"Coba kamu telepon dia, sudah di mana, memang dia ngomong apa sih sama kamu Nduk?"
"Tadi Ayu nggak terlalu memperhatikan Bang Rizki ngomong apa, soalnya tadi 'kan banyak orang jadi nggak konsen."
"Sebentar deh Bu, Ayu coba telepon Bang Rizki dulu."
"Gimana Yu, nyambung nggak?"
"Nggak Bu, malah nggak aktif HP-nya Bu."
"Ya udah nanti kamu coba saja lagi, siapa tahu sudah bisa nyambung, mungkin baterainya habis kali belum di cas."
Namun tiba-tiba terdengar suara Pak Sugimin yang tergesa-gesa masuk ke dalam rumah dan langsung menyalakan televisi yang ada di ruang tamu.
"Ada apa toh Pak, grasah-grusuh gitu?"
"Bapak mau nyalakan televisi Bu, ada berita tentang kecelakaan itu loh Bu pengusaha Wiranata Group keluarganya ada yang kecelakaan Bu, tadi pagi!"
"Innalilahi wainalillahi roji’un ..."
"Terus siapa yang kecelakaannya, kok bisa sih Pak, di mana Pak?"
"Walah Bu, Bapak saja masih cari beritanya di TV nih, apa sudah lewat ya sekilas infonya," tanya Pak Sugimin yang masih kebingungan.
"Nah ini dia Bu, beritanya," ucap Pak Sugimin sambil melihat dan mendengarkan berita itu dengan saksama.
"Lah piye toh Bu, ternyata Pak Aldi dan Bu Salwa yang kecelakaan Bu, kasihan mereka ya Allah, semoga nggak terlalu parah ya Allah."
"Memang di situ terkenal angker kata orang biasanya minta tumbal gitu."
Ayu yang dari tadi memperhatikan orang tuanya menjadi bingung.
"Memang Bapak kenal sama orang yang kecelakaan itu?"
"Lah ya kenal toh, itu namanya Bapak Aldiansyah Wiranata yang mau datang ke pernikahannya sepupumu itu Sabtu kemarin, memang sih bukan beliau yang datang melainkan adik kandungnya Bu Nurmasari Wiranata."
"Terus Bapak ceritakan masa lalu Pak Aldi yang anaknya menghilang selama lima tahun tetapi Bapak lupa namanya siapa?"
"Oh itu, mudah-mudahan ya Pak nggak terlalu parah," ucap Ayu yang masih sibuk membuat bumbu bali buat besok.
Ayu tidak tahu kalau yang mengalami kecelakaannya adalah mertuanya sendiri. Namun di hatinya Ayu seperti ada yang mengganjal, tetapi Ayu juga tidak tahu apa itu.
Sekilas Ayu seperti melihat suaminya di antara kerumunan orang yang tertangkap layar kamera.
Namun dia tidak terlalu menggubrisnya, mungkin halusinasi saja karena selalu memikirkan suaminya itu.
Hari sudah menjelang malam, hanya terdengar suara jangkrik di tengah kesunyian, tak ada rembulan maupun bintang yang menghiasi malam ini, hanya perasaan cemas dan gelisah sang pujaan hati belum menampakkan dirinya.
Entah yang ke berapa kali Ayu menelepon, Di Wa maupun SMS semua tidak terbalas, entah apa yang terjadi, kepada siapa Ayu harus mengadu, suaminya sampai sekarang belum juga datang.
Kadang Ayu mengingat dengan perkataan abang-abangnya apakah mungkin Bang Riski sudah mulai bosan dengan Ayu, sekarang mungkin dia sudah melupakan Ayu?
"Ke mana kamu Bang, kenapa ponselmu sampai sekarang tidak aktif?" lirihnya dalam hati.
"Nduk! Nduk!
"Eh, Ibu ada apa Bu?"
"Justru Ibu tanya sama kamu, ngapain kamu di luar sendirian, ini sudah jam sepuluh malam masuk yuk, nanti kamu masuk angin!" perintah Bu Yati kepada Ayu.
Bu Yati merangkul Ayu dan membawa ke kamar. Kamar Ayu ketika masih kecil mempunyai banyak kenangan, kamar itu masih tertata dengan rapi bahkan barang-barang pun terletak di tempat yang sama.
Bu Yati mendudukkan di tepi ranjang. Dikecupnya pucuk kening rambut Ayu, dan Ayu menyandarkan kepalanya di bahu Bu Yati.
"Ada apa toh Nduk, kenapa kamu sedih, ponselnya si Riski belum bisa dihubungi?" tanya Bu Yati penasaran.
Ayu hanya menggeleng-gelengkan kepala, dan mulai menangis.
"Menangislah Yu, kalau itu bisa membuatmu hatimu sedikit lega. "Jangan berpikir yang tidak-tidak, doa kan saja supaya suamimu dalam keadaan sehat."
"Filling Ibu mengatakan ada sesuatu yang akan merubah jalan hidup kita terutama kamu Yu, sebagai istrinya.
"Maksud Ibu apa Ayu nggak ngerti?" tanya Ayu yang nampak bingung.
"Yu, dari awal kamu memperkenalkan kepada kami, sebenarnya Ibu dan Bapak sangat yakin dan mantap menikahkan kamu dengan Rizki.
Ibu lihat wajah Rizki tidak selugu yang kita kira Yu, ada sesuatu yang dia rahasiakan kepada kita!"
"Wah, kalian belum tidur, loh kenapa Ayu Bu?" tanya Pak Sugimin dan masuk ke kamar untuk mengecek keadaan Ayu.
"Itu loh Pak si Rizki sampai sekarang belum bisa di hubungi ponselnya, ya wajar toh sebagai istri jadi bingung, masa dari tadi pagi sampai malam begini nggak bisa dihubungi," jawab Bu Yati agak sewot.
"Walah tentang Rizki, udah jangan terlalu kamu pikirkan si Rizki itu, Bapak yakin ini dia sengaja lakukan agar tidak mengganggunya dulu, pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan dari kita," ucap Pak Sugimin dengan mantap.
"Tuh, dengar apa yang Ibu katakan sama toh?"
"Bapak sama Ibu yakin ada sesuatu yang akan kita ketahui secepatnya, dan akan merubah nasib kita, iya kan Pak?" tanya Bu Yati sambil menoleh kearah suaminya.
"Iya Nduk, kita ini harus selalu berpikir positif dan tidak boleh melihat dari sudut pandang kita.
"Apa kamu tidak merasa curiga Yu, saat kita menghadiri resepsi pernikahan sepupumu Lia?" selidik Pak Sugimin.
"Sebenarnya agak curiga sih Pak, ada yang Ayu sembunyikan dari Bapak sama Ibu."
"Waktu itu Ayu sempat lihat Bang Rizki sedang meluk tante-tante dengan mesra dan ternyata tante itu adalah Ibu Nurmasari Wiranata itu Pak."
"Nah terus saat Pakdhe Sukirman memperkenalkan kita semua dengan Bu Linda, pemilik Wiranata Group, Bang Rizki juga senyam-senyum dengan Bu Linda, dan seperti ada kerinduan yang dalam seperti kaya baru ketemu lagi gitu Pak!" tetang Ayu yang sedikit curiga.
"Terus kamu nggak tanya kenapa dia meluk-meluk itu tante dan kenapa dia melihat Bu Linda senyam-senyum gitu?" tanya Bu Yati penasaran.
"Sudah Bu, cuma dia bilang Ayu harus percaya sama Bang Rizki, belum tentu apa yang kita lihat itu adalah kejadian yang sebenarnya, suatu saat nanti kamu akan tahu sendiri, gitu katanya Pak."
"Berarti dugaan kita benar, iya kan Bu?"
"Dugaan apa Pak? jangan buat Ayu semakin bingung."
Pak Sugimin dan Bu Yati salin berpandangan dan langsung tersenyum.
"Ih Bapak sama Ibu ini, Ayu lagi sedih kenapa kalian yang mesra-mesraan di depan Ayu, sih?" tanya Ayu cemberut.
"Tuh anakmu Pak, kamu itu biar sudah nikah tingkahmu tetap kaya anak kecil, kenapa nggak boleh, atau iri ya sama kita berdua?"
"Iih Ibu?" jawabnya sambil memeluk mereka berdua.
"Nduk, kami ini sangat sayang kepada anak-anak kami, kami tidak pernah membeda-bedakan kasih sayang kami ke kalian."
"Namun berhubung kamu adalah satu-satunya perempuan jadi mungkin agak spesial, semua anak itu ada rezeki masing-masing, hanya Allah Yang Maha Mengetahui segalanya."
Seperti abang-abangmu itu, sebenarnya kami sakit hati atas ucapan mereka, tetapi kami tidak pernah membencinya, karena kami sebagai orang tua sudah gagal mendidik mereka menjadi orang yang mengerti arti sopan santun dan tata krama," terang Pak Sugimin.
"Bukan Pak, bukan Bapak dan Ibu gagal mendidik kami, buktinya Ayu sama Bang Ridho sangat sayang sama kalian, sangat menghormati Bapak sama Ibu, itu memang merekanya saja yang begitu semua karena kedudukan kekuasaan dan harta, membuat mereka salah arah," jawab Ayu.
"Ya sudah Nduk, lebih baik kamu istirahat di sini saja, suamimu juga belum pulang daripada di rumah sendirian," ucap Bu Yati sambil memeluk Ayu.
"Pokoknya Nduk kamu percaya deh sama Bapak dan Ibu, nak Rizki itu orang baik, sopan dan ramah, dia adalah imam yang baik untuk hidup di dunia dan akhiratmu," ucap Pak Sugimin menegaskan.
"Iya Pak, Ibu terima kasih telah menghibur Ayu."
"Ayu sayang deh sama kalian, kalian adalah panutan Ayu menjadi keluarga sakinah mawadah dan Warohmah, Aamiin," jawab Ayu dengan tersenyum
"Kami tinggal dulu ya Nduk, sudah malam nanti kesiangan bangun."
"Iya, ibu dan Bapak juga istirahat ya."
Mereka pun meninggalkan kamar Ayu dan berlalu pergi dari sana.
Pak Sugimin dan Bu Yati sangat percaya dan yakin kalau Rizki adalah suami yang tepat untuk anaknya Ayu.
Serasa Rizki adalah tulang punggung setelah Pak Sugimin meninggal, tetapi sebelum itu terjadi Pak Sugimin ingin semua anak-anaknya kembali ke jalan yang benar, yang mengerti arti hidup sebenarnya.
Dinginnya malam tidak sedingin hati yang rindu, rindu yang menggebu tapi tak tahu ujungnya, dia pun tak bisa tidur hati selalu gundah gulana, apa yang terjadi, ingin bertanya dengan desiran angin yang sampaikah rindu ini kepada sang pujaan hati?"
Hanya berteman dengan kesunyian dan dalam diam, akhirnya yang di tunggu menghubunginya di tengah malam.
Segera Ayu mengangkat telepon dari suaminya Rizki.
@Ayu
{Assalamualaikum, Bang}
@Rizki
{Walaikumsalam Dek, maaf in Abang nggak bisa lama-lama ngomong sama Ayu, pokoknya kalau di sini sudah selesai Abang janji langsung pulang, yang penting Ayu percaya dan tunggu Abang pulang ya, nanti Abang cerita in semuanya, untuk saat ini Abang belum bisa kasih tahu Ayu, tapi bila sudah tepat waktunya Abang kasih Ayu, maukah Adek menunggu Abang sampai pulang ke rumah kita?}
@Ayu
{Ayu janji akan setia sama Abang. Ayu percaya sama Abang kalau Abang tidak akan mengecewakan Ayu apalagi kedua orang tua Ayu.}
@Rizki
{Ya sudah Dek, itu dulu yang bisa Abang kasih tahu. Abang tutup dulu teleponnya, jika ada yang bertanya tentang keberadaan Abang bilang saja Abang lagi keluar kota ada perlu}
{Peluk dan cium hangat dari Abangmu, cinta sejatimu, Assalamualaikum Sayang}
@Ayu
{Walaikumsalam, Bang}
Ayu sangat senang sekali setidaknya bisa mendengarkan suara suaminya walau hanya melalui ponsel.
Ayu pun langsung bisa tidur dengan tersenyum dan bahagia.
Tidak ada yang tahu apa yang dikerjakan Rizki di kota, yang akan membuat semua kaget dan syok ketika Rizki balik ke kampung.