BAB 01 SERIUS?

904 Kata
Sabrina merasa sedikit bingung. Bukannya tak mengerti apa yang dikatakan Brian kemarin saat istirahat makan siang. Tapi hanya begitu, pria itu tak meliriknya lagi. Atau katakanlah dia menggoda Brina ketika berpapasan di kantor. Bahkan saat Sabrina tak sengaja melewati kubikel pria itu. Sabrina sempat dibuat jengkel, karena Brian bisa-bisanya tak melihat sedikit pun kepadanya. Brian asyik berbincang-bincang dengan Doni dan Arya, salah satu timnya. Sudah tiga hari berlalu sejak lamaran konyol itu. Dan Sabrina merasa pria itu hanya main-main dengannya. Atau mungkin dia hanya dijadikan bahan taruhan, mungkin. Mengingat dirinya memang sering menjadi sasaran empuk para pria, yang menganggapnya perawan tua, suka pilih-pilih dan lain-lainnya. Karena dia sendiri memang tak memungkiri kalau di usianya yang tak bisa dibilang muda lagi itu, masih melajang. “Bri, pulang aku nebeng ya. Si Bima mobilnya mogok. Aku harus pulang naik busway. Maleslah.” Brina mengangkat wajah dari layar komputer. Sore ini dia memang seharian berada di dalam ruangan. Karena sudah akhir bulan dan hal itu membuatnya terlalu sibuk untuk mengerjakan semuanya. Wajah Ayu, sahabat sekaligus asistennya kini sudah ada di balik pintu. Wanita itu memamerkan senyum rayuannya. “Ehm gitu ya, kalau Bima nggak jemput larinya ke aku. Coba aja kalau pangeranmu itu bisa pasti kamu udah lupa sama aku.” Brina mencibir dan membereskan semuanya. Sore ini dia ingin pulang cepat. Ingin segera menenggelamkan tubuhnya yang begitu lelah di atas kasur. “Aih Ibu Bos gitu, deh, ya. Nggak boleh dendam, loh, Brin. Pokoknya aku nebeng mobilmu. Titik. Awas kalau aku ditinggal, tungguin di tempat parkir ya.” Sebelum Brina menjawab, Ayu sudah menghilang dari balik pintu dan menutup pintu dengan keras. Brina hanya bisa menghela napas. Tapi kemudian tersenyum tipis. Bagaimanapun Ayulah sahabat yang paling mengerti dirinya. Sabrina segera membereskan semuanya, memasukkan ponsel ke dalam tas selempang, mematikan komputer, lalu beranjak dari kursi. Tak lupa sweater marun yang dia sampirkan di sandaran kursi dan memakainya sebelum meninggalkan ruangan. Tapi saat sweater itu sudah masuk ke dalam tubuhnya dan Brina mulai merapikannya, dia hampir memekik saat melihat Brian sudah berdiri dengan tenang di hadapannya, di dalam ruangannya. Mereka hanya dibatasi oleh meja kerja Brina yang teronggok di antara mereka. “Astaga!” Brina mengusap d**a melihat Brian tersenyum meminta maaf. “Maaf aku mengejutkanmu.” Brina langsung mengernyitkan kening mendengar nada tak sopan dari Brian. Pria itu masih karyawannya dan dia tak mau mendengar nada tak sopan pria itu. “Maaf Bu Brina, tapi saya rasa ini sudah waktunya jam pulang. Jadi saya tak perlu formal lagi, kan?” Brina ingin memukul wajah angkuh itu. Sungguh, baru kali ini dia menemui pria yang begitu sombongnya. “Jadi apa maumu?” Brina kini menarik tasnya dari atas meja dan segera menyelempangkannya. Brian tampak terdiam, tapi kali ini menatapnya dengan tatapan melembut. Tak lagi memberikan tatapan angkuh kepadanya. “Ehem, mau mengajak kamu pergi keluar.” Suara Brian yang begitu tegas dan tanpa malu itu membuat Brina sekali lagi mengerutkan kening. Tapi sebelum Brina menjawab, pria itu sudah mengambil sesuatu dari dalam saku kemejanya. “Please, aku sudah memesan tiket ini sejak satu bulan yang lalu.” Kali ini Brina tak bisa berkutik. Melihat wajah Brian yang seperti anak kecil meminta permen. *** Brina kini merasa berada di tengah orang-orang asing. Tepatnya mereka atau katakanlah dia dan Brian. Dan teman-teman yang baru dikenalkan pria itu kepadanya. Di sebuah café, dan sedang menonton Jazz Live Show. Dia memang suka dengan musik Jaz, tapi bagaimana pria di sampingnya itu bisa tahu tentang selera musiknya? “Brina dan Brian. Keren deh ya. Kenapa bisa serasi gitu? Lu, sih, Yan, nyembunyiin calon bini.” Sabrina tersedak cappucino saat mendengar celetukan teman Brian yang duduk di depannya. “Enggak. Bini itu bukan untuk di pamer-pamerin.” Suara Brian yang tegas sekali lagi membuat Brina kini menoleh kepada Brian yang tengah duduk di sebelahnya. Pria itu tampak berbeda kali ini. Dengan lengan kemeja yang sudah digulung sampai siku, juga rambut yang sudah acak-acakan, membuat wajah yang biasanya serius itu nampak berbeda. “Kamu nggak usah dengerin ocehan mereka.” Brian seketika menoleh padanya dan membuat Brina kembali tersedak. Tapi pria itu langsung menepuk-nepuk punggungnya. Merasakan tepukan tangan yang mengirimkan gelenyar panas pada tubuhnya, membuat Brina merona merah. “Pokoknya ni, ya, Yan, kamu harus segera nyebarin undangan. Jangan kalah sama si Ubay kucay itu.” Salah satu temannya yang lain membuat Brian kini menyeringai lebar. Lalu Brina merasakan lagi tangannya digenggam oleh Brian. Pria itu mengerlingkan mata saat dia akan memprotes. “Iya segera halal.” *** “Aku antar sampai rumah saja ya? Mobil kamu aman kok di parkir basement kantor. Besok pagi aku jemput.” Brian mengucapkan itu saat mereka baru saja masuk ke dalam mobil. Brina melirik jam yang melingkar di tangan. Sudah jam sebelas malam. Sudah tidak mungkin lagi kembali ke kantor dan membawa mobilnya. Dia akhirnya mengangguk mengiyakan. Brian langsung tersenyum lebar. “ Ehm be ready sabtu sore, ya, kalau begitu.” Brina menoleh kepada Brian yang kini mulai melajukan mobilnya itu. Brina tak suka dengan sikap perintah Brian. Dia merasa baru mengenal Brian dan pria itu sudah seenaknya sendiri ingin memerintahkannya. “Sudah aku perjelas kalau aku tidak mau menerima lamaranmu. Kita hanya teman.” Brina mengucapkan itu dengan penegasan. Tapi Brian sepertinya tak mau mengerti karena pria itu hanya menggelengkan kepala. “Sabrina Sayang, sudah saatnya kamu menikah. Kamu perlu teman seumur hidup. Dan aku bersedia menjadi temanmu dan menghabiskan sisa hidupku denganmu. Be my wife!”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN