Menatap dua angsa yang tengah asyik mengibaskan sayapnya dan bermain di dalam air. Suara kicau burung menambah semarak suasana pagi ini. Menghirup teh hangat yang tersaji di depannya. Revan mencoba berdamai dengan semuanya, setelah mengejar apa yang seharusnya menjadi miliknya. Tapi akhirnya dia pulang dengan tangan hampa. Dia tak akan menyalahkan siapa pun. Karena itu semua bukan salah siapa pun. Hanya mungkin memang Sabrina Azzahra pernah menjadi jodohnya, dulu. Hanya sebatas sepasang kekasih. Setelah pulang dari London dua bulan lalu. Revan menenggelamkan diri dengan pekerjaan yang bisa membuatnya lupa akan rasa sesak di hati. Bagaimanapun dia masih mencintai Sabrina Azzahra. “Kenapa kamu ke sini?” Itu suara dingin seseorang. Revan memang tak terkejut dengan sambutan wanita itu. Saat
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


