“Jadi...” Deva menggaruk tengkuk dengan gelisah. Wajahnya pias dan basah keringat. Vhiya terkekeh sambil menutup mulut dengan sebelah tangan. Pemandangan Deva yang canggung adalah tontonan tak lazim yang menggelikan. Kemana perginya pria muda yang cerdas dan penuh kepercayaan diri? Hilang terseret gelombang grogi. “Dev,” Vhiya menyentuh bahu kiri Deva, “iya.” “Hah?” Deva termangu dengan mulut menganga. Vhiya tidak bisa menyembunyikan ledakan tawa yang menumpuk. Deva mencebik kesal lalu membuang muka ke halaman. “Oke, maaf.” Vhiya berhenti tertawa dan menarik napas panjang. “Lanjutin omongan tadi.” “Nggak ada,” balas Deva ketara sekali sedang ngambek. “Dev, yang tadi dilanjut. Please. Aku janji nggak akan ketawa,” bujuk Vhiya. “Yang kamu bilang ‘iya’ itu apa? Iya untuk apa?” Deva ma

