"Loh ini apa lagi Yu, kami kan sudah makan gratis terus dapat barang bekas, terus ini lagi" tanya Bu Nur heran.
"Iya Bu, ini titipan dari Ibunya Ayu, jangan di tolak pamali, kata Ibu buat bekal di jalan."
"Wah terima kasih banyak ya Yu, memang nggak salah Iki memilih istri seperti kamu," ucap Bu Nur keceplosan.
"Apa Bu?"
"Oh bukan maksud ibu saya, kamu mengingatkan adik saya yang sudah lama meninggal, sifatnya mirip seperti kamu Mbak Ayu," kilah Indah sedikit gugup.
"Kalau begitu saya tinggal dulu Bu Nur, Mbak Indah lagi banyak pembeli, kasihan Ibu kewalahan, permisi!"
"Iya, nggak apa-apa titip salam buat Ibunya, terima kasih banyak besan, eh salah mak-maksudnya ibumu!" ucap Bu Nur keceplosan.
"Iya, Bu," sahut Ayu sembari meninggalkan mereka berdua dengan sedikit bingung.
Bu Nur dan Indah tersenyum bahagia melihat Ayu secara jelas di depan mata mereka berdua.
Selang beberapa menit Bu Nur dan Indah pergi dari warung itu, karena make up nya mulai luntur karena keringat.
"Gimana penyamaran kita, sukses dong Mah, nggak ada yang kenal dengan kita, kaya kita detektif sungguhan," ucap Indah dengan bahagia.
"Benar banget kamu sayang, ternyata Iki memang nggak salah mencari istri betul-betul ferfecto," sahut Bu Nur dengan mengacungkan jempolnya.
"Tadi hampir saja ketahuan, Mamah sih pakai acara salah ngomong," ucap Indah ketus.
"Kamu juga mana ada orang masih hidup nggak makan selama dua minggu!" sahut Buk Nur tak mau kalah.
Mereka pun lama-lama tertawa terbahak-bahak sendiri. Mengingat mereka menyamar menjadi pemulung, tak membuat Ayu risih ata jijik saat pemulung itu masuk ke warungnya.
"Terus botol-botol ini mau di kemanakan Mah, nggak mungkinkan kita bawa pulang?" tanya Indah dengan bingung.
"Iya sih, kita cari pemulung benaran terus kita kasih deh boto-botol ini, kita jadi ketiban rezeki juga, terus nasi tadi kasihkan juga, nanti takut nggak ada yang makan," jawab Ibu Nur.
Ya, mereka adalah Tante Nurma yang menyamar sebagai Bu Nur dan anaknya Indah yang tak lain adalah Linda sepupunya Rizki.
Mereka hanya ingin membuktikan bahwa apa yang dikatakan Rizki tentang keluarga istrinya sangat benar.
Tante Nurma sangat suka dengan pilihan Rizki selain cantik dan nggak neko-neko serta berjiwa sosial.
Bahkan saat mereka dihina di depan orang banyak mereka menganggapnya dengan santai, pantas saja Rizki sangat mencintai keluarga istrinya.
"Huh, ternyata menyamar begini cape banget Mah, butuh perjuangan," keluh Linda.
"Jadi enakkan mana jadi orang kaya yang banyak harta atau orang miskin kaya hati?" tanya Tante Nurma.
"Kalau kaya banyak uang sih enak, mau beli apa saja bisa tinggal bayar cuma kita nggak bisa mengontrol belanja apalagi yang limitid edition biar mahal tancap gas, ada kepuasan tersendiri, dan kadang bisa menjerumuskan manusia kepada hal-hal negatif, kalau tidak terkontrol."
"Kalau miskin memang paling ngeselin, mau beli yang kita mau susah harus mutar otak dulu, bisa kepala jadi kaki, kaki jadi kepala sangking pusingnya mikirin yang namanya uang, tetapi biasanya lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta."
"Kenapa Mah, kok bengong ada yang salah?" tanya Linda bingung.
"Nggak, cuma heran saja selain anak Mamah ini pintar masak mulai pintar ngomong ya," jawab mamahnya tersenyum.
"Ya iyalah Mah, secara kita ini orang kaya tapi untungnya kita masih bisa melihat ke bawah, karena kita juga pernah mengalami fase-fase itu, ya di hina, dicaci maki, direndahkan , tapi sekarang kita bisa menikmati hasilnya, iya kan Mah?"
"Weh pintar anak Mamah ini, salut deh sama kamu Sayang, memang tidak semua bisa di beli dengan uang seperti kebahagiaan."
"Seperti Rizki dia haus kasih sayang, tidak pernah mendapatkan perhatian dan kasih sayang mereka sibuk dengan dunianya masing-masing, untung saja Rizki masih bisa menganggap mereka orang tua apalagi dengan peristiwa kecelakaan itu."
"Oh ya Mah, gimana sudah keadaan Om sama Tante ya, sudah siuman atau belum sih Mah?"
"Belum sih, dua-duanya masih koma, mudah-mudahan mereka cepat sembuh ya, biarkan saja Rizki mengurus orang tuanya dulu, siapa tahu dengan peristiwa ini mereka lebih dekat satu sama lain."
Tak lama kemudian suara ponsel dari Tante Nurma berbunyi.
"Siapa Mah, yang nelpon?"
"Rizki, sebentar Mama pakai speaker dulu,
@Tante Nurma
{Assalamualaikum, Ki}
@Riski
{Walaikumsalam, gimana pendapat Tante tentang Ayu}
@Tante Nurma
{Oke, kamu memang pintar cari istri, pertahankan ya, jangan sampai si ambil orang}
@Riski
{Siap Tante}
@Tante Nurma
{Ki, tapi Tante nggak suka dengan namanya Pak Sukirman itu, kemarin waktu nikahan anaknya begitu eh ternyata lebih parah lagi}
@Riski
{Pasti menghina mertuaku lagi iya kan? jangan khawatir Tan setelah urusan di sini selesai, Riski akan balik dengan nama Riskiansyah Wiranata pewaris tunggal kerajaan bisnis kita.}
{Bahkan yang dulu menghina kami, mereka harus meminta maaf terutama kepada kedua mertua Iki itu}
{Iki, ingin bermain-main dulu dengan kakak-kakaknya Ayu yang sok banget jadi orang}
@Tante Nurma
{Iya deh terserah kamu, tapi yang jelas kami sangat sayang sama kalian, jangan pernah lagi meninggalkan keluarga besar mu ini}
@Riski
{Iya Tanteku yang cantik, oh ya kalian berapa hari di sana?}
@Linda
{Nah berhubung kamu sudah di sana dengan Mas Wisnu, kita mengajukan cuti, mau berlibur di kampungmu ini, mau lihat seberapa mereka peduli dengan sesama, apalagi seperti kami pemulung}
{Mbak, penasaran dengan mereka, waktu nikahan di gedung mereka kelihatan ramah dan baik, kalau sekarang mana tau, iyakan Mah}
@Tante Nurma
{ Nggak apa-apa kan, tapi nanti kalau ada apa-apa segera hubungi kami, oh satu lagi itu si Rangga yang kemarin nikahan berapa hari dia mengambil cuti?}
@Riski
{Iya terserah Tante sama Mbak Linda saja, yang penting jangan pernah sebut nama Iki ya, biar menjadi Supprise ketika sudah tepat waktunya.}
{Terus kalau menurut catatan sih 3 harian Tan, memang kenapa Tan}
@Tante Nurma
{Nggak apa-apa, Tante mati in dulu teleponnya nanti takut ada yang dengar lagian mana ada pemulung punya HP canggih kaya gini bisa curiga orang}
{ Ki, kamu juga jaga kesehatan, urusan keluarga istrimu biar kami yang hendel, oke}
@Riski
{Iya, terserah kalian saja}
@Tante Nurma
{Assalamualaikum}
@Riski
{Walaikumsalam}
"Ayuk kita lanjut jalan sekalian cari orang pemulung asli yang mau dikasih botol-botol bekas ini, sekalian bawa ya Sayang, Mamah cape bawanya pundak Mamah sakit, tuh kamu lihat sendirikan Ayu saja sangat berbakti kepada orang tuanya masa kamu nggak sih?" goda Mamahnya.
"Iya Mah, apa sih yang nggak buat Mamah tersayang?" jawab Linda tersenyum kecut.
Mereka pun berjalan pelan-pelan mengitari area kampung dan sambil memperhatikan sekelilingnya.
"Mah apa sebaiknya kita cari kontrakan gitu, nanti kita diusir lagi sama satpol PP karena berkeliaran di tengah jalan," tanya Linda khawatir.
"Betul juga sih, tapi kita cari pemulung dulu nih Mamah capek banget jalan, apa kita naik taksi online saja ya?"
"Ya elah Mamah, mana ada pemulung naik taksi online, orang pada curiga ini orang waras apa nggak?"
"Oh jadi kamu ngatain Mamah sudah nggak waras gitu?"
"Ya, maaf Mah, lagian Mamah ada-ada saja mau naik taksi online ketahuan dong penyamaran kita, atau Mamah tunggu di sana saja ada tempat duduk, nanti Linda cari informasi di mana tempat-tempat orang miskin berkumpul eh maksudnya orang-orang yang sering mulung Mah!"
Linda pun meninggalkan Mamahnya sebentar untuk mencari kawasan daerah yang sering dikunjungi untuk menyetor barang-barang bekas itu.
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, saat di tengah jalan dia melihat seorang anak kecil sedang mencari sesuatu di dalan tong sampah milik salah satu warga daerah sekitar itu.
Tampak anak laki-laki itu membawa di pundaknya sebuah karung besar dan mengorek-ngorek bak sampah.
Linda memperhatikannya dari jauh, ternyata anak laki-laki itu mengambil sebuah kantong plastik putih, dia mengendusnya lalu membuka kantong plastik itu, ternyata isinya adalah sepotong roti sisa gigitan seseorang.
Anak laki-laki itu ingin memakannya karena dia selalu memegang perutnya mungkin perih belum makan, saat hendak memakannya tiba-tiba terdengar suara dari dalam rumah itu.
"Hey, kamu ngapain ngorek-ngorek sampah saya, kamu mau maling ya!" hardiknya dengan suara lantang.
Anak laki-laki itu nampak ketakutan dan berdiam diri sambil memegang perutnya menahan lapar.
"Ma-maaf Pak saya hanya mau mengambil sisa makanan ini untuk perut saya, saya la-lapar," ucapnya sambil merintih kesakitan.
"Bukan urusan saya, memang saya Bapakmu apa!"
"Minta Bapakmu beli makanan sana, jangan di rumah orang, lihat tuh sampah saya jadi berantakan, nggak ada barang bekas di sini, sana pergi atau saya teriaki kamu maling, masih kecil sudah jadi pemulung, gimana besarnya kamu mungkin tetap menjadi pemulung juga kali ya ... hahaha..." tawa Laki-laki tua itu tak lain adalah Pak Sukirman.
Betapa terkejutnya Linda ternyata yang punya rumah itu adalah Pak Sukirman yang sombong bin angkuh.
"Dasar bandot tua, nggak ingat mati ini orang, kecil juga dimarahi, perlu dikasih pelajaran ini Pak Sukirman ini, mulutnya pedas kaya cabe," gerutu Linda dengan tersenyum licik.