Ayu menghampiri dua wanita yang berpakaian lusuh itu. Yang satu wanita itu terlihat sangat tua mungkin berkisaran 50 tahunan dengan jilbab hitam instan yang sudah pudar warnanya, memakai baju gamis hijau tosca namun banyak tambalan di mana-mana.
Sedangkan yang satunya lagi kelihatan lebih muda sekitaran umur tiga puluhan, dengan memakai jilbab instan berwarna merah marun dengan gamis celana panjang hitam dan kaos panjang yang kedodoran.
"Maaf Bu, mau pesan apa makan sini atau dibungkus?" tanya Ayu dengan ramah kepa5da kedua wanita pemulung itu.
"B-boleh saya menumpang duduk di sini Mbak, sebentar saja Ibu saya kecapean berjalan kaki dari ujung kesini," jawab wanita muda itu mungkin dia adalah anaknya ibu tua itu.
"Boleh silakan duduk Mbak, Ibu, sebentar saya ambilkan air minum dulu," ucap Ayu sambil berlari kecil mengambil minum untuk kedua wanita itu.
Tak lama kemudian Ayu membawakan dua gelas air putih untuk kedua wanita itu.
"Silakan di minum dulu Mbak, Ibu!"
"Te-terima kasih Mbak, kamu baik sekali," ucap wanita muda itu.
Tiba-tiba suara perut dari ibu tua itu terdengar nyaring, sepertinya cacing di dalam perut ibu itu ingin melakukan konser.
"Maaf Mbak, Ibunya lapar mau makan?" tanya Ayu dengan hati-hati takut tersinggung.
Mereka berdua tertunduk lesu dan diam.
"Loh kok diam, tapi perut ibu harus diisi nanti tambah sakit loh kalau nggak makan."
"Ka-kami nggak punya uang Mbak mau beli, sedangkan kami belum dapat barang bekas yang bisa kami jual untuk makan kami," ucap wanita muda itu dengan ratapan sedih.
"Nggak apa-apa Mbak, kalau begitu bentar saya ambilkan, jangan khawatir saya ihklas kok nggak usah bayar, tunggu sebentar!" sahut Ayu dan bergegas membuatkan dua porsi untuk kedua wanita itu.
"Bu, kedua wanita itu mau makan tapi nggak punya uang, nggak apa-apakan Ayu buatkan makanan tanpa dibayar?"
"Memang pernah Ibu larang kamu untuk tidak memberi makan kepada yang membutuhkan, tidak kan, selama kita ikhlas lillahi taala, rezeki kita tetap selalu ada, yakinkan dalam hatimu ya Nak!"
"Terima kasih ya Bu."
"Sana cepat layani saja, kasihan mereka kaya kelaparan juga sih," jawab Ibunya yang menatap sekilas lalu kembali sibuk melayani pembeli.
"Itu banyak banget bungkusnya buat siapa Bu?"
"Tuh punya Pak Slamet kasihan, sebenarnya dia beli cuma lima ribu katanya ngidam istrinya mau makan nasi kuningnya Ibu."
"Namun Ibu tahu kok, mereka ingin merasakan nasi kuning ini biarlah kasihan anak-anak mereka kelaparan," jawab Bu Yati yang sibuk membungkuskan terpisah lauknya supaya bisa dipanaskan untuk makan sore dan malam di keluarga Pak Slamet.
Setelah selesai Bu Yati memberikan satu kantung plastik berwarna hitam agak besar kepada Pak Slamet, tentu saja dia sangat kaget padahal dia hanya membeli dengan uang lima ribu saja.
"Ini Mat, numpung sepi, ambil cepat, ada lauknya saya pisahkan biar nanti di rumah dipanasi supaya nggak basi dan ini berasnya tinggal kamu masak di rumah juga sekalian Ibu bungkuskan satu-satu nasi kuningnya yo?"
"Loh Bu gimana saya mau bayar, wong uang saya cuma lima ribu saja, saya nggak mau ngutang takut nggak bisa bayar," sahutnya tegas.
"Loh siapa bilang saya jadikan utang, ini murni ikhlas lillahi ta'ala, cepat ambil nanti keburu ada yang lihat, pulang sana cepat kasih makan anak istrimu," titah Bu Yati.
"Mat, sebentar sampai lupa."
"Ada apa Bu!"
"Sini duduk sebentar, ada yang ingin saya omongin sebentar numpung belum banyak orang ini, duduk dulu."
Pak Slamet duduk kembali dan sekarang berhadapan dengan Bu Yati.
"Bukan maksud Ibu mau mencampuri urusan rumah tangga kalian, apa yang dikatakan Bu Sri tadi memang ada benarnya, bukan membela Bu Sri."
"Kalau memang Surti tidak bisa pakai alat KB gimana baiknya jangan sampai kalian punya anak, memang betul anak adalah rezeki, tapi lihat kondisi dan keadaan, kasihan anaknya juga toh kalau mati kelaparan gara-gara nggak bisa ngurus, kasihan juga dengan istrimu, Ibu lihat dia tambah kurus, Mat!"
"Pikirkanlah anak-anakmu yang sekarang didik dengan baik, jangan seperti kami yang terlanjur enak hidupnya, tapi sebagian anak-anak menjadi buta karena harta," jelas Ibu dengan bijak."
"Iya Bu, terima kasih nasehatnya mudah-mudahan ini yang terakhir Bu," jawab Pak Slamet dengan sopan.
"Iya Mat, apa yang dikatakan Ibu benar, jangan sampai kamu menelantarkan mereka, kasihan nanti masa depannya," sahut Pak Sugimin.
"Ya wes itu saja yang mau Ibu sampaikan, sekarang kamu pulang sana kasihan anak-anakmu pasti sudah lapar, jangan lupa langsung dipanasi supaya nggak basi," timpa Bu Yati lagi.
"Sekali lagi terima kasih banyak Pak, Ibu selama ini kalian yang selalu membantu kami, kalau gitu saya pamit pulang dulu, Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam!"
"Kasihan ya Pak si Slamet itu, percis kaya kita dulu masih anak kecil-kecil, jadi ingat zaman dulu," ucap Bu Yati yang mengenang masa lalu yang mana anak-anak mereka sebelum beranjak dewasa.
"Iya Bu, kapan ya anak-anak kita kembali ke jalannya, mudah-mudahan sebelum Bapak pergi mereka sudah kembali ke jalan yang lurus," sahut Pak Sugimin sambil memandang Pak Slamet sampai hilang dari pandangan matanya.
'Hus, ngomong apa sih Pak, nggak baik ngomong begitu," sahut Bu Yati.
"Pak, tadi katanya nggak enak badan, Ibu buatkan wedang jahe bentar ya?"
"Iya Bu, terima kasih."
"Oh ya Bu, itu siapa yang sama Ayu?"
"Nggak tahu juga Pak kayanya sih pemulung gitu, nggak apa-apa kasihan mereka," jawab Bu Yati sambil berlalu pergi ke dapur untuk membuat wedang jahe buat Pak Sugimin.
"Pak Sugimin memperhatikan dengan saksama kedua wanita itu, namun pikiran beliau ketika melihat kedua wanita itu sepertinya tidak asing dari mata Pak Sugimin.
"Kenapa Pak kok ngelihat kedua wanita itu langsung kaget, kenapa toh, Pak?" jawab istrinya yang sudah menyediakan wedang jahe kepada suaminya.
"Ibu nggak curiga, sepertinya Bapak kenal deh sama mereka, tapi siapa ya?"
"Mana Ibu tahu Pak."
"Ah, mungkin perasaan aku saja kali," jawab Pak Sugimin sambil berlalu pergi masuk ke dalam.
Silakan dimakan Bu, Mbak, kalau masih lapar jangan sungkan, kasih tahu saya saja," ucap Ayu sambil tersenyum.
"Loh kamu mau ke mana Nak, sini temani kami makan!" ajak Ibu tua itu.
"Nggak apa-apa Bu, kalau saya duduk di sini?" tanya Ayu balik.
"Nggak lah Mbak, tapi terima kasih sudah memberi kami makan, saya makan ya?" ucap wanita muda di sampingnya.
"Oh, silakan!”
"Nak ...."
"Ayu Bu nama sama Ayu."
"Oh, Nak Ayu, sempurna sesuai dengan namanya," kata wanita tua itu sambil melihat Ayu dari bawah sampai atas.
"Maaf maksud Ibu?"
"Oh, maaf maksud Ibu saya namamu cantik kaya orangnya," sahut wanita muda itu dengan tersenyum.
"Oh ya kalau Mbak siapa namanya?"
"Oh belum kenalan ya, maaf kelupaan sangking laparnya udah dua minggu nggak makan," jawab wanita muda itu sambil makan dengan lahapnya.
Ibu tua itu menginjak kaki anaknya, karena salah sebut kalau belum makan dua minggu padahal sebenarnya tiap hari makan enak.
"Augh! sakit Bu! ucapnya sedikit menahan rasa sakit.
"Ma-maaf maksud saya sudah dua hari belum makan, soalnya kalau sudah dua hari terasa seperti dua minggu gitu," ucap wanita muda itu cengengesan.
"Kenalkan nama saya Indah, sedangkan ini Ibu saya namanya Bu Nur."
"Ngomong-ngomong ibunya sudah lama jualan nasi kuning?" tanya Bu Nur setelah selesai makan dengan lahap tanpa ada tersisa satu nasi sekalipun di piringnya.
"Kata ibu sudah tiga puluh lima tahun yang lalu Bu," jawab Ayu tersenyum.
"Bu Nur mangut-mangut tanda mengerti.
"Terus Ayu udah nikah atau belum nih?" tanya pemulung wanita muda itu yang bernama Indah.
"Saya sebenarnya sudah menikah Mbak, cuma suami saya lagi ke luar kota!" ucapnya lagi.
"Wah, kasihannya di tinggal melulu, pasti rindu banget !"
"Baru kemarin Mbak di tinggal perginya, kata suami saya ada perlu di kota."
"Maaf Bu, kalian sepertinya bukan orang sini, di mana rumahnya Mbak?" selidik Ayu.
Seketika kedua wanita itu kaget, dan bingung harus mengatakan apa, untungnya saja wanita muda itu banyak akalnya sehingga mudah untuk berkilah atas pertanyaan yang dilontarkan kepada mereka.
"Iya Mbak, kami orang baru di sini, kami dari kampung sebelah, nggak tahu juga jalan kami menuju ke rumah Mbak Ayu, ternyata yang orang bilang kalau keluarga kalian sangat baik," jawab wanita muda itu tersenyum.
"Bu Nur sama Mbak Indah di sini dulu juga nggak apa-apa, saya mau bantu ibu lagi kasihan sendirian," sahut Ayu sambil beranjak berdiri dari tempat duduknya.
"Oh ya nggak apa-apa silakan, kami mau istirahat sebentar, habis ini kami mau melanjutkan mencari barang bekas agar bisa di jual," ucap Bu Nur.
"Silakan Bu, oh ya Bu, kalau Ibu dan Mbak indah mau kebetulan saya banyak botol plastik bekas."
"Boleh-boleh, sekali lagi terima kasih ya Mbak Ayu."
"Sama-sama, sebentar saya ambilkan dulu botol plastiknya," jawab Ayu dan bergegas mengambilkannya.
"Kenapa Yu?"
"Itu Pak, Ayu mau ngasih botol bekas ini buat mereka yang di depan, katanya sudah dari tadi belum dapat barang bekas, kasihan Pak!"
"Oh gitu, ya wes sini Bapak bantu ngangkat!"
"Nggak usah Pak, enteng kok nanti pinggang Bapak kumat lagi, Bapak istirahat saja di kamar biar urusan warung Ibu, Ayu yang hendel."
"Makasih ya Nduk."
"Ih Bapak ini kaya Ayu orang lain saja, udah ah Ayu angkat dulu kasihan Ibu sendirian di luar," ucapnya sembari membawa botol bekas itu.
Sampai di luar Ayu langsung memasukkan botol-botol itu ke dalam karung beras mereka.
Dan tak lupa ternyata Bu Yati sudah membungkuskan nasi beserta lauknya secara terpisah agar tidak basi dan memberikan ke Ayu untuk diserahkan ke Bu Nur dan Indah.