BAB 05 IAM CRAZY

1304 Kata
Brina benar-benar tak bisa membendung emosinya. Bocah songong itu sudah melanggar teritorinya, wilayah kekuasaannya, dan juga privasinya. Sungguh, hal itu tak bisa didiamkan. Setelah mengacaukan pagi harinya, pria itu sisa harinya. Akibat dari pengumuman konyol itu, seluruh orang menyambutnya dengan berbagai opini. Banyak yang memberinya selamat. Tapi banyak juga yang mencibir, terutama karyawan wanita yang merasa kehilangan kesempatan untuk mendapatkan Brian. Tentu saja tak bisa dipungkiri kalau Brian itu pria yang tampan, muda, dan charming. Apalagi jarak usia mereka terpaut begitu jauh. Bisik-bisik langsung menyebar, dan mengatakan kalau Brina tak cocok dengan pria yang masih muda dari usianya. Para wanita mencibir, tapi para pria justru bersimpati kepadanya. Mereka tahu bagaimana kecantikan Brina. Meski terkenal susah didekati, tapi tidak menampik jika banyak karyawan pria yang mengidam-idamkan Brina menjadi istri mereka. Karena itu, mereka merasa patah hati ketika Brian mampu mendapatkan hati Brina. Gosip pun merebak dalam hitungan detik, dan setiap langkah Brina kini menjadi sorotan semua orang. Terbukti sampai istirahat di kantin kantor saat ini. “Heh, iye tahu yang mau nikah nih, yee. Tapi itu nasi goreng kenapa nggak dimakan?” Ayu menatap Brina bingung. Nasi goreng pesanan Brina yang masih utuh teronggok di depan mereka. Brina menatap Ayu kesal. Dia sebenarnya ingin segera melampiaskan emosi pada si biang keladi semua keonaran pagi ini. Sayang, pria itu masih dalam masa berkabungnya alias cuti. Brina benar-benar ingin mencekik bocah itu. “Kamu bilang kayak gitu sekali lagi, aku lakban itu mulut.” Brina melotot. Ayu menyeringai sebelum mengangkat tangan, mengalah. “Iya deh iya bercanda kali, Brin. Kamu mah kayak gitu. Lah tapi ya harusnya kamu bersyukur tuh dapat berondong jagung kayak si Brian. Gosipnya nih, tuh anak baru aja matahin hatinya si Sella, tahu kan? Primadona staf administrasi itu, loh. Yang body-nya kayak gitar. Yang katanya blasteran luar negeri. Yang matanya ijo kayak kucing ... yang ....” Brina langsung mengangkat tangan untuk menghentikan ocehan Ayu yang makin merajalela ke mana-mana. Dia memang tahu sedikit siapa Sella yang sekarang dibicarakan Ayu. Tapi persetanlah dengan cewek itu, dia urusannya sekarang dengan Brian, si biang kerok dari semua ini. “Tuh kamu sensi lagi, kayak kucing mau beranak tahu, nggak?” Ayu memonyongkan bibirnya dan membuat Brina makin pusing. Apalagi ditambah kasak-kusuk yang saat ini berdengung di sekitarnya. “Penasaran deh, itu anak kenapa bisa langsung ngelamar kamu? Terus ngajakin nikah, serius gitu?” Ayu kembali membuat Brina makin marah. Sahabatnya itu sejak tadi pagi terus menanyakan hal yang sama, membuat Brina makin emosi. “Aku potong gaji kamu kalau masih nanyain kronologis si songong itu ngelamar. Pokoknya saat ini aku butuh bantuan buat ngerujak itu bocah. Kamu bukannya bantuin malah makin buat kesal.” Brina meneguk lagi tehnya dan langsung beranjak berdiri. “Eehhh mau ke mana?” “Pulaaang.” Bentaknya galak dan langsung membuat seluruh orang yang ada di kantin menoleh ke arahnya. Brina malu dan tanpa memedulikan ocehan sahabatnya, dia beranjak keluar dari kantin. Dia perlu ketemu Brian saat ini juga. *** Brina menghentikan mobil tepat di depan rumah bernomor 45D yang berwarna biru langit. Dia kembali mencocokkan alamat yang tertulis di kertas memo yang kini ada di tangan. Hari ini dia memang tak jadi pulang awal, tapi begitu jam pulang dia langsung menghambur ke ruangan Pak Hasan. Supervisor Brian itu menyambutnya dengan ramah. Dan dengan senang hati memberikan alamat Brian kepadanya. Meski Pak Hasan mengira dia memang sangat ingin bertemu dengan Brian. Menghela napas, Brina keluar dari dalam mobil. Meski amarahnya sudah sampai ke ubun-ubun, tapi saat ini dia masih ragu untuk menemui pria itu. Bukan karena apa-apa, hanya saja pria itu bisa membuat Brina kehilangan akal dalam sekejap. Brina melangkah memasuki rumah minimalis Brian―yang tidak menggambarkan jika Brian seorang yang kaya, cocok untuk karyawan biasa macam laki-laki itu. Rumput hijau menyambutnya ketika dia membuka pagar kayu. Seulas senyum tersungging ketika dia melihat halaman rumah Brian yang dipenuhi beberapa bunga dan tanaman hijau lainnya. Benar-benar asri, pikir Brina. Jantung Brina berdegup kencang ketika kakinya sudah berhenti di depan pintu kayu bercat biru langit, senada dengan warna dinding rumah Brian. Menarik napas dalam, Brina menguatkan hati. Dia beranikan diri untuk mengetuk pintu sebelum melayangkan pandangan ke sekitar halaman rumah, menikmati keindahan bunga-bunga yang mungkin saja koleksi mama Brian. Sembari menunggu, Brina membenarkan tatanan rambutnya yang berantakan. Dia embuskan napas lagi, menata laju jantung yang semakin naik seiring waktu berjalan menunggu sang pemilik rumah membuka pintu sialan di depannya. Tangan Brina terangkat hendak mengetuk lagi, tapi terhenti ketika pintu depannya terbuka. Menampilkan sosok yang membuat harinya kacau. Napas Brina tercekat melihat Brian yang begitu tampan berdiri di depannya dengan balutan kaos polo warna hitam dan celana selutut. Rambut basah Brian yang masih mengalirkan air membasahi leher pria itu, membuatnya nampak begitu seksi di mata Brina. Sesaat, Brina merasakan delusi dan lupa akan tujuannya datang ke rumah Brian. “Eh, Sayang. Loh, aku baru aja mau jemput.” Ucapan Brian mengembalikan Brina pada dunia nyata. Laki-laki itu tampak ingin maju untuk memeluknya, tapi terhenti ketika Brina mengangkat tangan. “Aku ke sini bukan untuk basa-basi sama kamu. Minggir. Kita harus bicara.” Saat Brian masih tampak bingung, Brina menunjuk belakangnya. “Now!” Pria itu mengangkat bahu dan bergeser sedikit ke samping untuk memberi jalan Brina masuk ke dalam rumah. Dengan cepat, Brina menerobos masuk dan langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa berwarna putih yang ada di tengah ruangan. “Sekarang jelaskan padaku apa maksudmu memasang ini?” Brina menjatuhkan kertas yang tadi pagi tertempel di dinding mading kantor. Brian menatapnya lalu menatap kertas itu sebelum duduk di depannya dan tersenyum. “Ahhh kamu cantik banget kalau marah begitu.” Brina memberi tatapan tajam pada Brian. “Gila! Kamu itu sebenarnya paham, nggak, sih sama yang kamu lakuin? Kamu itu udah buat aku malu di kantor. Dan dengan seenaknya aja sekarang kamu santai di rumah dan ... dan ....” Brina benar-benar tidak bisa mengungkapkan semua kekesalannya. Dia tatap Brian yang masih ada di depannya. Ekspresi laki-laki itu benar-benar membuatnya kesal. Terlebih seringaian yang tampil menghiasi bibir pria itu. Brina benar-benar ingin merobek bibir itu agar tidak bisa menyeringai seperti itu untuk mengungkapkan kekesalannya. “Itu, kan pengumuman biar semua orang tahu kalau kamu itu milikku, Sayang.” Ucapan Brian semakin membuat Brina menggelengkan kepala. Dia mengangkat tangan dan menyerah putus asa. “Aku gila.” Melihat Brian dengan begitu saja beranjak dan meninggalkannya, membuat Brina beranjak juga, lalu melangkah mengikuti Brian yang menghilang ke balik tirai. “Woii! Aku belum selesai bicara sama kamu. Nggak boleh seenaknya begitu.” Brina berhenti secara tiba-tiba saat melihat Brian mengambil botol berisi air dingin dari dalam lemari es yang ada di ruangan. Pria itu dengan santai melangkah ke arahnya. Dan menyerahkan botol itu kepadanya. “Minum dulu, kamu pasti haus.” Napas Brina memburu karena kesal, tapi saat melihat embun di botol itu dia langsung menelan ludah. Merebut dengan kasar botol itu, dia langsung membuka tutupnya dan meneguk isinya. Sensasi air dingin langsung mengalir di tenggorokan. “Kamu nggak boleh marah-marah, Sayang. Besok jelek, loh, pas nikahan. Tinggal besok loh, Sayang.” Dan tersedaklah Brina mendengar ucapan Brian. Rasa panas langsung menguasai tenggorokannya, hidungnya, dan dia terbatuk-batuk. Hal itu membuat Brian bergegas melangkah ke arahnya dan menepuk-nepuk punggungnya. “Apa maksudmu?” Brina kembali bersuara, menahan rasa panas yang masih terasa di bagian hidung dan tenggorokan. “Loh belum di kasih tahu mama kamu, ya? Besok kita nikah, Sayang.” Brina syok. Dia frustrasi. Ingin rasanya dia berlari dari tempat itu dan menghilang. Atau mengambil sesuatu dari laci meja di dekatnya. Sepertinya sebuah pisau kecil atau gunting cukup untuk mengiris nadinya. Meski akan terasa sakit, tapi dia pasti tahan. Namun, itu hanya sesaat. Brina menggeleng-gelengkan kepala saat pikiran gila itu tercetak jelas dan bergantian terbang di otaknya. Harinya kacau, penuh kejutan akibat ulah bocah songong yang berdiri di depannya. Laki-laki itu berhasil menskakmat dirinya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN