Part 7. Harga diri yang terkoyak

1016 Kata
POV Andin "Aku minta maaf, sepertinya ibu harus pulang" aku berbicara setengah berbisik kepada ibu setelah kepergian mas Andre dari ambang pintu kamar anakku. Ibu melengos, dia tidak menjawab perkataan ku aku tau alasannya, sudah pasti ibu tidak setuju. "Berikan ruang dan waktu untuk diriku dan mas Andre untuk menyelesaikan masalah kami ibu, aku mohon..." aku berusaha membuat ibu mengerti keadaanku saat ini. "Ibu akan tetap berada di sini, ibu akan membantumu mencari bukti yang kuat atas perselingkuhan Andre, setelah itu kalian akan bercerai..." ucap ibu mantap. Mendengar ucapan ibu aku menghembuskan nafas kasar, harus seperti apa lagi memberikan penjelasan kepada ibu. "Ibu, aku tidak semudah itu untuk bercerai dengan mas Andre, bagaimanapun aku akan memperbaiki rumah tangga kami." ucapku tegas. "Kau plin plan Andin" ucap ibu yang tampak marah kepadaku, kemudian ibu berdiri dari duduknya dan menggapai tas yang di bawanya, kemudian ibu keluar dari kamar. Tidak mau keributan aku dan ibu terdengar oleh mas Andre aku biarkan ibu pergi, semoga saja ibu mengerti dengan kondisiku saat ini, ada banyak hal yang harus di perjelas oleh mas Andre kepadaku, jika ibu berada dirumah ini tentu mas Andre dan aku tidak bisa saling terbuka. *** Aku berusaha bangun subuh sekali, setelah sholat subuh aku langsung memasukan baju kedalam mesin cuci, baju yang sudah menggunung tentu tidak akan bisa langsung selesai. Sambil mencuci aku menyapu rumah dari belakang hingga kedepan, dan tidak lupa lantainya aku pel, piring yang sudah menumpuk di wastafel ku biarkan sementara waktu berkumpul untuk ngerumpi karena aku harus segera mempersiapkan sarapan untuk suami dan anak anakku. hampir 30 menit aku berperang dengan alat masak akhirnya sarapan sudah selesai, telur dadar dengan empat varian rasa telah berhasil ku hidangkan di meja makan. Mas Andre sangat menyukai telur dadar pedas Tampa embel embel daun bawang atau pun daun sop, jauh berbeda dengan anak sulungku dzaki dia penggemar daun sop dan daun bawang, sedangkan Abi telur dadar yang hanya di berikan sedikit garam tetapi sangat senang dengan lalapan dan Faiz si bungsu sangat senang dengan telur dadar topping keju, sosis dan bakso. Tidak lupa 4 gelas s**u hangat yang juga tersedia untuk melengkapi nutrisi keluargaku di pagi hari, setelah selesai aku cukup puas dengan hasil kerjaku namun aku tidak bisa terlalu lama bersenang hati karena jam sudah menunjukan pukul tujuh. aku segera melepaskan celemek dan menghamburkan diri masuk ke kamar anak anakku untuk membangunkan mereka. Setelah selesai mandi dan berpakaian aku mengajak anak anakku keluar dari kamar menuju meja makan untuk sarapan yang ternyata di sana sudah ada mas Andre yang duduk di singgasananya seperti biasa. aku segera mengatur tempat duduk anak anakku kemudian aku duduk di samping mas Andre menatapnya sebentar lalu tersenyum manis. "Kamu dandan?" mas Andre menatapku dengan beberapa kerutan di wajahnya. Aku menjawabnya dengan senyuman semanis mungkin. "Hahaha!" mas Andre tertawa sambil mengusap wajahnya "Kamu ngapain pakai acara dandan segala?" ucap suamiku yang masih terpingkal pingkal tertawa. "Lho, kamu yang minta kan mas." aku berusaha santai dan percaya diri di depan mas Andre. "Iya sih, maksud aku gak gini juga kali, ketebalan dandanan kamu sepagi ini, gak cocok sama wajah kamu, norak tau gak hahaha." tawa suamiku semakin menggema, setelah berhasil meluluh lantakkan kepercayaan diriku dengan ucapannya. "Kok mas gitu nanggapin usaha aku mau tampil cantik di depan kamu!" emosiku yang tadi malam masih bersisa saat mendengar mas Andre berbicara dengan seseorang begitu mesra, belum lagi sisa emosiku sepuluh hari yang lalu saat mas Andre membandingkan aku dengan wanita lain, kini di tambah lagi dengan ucapannya baru saja yang juga menambah emosi, ingin rasanya aku menyemburkan segala emosi yang tertahan ini di pagi ini. "Cantik, kamu terlihat aneh Andin, kayak onde onde iyakan nak?" mas Andre menoleh pada dzaki yang sedang sarapan untuk mencari pembenaran, dzaki menoleh kepadaku lalu tersenyum. "Kamu jangan bawa anak anak dalam masalah kita" ucapku ketus, dadaku terasa sesak saat mas Andre menyamakan diriku seperti onde-onde. "Kamu marah? hahaha, aku hanya mengatakan sesuai dengan kenyataannya, dari pada kamu keluar dengan dandanan yang norak begini membuat malu aku saja" ucap mas Andre sambil meneguk air putih dan mulai menyantap sarapannya. "Aku hanya memenuhi keinginan kamu mas!." aku berusaha tidak emosi meskipun di dalam hatiku sangat sakit sekali dengan ucapan mas Andre. "Tapi tidak seperti ini juga kali! menor" ucap mas Andre yang mulutnya penuh dengan makanan, sekali lagi mas Andre memberikan komentar tentang riasanku yang bersusah payah aku melakukannya "Setidaknya hargai usaha ku" ucapku yang mulai putus asa, dan kepercayaan diriku hampir habis terkikis. "Apa yang mau aku hargai, cantik juga enggak. melawan lagi sama suami, jadi tunjukan bagian mana yang harus aku hargai?" setiap kalimat yang di keluarkan oleh mas Andre sengaja di tekannya, aku tau dia sedang menyindir diriku. Aku terdiam sejenak setelah mencerna kalimat yang baru saja di lontarkan mas Andre untuk diriku, saat ini mungkin dia masih menaruh dendam padaku, tidak memberikan kabar terlebih dahulu saat kembali dari rumah orang tuaku menurut mas Andre adalah kesalahan tetapi menurut ku adalah mas Andre sangat takut jika pembicaraannya dengan seseorang yang cukup mencurigakan di ketahui olehku. "Anak-anak. segera habiskan sarapan kalian ibu tunggu di luar ya!" melihat anak anakku yang masih sarapan rasanya tidak pantas aku mengajak mas Andre untuk adu mulut pagi ini, jadi kuputuskan untuk membiarkan mas Andre menyudutkan ku. "Mau kemana? jawab dulu pertanyaan ku!" aku yang mulai beranjak pergi tersentak karena tanganku di tarik oleh mas Andre, matanya melotot menatapku. "Lepas mas!. tidak pantas bertengkar di depan anak anak" ucapku pelan namun tegas. "Heh, kau yang memulai ini semua dengan cemburu mu yang tak beralasan" mas Andre menghempaskan tanganku dengan kasar. Aku menghembuskan nafas kasar, mas Andre benar benar telah berubah dia bukan lagi Andre yang dulu menyayangi ku, aku berjalan lemah menuju ruang tamu. rindu yang sengaja ku ciptakan selama sepuluh hari tidak membuat sikap mas Andre kembali, aku rindu dirimu mas, mengapa kau berubah? apakah karena perempuan yang bernama Medina itu? atau itu hanya alasanmu saja karena sudah bosan kepada diriku?. Aku duduk termenung di sofa ruang tamu memikirkan bagaimana cara memperbaiki hubunganku dengan mas Andre kembali hangat seperti dahulu, apa yang harus kulakukan? aku benar benar bingung harus berbuat apa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN