7

1361 Kata

Kursi kayu di hadapanku berdecit karena gesekan. Mataku yang awalnya sudah nyaman melihat playground indoor kecil dalam restoran ayam cepat saji otomatis menoleh ke asal suara. Pria itu memamerkan senyum lebarnya. Mau tak mau, aku jadi ikut tersenyum. Bersamanya selalu mengembalikan sisi bahagia dalam hidupku. “Makan begini mulu. Jaga kesehatan dong, Kak.” Aku memajukan bibir bawah, memasang aksi ngambek pada pria kesayanganku. Athar Yusuf, adik laki-lakiku. Biasanya dia akan terkekeh melihat aksiku yang satu ini. Katanya, kekanakan tapi menggemaskan. Bagian favoritku setelah itu adalah elusan sayang di puncak kepalaku. Entah sejak kapan telapak tangan Athar menjadi besar dan hangat. Elusannya mengantar perasaan aman dan nyaman dalam dadaku. “Kakak kangen Adek. Adek nggak kangen Kakak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN