8

1159 Kata

“Kenapa kamu nggak angkat telepon aku? Nggak balas pesan aku juga?” “Nggak.” Belum sempat Deva membuka mulut lagi, Kang Amin datang dengan pesanan Friska plus tiga gelas teh hangat. Friska yang mengatur pembagian nasi bakar dan teh hangat. Lauk ditatanya di tengah meja. “Nggak apa, Vhi?” Deva kembali menarikku dalam percakapan kami. Nggak apa? Aku tidak tahu apa kelanjutan yang pantas aku berikan. Aku hanya ingin menjauh. Itu saja. “Aku mau jauh dari kamu,” jawabku terdengar seperti cicitan. Deva terkekeh geli. Sementara Friska terbatuk saat minum karena kaget mendengar jawabanku. Padahal aku memberikan jawaban jujur. “Gimana mungkin lo jauh dari Deva? Dia bakal jadi bos lo, eh bos gue juga deh.” Friska menutup celotehannya dengan helaan napas kasar yang dibuat-buat. Aku menatap na

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN