Prolog.
***
Siapa sangka, jika makhluk yang paling egois itu ialah manusia. Merasa benar adalah salah satu s*****a bagi mereka. Itu sebabnya, merasa paling benar, sulit untuk dikalahkan. Dan hanya rasa sesal yang dapat meluluhkannya. Tapi, sesal tidak bisa mengembalikan semuanya.
“Lalu kau menyesal, telah memutuskan harapannya?”
“Iya. Namun mau bagaimana lagi? Toh dia juga sudah bahagia dengan yang lain.”
Tapi rasa sesal itu sendiri bisa menjadi guru paling berharga dalam hidup. Dengan pernah menyesal, kita dapat mengulang hal: entah itu hubungan, kisah atau apa pun itu, bisa dibangun atas rasa sesal. Agar merasa benar tidak kembali ke dalam kisah berikutnya.
“Jadi? Kau mulai ulang kisahnya? Dengan manusia yang sama?”
“Tentu saja tidak. Aku harus berdamai dengan yang lama, untuk memulai dengan yang baru.”
“Tidak takut, jika cerita lama akan terulang kembali pada cerita yang baru?”
“Takut. Sangat. Tapi, kalau rasa takut itu lebih kuat, kapan aku bisa melangkah? Aku juga belum tahu bagaimana cerita berikutnya, bukan?”
“Tapi, bang...”
“Hei, kisah ini belum usai. Tidak ada kisah yang benar-benar usai, kecuali kematian.”
Benar. Hanya ada kata usai, jika kematian telah datang menjemputnya. Jika hanya sebatas sakit hati, itu bisa sembuh. Patah? Bisa kembali tumbuh. Kalau mati? Mana bisa hidup lagi?