulai terpancing, suaminya sepertinya tidak memahami juga jika Andin sangat tidak menyukai Medina. "Bagaimana Andin? apa kamu mau ikut? jika kamu keberatan aku akan pergi sendiri" ucap Andre sambil mengusal kepalanya dengan handuk karena dia baru saja selesai mandi. "Jika ingin pergi sendiri tidak perlu basa basi mengajaku" jawab Andin Tampa menoleh pada suaminya. "Owh, baiklah" Andre lalu beranjak pergi. Andre sama sekali tidak peka dengan perasaan ibu dari anak anaknya, saat Andin menunjukan rasa cemburu bukannya Andre berusaha menenangkan Andin tetapi Andre menambah rasa cemburu itu semakin membesar, terlepas dari Andre sengaja atau tidak. *** Setelah pulang dari undangan makan malam oleh Medina, Andre tidak banyak bicara pada istrinya dia sibuk sekali dengan gawainya sambil senyum senyum sendiri, anak anaknya pun yang beberapa kali mengajak ayahnya bermain tidak mendapatkan kesempatan membuat Andin tambah geram, kalau dirinya di cuek kan Andin masih toleran tetapi tidak jika anaknya juga mendapat perlakuan yang sama dari ayahnya. "Abang dzaki, ayo ajak Abi dan Faiz tidur nak, sudah malam, bukankah besok kita mau jalan jalan?" pujuk Andin pada putranya yang jarak usia diantara mereka hanya berbeda satu tahun, dzaki si sulung berumur 5 tahun, Abi 4 tahun, dan si bungsu Faiz 3 tahun. "tapi Abi pengen main sama ayah ibu." rengek Abi dengan wajah polosnya, Andin melirik kearah suaminya tetapi Andre sama sekali tidak ada ekspresi mendengar ucapan Abi, atau dia sama sekali tidak mendengar ucapan anak tengahnya itu membuat Andin menarik nafas dalam dalam, entah setan apa yang telah merasuki suaminya itu yang ada dalam pikiran Andin. "Jadi Abang Abi tidak mau ikut ibu jalan jalan besok, kita jadwalnya pagi lho nak!" Andin harus menyusun kata kata yang rapi agar anak anaknya menuruti perintahnya, setelah anak anaknya tidur Andin ingin menegur suaminya secara langsung Tampa melalui sindiran yang selama ini telah di lakukannya. Akhirnya ketiga anaknya menuruti perintah Andin, mereka masuk kedalam kamar, Andin menarik nafasnya dalam dalam lalu mengeluarkannya dari mulut untuk menciptakan ketenangan dalam dirinya agar saat berbicara berdua dengan suaminya emosi yang sudah tersulut tidak terpancing keluar. "Mas! aku mau bicara" ucap Andin sudah duduk di sebelah suaminya. "Hemmm." ucap Andre sambil terus menatap gawainya. "Kamu sedang dekat dengan mbak Medina?" Andin berbicara langsung ke intinya. "Hah." kini Andre mengalihkan pandangannya pada Andin. "Maksudku kamu suka dengan mbak Medina?" ucapan santai tidak mengandung emosi kembali di lontarkan Andin kepada suaminya. "Ngaco kamu Andin, mana mungkin mbak Medina suka sama aku, lagi pula" ucapan Andre di putus oleh Andin. "Yang aku tanya kamu mas! bukan mbak medina" "Aku cuma berteman kok sama dia, ada ada saja kamu Andin" Andre mengembalikan pandangannya kepada gawainya. "Tidak ada pertemanan antara laki laki dan perempuan mas!" ucap Andin penuh penekanan. Andre mengembalikan pandangannya pada istrinya "kamu cemburu?" "Menurut kamu aku tidak cemburu melihatmu setiap hari mengintip mbak Medina pulang kerja secara diam diam dengan modus menyiram tanaman, hingga tanaman di depan rumah mati karena terlalu banyak kandungan airnya" nada bicara Andin mulai meninggi. "Astaghfirullah Andin, jangan Ngada Ngada dech kamu, jangan mentang mentang mbak Medina itu cantik, tubuhnya terjaga, pakaiannya rapi lalu kau menghakimi aku menyukai dia karena tidak sengaja memandangnya" "Tidak sengaja bagaimana mas? kamu setiap sore sengaja menunggu kepulangan mbak Medina dari bekerja" "Stop Andin, bicaramu semakin aneh" Andre berdiri dan meninggalkan Andin yang menatap kepergiannya, Andin kembali menarik nafasnya dalam dalam lalu kembali menghembuskannya, sepertinya Andin harus mencari bukti yang lebih kongkrit mengenai suaminya yang sedang menyukai tetangga barunya, bukti mengintip sepertinya tidak cukup untuk menyudutkan suaminya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
60.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook