SEPENGGAL MASA LALU
Dia sudah merasa siap dan cantik. Jantungnya berdegup begitu kencang. Selama hampir dua jam mencoba untuk mempersiapkan diri. Seperti menanti sebuah ujian yang akan menentukan jalan hidupnya. Atau kisahnya selanjutnya.
Menatap sekali lagi wajahnya di depan kaca kecil yang dipegangnya. Bahkan dia khusus memesan baju yang sekarang dipakainya. Long dress berbahan organza dengan detail cape yang menjuntai, Gaun ini khusus dipesannya di butik kesayangan. Tak mau menyia-nyiakanmoment penting yang mungkin hanya terjadi satu kali seumur hidup.
Sabrina menegakkan tubuh. Mengatur degup jantung yang mulai tak beraturan. Menatap seseorang yang dinantikannya. Setiap lima menit dia menatap pintu café tempat mereka malam ini bertemu.
Pria yang telah dinantikannya, adalah pria yang memeluk hatinya. Pria yang sudah berhasil membuat seluruh jiwa dan hatinya takluk. Sabrina sudah menyerahkan seluruh hidupnya untuk pria yang saat ini dinantikannya. Yang baru beberapa malam yang lalu mengucapkan kata cinta untuknya dan mengajak segera menikah.
Brina kembali menghela napas, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. Menatap sekeliling café tempatnya duduk. Revan mengajaknya bertemu. Semalam pria itu menelepon setelah kepulangannya dari tugas dinas di luar kota. Rindu yang membuncah langsung melingkupi hati.
Revan memang sudah menjadi kekasihnya lebih dari dua tahun. Sejak pria itu melamarnya untuk menjadi kekasih, pria itu mengindikasikan kalau hubungan mereka harus dilanjutkan ke jenjang pernikahan. Tapi Sabrina selalu menolak dengan alasan dia masih ingin meniti karier. Dan pria itu menunggu dan menunggu. Maka saat Revan sekali lagi mengindikasikan akan membawa hubungan ini ke jenjang pernikahan, Sabrina akhirnya menyiapkan diri. Dia akan menerima jika pria itu melamarnya. Bisa dipastikan malam ini pria itu memang akan melamarnya. Walau dia masih ragu untuk menjalani pernikahan. Setidaknya dia sudah siap dilamar.
Suara pintu café yang memberitahukan bila ada seseorang masuk membuat Brina menoleh. Sudah siap menyambut kedatangan Revan. Tapi di sana, pria yang tengah mengedarkan pandangan itu memang Revan. Hanya saja Brina kecewa karena Revan tak serapi yang dia harapkan. Kenapa pria itu tampak lusuh saat ini? Dengan jeans belel dan kemeja yang dipakai serampangan. Revan melihat tempat duduknya dan langsung melangkah mendekatinya.
Brina menghela napas saat pria itu sampai di depannya. Mencondongkan tubuh untuk mencium pipinya. Brina mengangkat tangan dan mengusap wajah Revan yang tampak muram itu.
“Kamu baik-baik saja?” Brina melihat sekilas Revan tampak terkejut dengan pertanyaannya. Tapi kemudian pria itu tersenyum dan mengangguk.
“Aku baik dan aku merindukanmu.” Revan mengusap rambutnya dengan sayang. Lalu bergeser untuk mengambil duduk di sebelahnya. Di sofa warna merah yang menjadi khas café ini. Brina langsung menggenggam jemari Revan yang terasa begitu dingin saat ini.
“I miss you,” bisiknya manja. Revan kembali menatapnya dengan tatapan yang tak bisa dibacanya saat ini. Sungguh dia tak mengerti dengan sikap Revan yang sepertinya menjaga jarak kepadanya.
Revan hanya tersenyum tipis, lalu menggenggam jemarinya dengan lebih erat.
“Sab, ada yang mau aku bicarakan.”
Jantung Brina langsung berdegup begitu kencang mendengar ucapan Revan. Dia sudah menantikan saat ini. Lamaran resmi pria itu. Bahkan menginginkan pertemuan di café paling romantis di kota ini. Hati Brina membuncah bahagia.
Mencoba untuk mengurangi kegugupannya, Brina menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajahnya. Sehingga membuat leher jenjangnya yang putih mulus terekspos. Dia tahu Revan menyukai hal itu. Biasanya pria itu akan langsung menariknya ke dalam pelukan dan mulai…
Tapi Brina tersadar saat ini Revan bahkan tak melihatnya. Pria itu menunduk. Lebih tertarik pada hiasan bunga yang ada di atas meja.
“Maaf, bisakah kami catat sekarang pesanan Anda?” Suara pramusaji membuat Brina dan Revan langsung menoleh kepada pria yang tersenyum ramah kepada mereka berdua. Sejak datang tadi Brina memang belum memesan apapun.
“Kopi hitam satu dan kamu?” Revan menoleh kepadanya untuk memesankan sesuatu. Dan Brina hampir terkejut karena biasanya Revan selalu hafal dengan minuman kesukaannya. Milkshake strawberry.
“Milkshake strawberry,”jawab Brina datar. Lalu pramusaji itu mencatat pesanannya.
“Ada yang lainnya?” Brina baru akan menjawab pertanyaan pramusaji itu tapi Revan sudah mengangkat tangannya.
“Ini dulu.”
Pramusaji itu tersenyum dan menyuruh mereka untuk menunggu beberapa menit.
“Kamu kenapa?” Brina akhirnya menatap Revan yang tampak gelisah lagi. Pria itu menyugar rambutnya beberapa kali. Tampak tak nyaman berada di sebelahnya. Ataukah Revan juga sama gugupnya dengannya saat ini?
“Sab.” Revan kini berbalik untuk menghadap sepenuhnya. Pria itu tampak tak menatapnya dengan benar. Sesekali dia menyugar rambutnya, lalu mengerutkan kening. Membuat Brina tak bisa menduga apa yang akan diucapkan pria itu.
“Aku akan menikah.” Secepat kata itu diucapkan secepat itu pula Brina menangkapnya dan langsung menatap Revan dengan mata berbinar. Dia menduga sikap Revan yang aneh itu karena memang akan mengatakan itu. Brina bahkan tak bisa mencegah air mata yang mulai mengumpul dipelupuk. Tapi kemudian dia melihat Revan tampak sangat muram. Pria itu bahkan menggelengkan kepala. Lalu menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Aku bodoh. Aku bodoh. Malam itu aku…”
Brina tak mengerti apa yang diucapkan pria di depannya ini. Malam apa?
Perhatian mereka teralih saat pramusaji tadi mengantarkan pesanan mereka. Brina langsung menarik milkshake yang tersaji di depannya. Merasakan rasa dingin dan manis asam itu menerpa tenggorokannya. Kemudian kembali beralih kepada Revan.
“Apa yang kamu ucapkan? Aku tahu kamu memang ingin kita menikah secepatnya. Aku tahu, tapi aku kira ini hanya lamaran biasa.”
Sebelum Brina meneruskan ucapannya dia melihat Revan kini menatapnya dengan bingung. Pria itu mengerti, ada pemahaman di sana. Dan Brina merasakan ada firasat buruk yang menyelisik relung hatinya.
“Sabrina… Kamu tahu aku mencintaimu. Sangat mencintamu.” Revan tampak begitu menderita saat menarik jemarinya dan menautkannya. Tangan itu masih terasa begitu dingin. Kegugupan Revan saat ini menambah Brina makin mengerti kalau apa yang akan diungkapkan Revan saat ini bukan kabar baik.
“Sampai kapan pun kamulah wanita yang sudah membuat hari-hariku bahagia. Hanya kamu.”
Suara Revan menghilang saat pria itu mengecupi satu persatu jemarinya. Hancur sudah harapan Brina. Hatinya mengantisipasi dengan cepat apa yang akan terjadi. Dia tahu kalau hal itu akan sangat menyakitkan.
“Kamu akan menikah dengan siapa?” Akhirnya suaranya terdengar begitu lirih. Tenggorokannya sudah tercekat dan terasa menyakitkan. Saat melihat Revan tak berani menatapnya. Pria itu menangis. Dia tahu inilah akhir dari segalanya.
Sabrina langsung beranjak dari sofa. Mengambil tas yang ada di sampingnya. Dia akan segera pergi, sebelum dia sendiri mempermalukan dirinya. Dia pikir malam ini akan menjadi malam istimewa untuknya. Tapi ternyata…
“Sab, maafkan aku. Sab…” Tarikan tangan Revan saat dia akan melangkah keluar dari tempatnya berdiri membuat Sabrina akhirnya menatap Revan yang masih duduk memucat di depannya.
“Jangan katakan apapun kepadaku lagi. Jangan pernah lagi!”