13

1345 Kata

Waktu kematian adalah rahasia takdir. Bahkan bagaimana prosesnya pun tidak melulu soal napas yang lepas dari raga. Aku merasakan kematian kecil di pagi ini. Ketika langkah sepatu pantofel pria mendekat dan seluruh mata penghuni lantai ini menyorotku, napasku serasa lepas seketika dari tenggorokan, dan jantungku mati rasa. “Vhiya.” Sapaan Deva yang terdengar seperti tebasan pedang pada leher. Nyeri. Aku meringis dan memaksakan senyum yang mungkin lebih mirip seringai orang menahan buang air. “Mulai sekarang kita kerja sekantor,” kata Deva luar biasa gembira. Aku ingin memutar kepalanya agar matanya difungsikan maksimal. Ada puluhan pasang mata yang terang-terangan mengamati tindakan kami. Tapi tindakan itu percuma. Aku sudah mencantumkan diri sebagai ‘Nyamuk bos’ Friska dan ‘Bermalam’ ber

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN