12. Gosip Pagi-Pagi

1511 Kata
Azan berkumandang dengan syahdu, setiap lantunannya menyiratkan penuh makna, udara yang masih dingin dikala subuh tak membuat Ayu menarik selimutnya kembali. Ayu bergegas ke luar kamar menemui ibunya yang sedang sibuk di dapur sebelum subuh. "Bu, maaf Ayu kesiangan bangun!" ucapnya yang masih menguap karena baru bangun. "Nggak apa-apa Nduk, ada Bapak yang bantuin, hari ini Bapakmu nggak ke pasar katanya nggak enak badan, ayo kita salat dulu baru nyambung lagi kerjanya," sahut Bu Yati langsung mematikan semua kompornya dan bergegas masuk ke kamar mandi mengambil air wudu. Ayu pun mengikuti ibunya dari belakang. "Bapak mana Bu, katanya nggak enak badan?" "Biasalah Bapakmu bilang nggak enak badan tapi yaitu pergi ke masjid salat di sana," jawab Ibu tersenyum. Setelah selesai salat subuh mereka langsung kembali melakukan rutinitas seperti biasanya. Memang tidak terlalu banyak menyita waktu karena bahan-bahan dan bumbu sudah dipersiapkan oleh Ayu dari tadi sore, sehingga tinggal mencampurkannya saja, dan testi rasa oleh Bu Yati. Mereka membuka warung dari jam 05.30 pagi, karena sudah terbiasa orang-orang mencari sarapan yang murah meriah, sehat dan bergizi. Bu Yati menjual nasi kuning hanya sembilan ribu rupiah jika lauknya ayam atau ikan dan delapan ribu rupiah jika lauknya telur. Porsinya banyak lengkap dengan mie goreng, serundeng, orak-arik tempe dan yang khas dari nasi kuningnya adalah ditambah sambal goreng kentang dan hati, tak lupa ditaburi bawang goreng sebagai pelengkap. Dari kejauhan aroma bau wangi dikala menjelang pagi sudah tercium karena terbawa angin. Bu Yati tidak pelit jika meracik nasi kuningnya, sehingga di kampung banyak yang menyukai Bu Yati selain baik dan ramah terhadap orang lain. Tak lupa setiap hari Jumat beliau memberikan dan membagikannya secara gratis terutama kepada fakir miskin. Bu Yati sudah berjualan nasi kuning selama tiga puluh lima tahun yang lalu sebelum Pak Sugimin bangkrut, karena hobi itulah sekarang Pak Sugimin dan Bu Yati bergantung hidup. Allah masih berbaik hati walaupun Pak Sugimin tidak mempunyai harta benda lagi tetapi dengan usaha berjualan nasi kuning Bu Yati masih tetap bertahan hingga sekarang. Seharusnya mereka sudah menikmati hasilnya, namun keuntungan dari berjualan pun kadang di berikan kepada anak-anaknya yang serakah. Mereka pun meminta dengan memaksa bahkan dengan kasar, tetapi karena alasan anak dan tidak tega kepada anak mereka pun memberikannya. Hanya Ridho dan Ayu, mereka jarang membebankan orang tuanya untuk meminta apa pun. Hanya doa dan restu yang mereka minta kepada orang tuanya. Namun Allah lah yang berkehendak di tahun ke sepuluh Bu Yati dan Pak Sugimin sudah bisa menunaikan rukun Islam yang kelima yaitu ibadah haji. Allah mengabulkan permintaan mereka disaat mereka dengan ikhlas memberikan kepada anak-anaknya, Allah membalasnya dengan berlipat-lipat ganda. Disaat banyak peminatnya pasti terselip ada yang tidak menyukai Bu Yati dan Pak Sugimin. Mereka adalah keluarganya sendiri yaitu Pak Sukirman, beliau adalah kakak kandung dari Pak Sugimin bapaknya Ayu. Selain suka menghina juga suka mengadu domba. Pak Sukirman awalnya sangat baik dengan adiknya, namun gara-gara beliau tidak dipinjamkan uang sebesar lima ratus juta rupiah untuk membeli rumah di kota, sikapnya langsung memusuhi Pak Sugimin. "Wah, mentang-mentang banyak pembeli, sombongnya minta ampun, baru juga jualan nasi kuning sok banget jadi orang!" "Eh Yati, kamu nggak pakai ilmu pelet atau pelaris kaya gitu kan, soalnya kalau saya lihat semakin lama semakin laris saja!" ucap Pak Sukirman yang sengaja lewat di depan warung Bu Yati. "Astagfirullah, ya nggak lah Mas, saya dari dulu lillahi ta'ala nggak main gituan, saya murni hasil keringat sendiri, jangan memfitnah gitu dong Mas," sahut Bu Yati geram melihat tingkah lakunya saudara suaminya itu. "Ya kali aja main gituan, 'kan cuma tanya wajar dong!" balasnya dengan santai. "Terus Pak Sukirman yang terhormat mau ngapain ke sini mau beli atau cuma mau provokasi kita gitu?" tanya Bu Leha sewot. "Nggak cuma mau lewat saja, kalau saya beli nanti ada jin penunggunya ikut ke saya bagaimana?" ledek Pak Sukirman sambil tertawa. "Gampang, tinggal Pakdhe bacakan ayat kursi sampai tiga kali terus di sembur dengan air," teriak Ayu dari dalam menuju ke luar. "Dasar edan, nyahut saja nggak sopan itu sama orang tua!" hardiknya dan tertawanya pun berhenti. "Yati ajarin anakmu ini sopan santun sama orang tua, makanya dia dapat suami kere nggak berpendidikan klop dah jadi satu kalian," sahut Pak Sukirman dengan lantang. "Betul itu Ti, coba kamu lihat anakku yang cewe si Lia, kemarin kamu tahu nggak menantuku yang ganteng itu si Rangga ngasih berlian loh hadiah perkawinannya buat Lia, baru juga dua hari nikah sudah dikasih hadiah begituan gimana kalau sudah bertahun-tahun pasti bisa segudang berliannya si Lia, hebat nggak Ibu-ibu?" ucap Bu Sri istrinya Pak Sukirman dengan mata yang berbinar-binar hampir mau keluar itu biji matanya. "Alhamdulillah Mbak, berarti rezeki si Lia," sahut Bu Yati yang masih sibuk melayani pembeli dengan tersenyum. "Pasti kamu iri 'kan Yu, kelihatan dari mukamu itu ditekuk, kalau kamu waktu nikah sama si kismin itu dikasih apa sih pasti nggak ada kan, paling-paling cuma seperangkat alat salat atau centong buat nasi, hahaha ...," tawa Bu Sri beserta geng sosialitanya yang ikut mampir di warung Bu Yati bersama suaminya. "Oalah malah lebih bagus toh Bu Sri, sampean ini aneh deh, justru kalau seperangkat alat salat berarti nak Riski ingin si Ayu ini menjadi istri yang solehah, tapi memang dari sananya sudah cantik, pintar, baik solehah pula tinggal ditingkatkan lagi, daripada anak sampean baju kurang bahan bilang modis, eh Bu Sri kita ini tinggal di kampung, jadi baju kaya gitu idih norak banget, jadi gibah kan kita!" sewot Bu Nani. "Iya nih Bu Sri ada-ada saja, Bu Yati sama Ayu nggak usah dengar in kata mereka, kita tahu kok kalian gimana, terserah orang mau ngatain apa toh kita nggak pernah ganggu mereka, iya toh ibu-ibu?" tanya Bu Leha. "Betul itu yang dikatakan Bu Leha, lebih jadi diri sendiri daripada jiplak orang lain, untung nggak ada Bu Tari, kalau ada habis kalian diceramahi sama Ratu gosip eh maaf Bu RT," jawab Bu Nani sambil tertawa renyah diikuti ibu-ibu yang lain yang masih mengantre membeli nasi kuning. "Alah bilang saja kalian pada iri 'kan sama keluarga saya!" "Lihat keluarga saya mengikuti menteri kesehatan cukup dua anak saja, melahirkan yang berkualitas buktinya Si Leo sekarang hidupnya enak di kota jadi manajer keuangan di perusahaan bonafid dan nikah sama orang kaya pula pemilik perusahaan jaya group." "Sedangkan Lia baru nikah kemarin lusa dengan laki-laki tajir pemilik perusahaan Wiranata group," ucap Pak Sukirman dengan bangga. "Ralat Pak Sukirman, Rangga itu bukan pemilik perusahaan Wiranata group cuma bekerja di salah satu cabang perusahaan di bawah naungan Wiranata group, beda loh Pak, hahaha," ejek Bu Nani dengan tertawa terbahak-bahak. Mendengar itu Pak Sukirman wajahnya langsung memerah entah karena marah atau lantaran malu salah sebut kalau Rangga pemilik perusahaan itu. "Bu, nggak cape apa mereka perang dingin begituan, apa mereka nggak malu udah pada tua masih berantem kaya anak SD!" ucap Ayu berbisik kepada ibunya. "Biarin saja Ibu mau larang masih sibuk juga nih, nanti kalau cape pasti berhenti ghibah juga, iya toh," sahut Ibunya yang ikut berbisik di telinga Ayu. "Ih kok jadi kita yang bisik-bisik, sudah ah tuh layanin pembeli di sana, kayanya mau makan di sini deh," jawab Bu Yati melirik sekilas dua wanita yang berpakaian seperti pemulung karena membawa karung di belakang pundaknya. Tiba-tiba datang Pak Sugimin yang baru pulang dari Masjid dengan Bapak-bapak yang lain ingin membeli nasi kuning sekalian. "Assalamualaikum!" "Walaikumsalam!" "Wah sudah rame saja warungnya Bu Yati ini, oh ya saya pesan satu bungkus ya Bu, kebetulan istri saya lagi ngidam nas kuning, tapi boleh nggak Bu cuma lima ribu saja!" tanya Pak Slamet tersenyum dengan sungkan. "Kok, cuma satu Pak Slamet, yang lain pada nggak mau makan?" tanya Bu Yati ramah. "Gimana mau beli banyak, pasti uangnya cuma lima ribu, eh Pak Slamet jangan kebanyakan bikin anak saja, suruh istrinya KB dong, sudah miskin buat anak melulu, nggak kasihan sama istri sendiri, berarti ini yang keenam dong, iih cape deh!" "Jangan gitu dong Bu Sri, sampean mulutnya kaya cabai pedas, awas loh ngatain orang nanti anak sampean gitu juga," timpa Bu Lina tetangga sebelah. "Iya benar jangan sampai menjilat ludah sendiri," sahut Bu Leha yang masih geram dengan kelakuan Bu Sri itu. "Ayuk Say, kita lanjut lari paginya, cukup untuk hari ini gibahnya, nanti kalau ketahuan Bu RT malah kira yang kena semprot!" ajak Bu Sri dengan sewot kepada tiga teman geng sosialitanya. Tanpa mengucapkan salam Pak Sukirman dan Bu Sri beserta gengnya berlalu pergi begitu saja. "Pak Slamet jangan di dengar in omongannya Bu Sri tadi, biasalah ibu-ibu sini," ucap Pak Sugimin dengan bijak. "Iya Pak, saya mengerti memang kami juga salah, seharusnya kami juga tahu diri sebenarnya apa yang dikatakan Bu Sri itu memang betul, cuma istri saya takut Pak kalau pakai KB apa pun, karena Bapak tahu sendiri dulu gara-gara pakai begituan nyawa istri saya hampir melayang," jawabnya tertunduk lesu. Herannya disaat tetangga mereka sedang berargumen ria, Bu Yati dan Ayu masih sibuk melayani pembeli lain, soalnya Bu Yati sudah tahu pesanan mereka tiap hari, jadi beliau sudah menyisihkannya. "Ini Bu punya Bu Leha dan ini punya Bu Nani," ucap Bu Yati kepada mereka berdua. "Wah terima kasih, Bu Yati tahu saja pesanan kita, ini uangnya Bu Yati, kami pulang dulu, Assalamua’alaikum! "Walaikumsalam!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN