Temu

592 Kata
                                                                                            ***     Aku baru saja selesai menyalin tulisan yang ada di papan tulis. Tatkala melihat ke arahnya, tanpa sengaja ia pun menoleh juga kepadaku. Ia sedikit heran, dan mengangkat kedua alisnya yang seolah berkata, ‘Kenapa?’ dengan wajah polosnya. Aku langsung membuang muka dan berpura-pura melanjutkan menulis.     Namanya ialah Yulianti, ia bukan perempuan pertama yang kutemui di kelas ini. Namun justru yang terakhir kulihat masuk ke kelas karena terlambat. Meski begitu, dialah yang membuatku rela menatapnya lebih lama. Parasnya yang menurut banyak lelaki ‘biasa saja’, namun menurutku ‘luar biasa’. Matanya yang begitu bulat dan indah. Pipinya yang tembam, sesekali memerah tatkala ia malu, dan badannya yang sedikit gemuk. Suaranya terbilang aneh dan tidak lucu bagi orang lain, namun bagiku suara itu menggemaskan serta terngiang-ngiang di dinding telingaku.     Aneh sekali memang, belum juga berkenalan secara langsung, namun aku sudah menyukainya. Aku mengetahui namanya pun dari dosen sebelumnya, yang sedang mengabsensi mahasiswa sebelum memulai perkuliahan. Dan ketika namanya disebut, aku langsung menoleh ke arahnya. Tiba-tiba, lamunanku buyar tatkala Pak As’ad ingin membagikan kelompok presentasi.             “Kelompok saya yang menentukan ya. Untuk presentasi yang dimulai sabtu depan.”     Terlihat beberapa mahasiswa menorehkan wajah kecewa. Sebab, mereka tidak bisa satu kelompok dengan teman akrabnya. Maklum saja, memang begini kehidupan di kampus. Beberapa dari kami memang sudah punya genk masing-masing. Aku tidak peduli dengan hal itu. Dengan siapaun aku berkelompok, maka aku akan berusaha beradaptasi.             “Baik, kelompok satu dimulai dari nomor absensi 1 sampai 10.”     Kami semua tampak kebingungan, sebab kami belum begitu hafal dengan nomor absensi masing-masing.             “Oh, belum hafal nomor urutnya ya?”     Mereka menjawab serentak “Belum, Pak.”             “Kalau gitu, saya bagikan dulu kelompoknya. Nanti nomor urut bisa kalian lihat dan langsung buat grup w******p dengan kelompoknya.”     Ia lalu melanjutkan membagikan kelompok hingga selesai. Dan kebetulan, aku sekelompok dengan Yuli. Ini mungkin menjadi kesempatan untuk kenal lebih dekat dengannya.     Kami yang sudah mendapatkan kelompok, akhirnya duduk dengan kelompok masing-masing. Aku dan Yuli berada dikelompok satu dengan delapan mahasiswa lain. Dan salah satunya ada kakak tingkat yang mengulang di mata kuliah ini. Kami pun sepakat untuk menjadikannya ketua kelmpok kami. Ia pun membagikan tugas mencari materi.             “Kita cukupkan ya, sabtu depan kelompok pertama dipersiapkan untuk presentasi.”     Aku yang sudah siap-siap untuk pulang, dipanggil oleh Yuli.             “Aku minta nomor WA kamu dong, buat dimasukin ke grup.” Katanya sambil memegang ponsel, tasnya sudah ia gendong sebelah.     Tanpa banyak bicara, aku langsung menyebutkan nomor ponselku padanya, lalu pamit pulang. Sebenarnya aku tidak langsung pulang, aku bergegas ke sekolah tempatku melatih ekskul pramuka. Ini kulakukan setiap hari rabu dan sabtu. Selebihnya aku bekerja sebagai driver kurir daring. Aku bekerja demikian untuk melanjutkan kuliah. Sebab sebelumnya, aku pernah kuliah yang masih dibiayai oleh Ayah. Namun harus kandas di semester 2 karena tidak ada biaya. Rasa penyesalan itu tidak akan pernah terulang lagi.                                                                                             ***     Aku sedang melatih murid-muridku tentang bagaimana cara berkemah, mendirikan tenda dan tentang memasak di alam terbuka. Mereka semua cepat sekali tanggap, dan kini aku hanya memperhatikan dari jauh sambil duduk di pinggir lapangan. Kubuka ponselku, notifikasi chat muncul berkali-kali. Itu dari grup yang baru saja dibuat oleh Yuli.     Ia juga mengirimkan chat secara personal padaku,             “Kamu setiap sabtu selalu buru-buru, memangnya ada apa? Nggak bisa ya, untuk nongkrong sebentar bareng temen-temen?” aku membaca pesan itu pelan. Aku hanya bisa tersenyum setelah membacanya.             “Maaf ya, aku nggak bisa untuk nongkrong sama temen-temen. Beres kuliah, aku langsung ngelatih.” Balasku.     Kutaruh kembali ponselku dan melanjutkan melatih mereka.                                                                                             ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN