Mataku memindai orang-orang yang duduk di meja ini. Deva duduk di sebelah kananku, di sebelahnya terdapat Nadi, dan terapit aku dan Nadi, Tante Elya duduk. Makanan di piringku mulai dingin. Mulut dan perutku susah diajak berkompromi menghabiskan sarapan yang disajikan tuan rumah demi sopan santun. “Vhiya tinggal dimana?” tanya Tante Elya. Wajahnya masih seteduh ingatanku, meski garis keriput tipis mengisi sudut-sudut kecantikannya. Dia tetap memiliki pesona, sama halnya Deva. Ya Tuhan, apa yang aku katakan barusan? Nggak, Deva nggak menarik sama sekali! Dia sudah aku coret dalam daftar apapun yang bisa menyebabkannya masuk kembali dalam hidupku, kecuali dalam batas profesionalitas kerja. Mirisnya, aku malah duduk di sini. Di antara keluarganya. “Pindah rumah, Tan,” jawabku ragu. “Dia n

