“Jangan sedih, Yas. Kapan-kapan kita bisa ketemu ayah kamu di Jerman. Aku ngerti perasaan kamu sekarang,” ujar Nayla saat pria yang duduk di sampingnya hanya memandangi orang-orang di sekeliling mereka. “Gak semudah itu, Nay. Gue udah bersumpah gak bakal nemuin Daddy sebelum gue bisa buktiin kebusukan istri kesayangannya.” Tangan Yasa mengepal kuat, dia merasakan sesak saat rindu untuk ayahnya merajam hati. Tapi, dia terlanjur mengucap janji. Bahkan di hari pernikahannya ini, Yasa seorang diri. Tak ada satu pun keluarga kandung yang datang. Karena dia masih dianggap mati oleh mereka. Jika bukan karena David dan ibunya, hari ini pastilah akan jadi hari paling bersejarah. Jujur saja, Yasa ingin menjadikan ini hari pernikahan yang pertama dan terakhir. Dia tidak ingin mengeluh dan berlari

